SURABAYA - Bursa transfer Super League 2025-2026 mulai memanas. Salah satu rumor yang paling menyita perhatian publik adalah kabar Joao Tavares masuk radar Persebaya Surabaya. Nama striker muda asal Brasil itu disebut-sebut menjadi incaran serius Green Force untuk menambah daya gedor lini depan. Tak hanya Persebaya, Persijap Jepara juga dikabarkan mengintai sang pemain.
Kabar Joao Tavares Persebaya Surabaya pertama kali mencuat lewat unggahan akun media sosial AT Transfer News SFT. Informasi tersebut langsung memantik spekulasi luas di kalangan Bonek, mengingat Persebaya memang membutuhkan tambahan amunisi di sektor penyerangan jelang bergulirnya kompetisi musim baru.
Pelatih Persebaya Surabaya, Bernardo Tavares, sejak awal menegaskan keinginannya membentuk skuad yang lebih kompetitif. Musim lalu, ia menilai timnya masih kerap kesulitan dalam duel fisik dan situasi bola mati. Oleh karena itu, perekrutan pemain dengan karakter kuat dan fleksibel menjadi prioritas utama.
Profil Joao Tavares, Striker Muda Berpengalaman Eropa
Joao Tavares dikenal sebagai penyerang depan tengah yang juga mampu bermain sebagai penyerang kedua maupun sayap kanan. Fleksibilitas ini menjadi nilai tambah besar bagi klub yang ingin memiliki variasi taktik di lini serang. Ia merupakan pemain berkaki dominan kanan dan cukup nyaman bermain dengan bola.
Menariknya, Joao Tavares memiliki pengalaman bermain di Eropa, sesuatu yang relatif jarang dimiliki striker asing di Super League. Jam terbang tersebut membuatnya dinilai memiliki naluri gol yang terus berkembang seiring usia dan pengalaman.
Saat ini, status Joao Tavares tercatat sebagai pemain Ipatinga FC sejak bergabung pada 2 Mei 2025. Kontraknya disebut tidak memiliki batas waktu jelas serta disertai opsi perpanjangan satu tahun. Kondisi itu membuat peluang transfernya masih sangat terbuka, termasuk ke Persebaya Surabaya.
Bagi Bernardo Tavares, sosok penyerang dengan mobilitas tinggi dan kemampuan pressing menjadi kebutuhan utama. Karakter ini dinilai cukup cocok dengan profil Joao Tavares, meski hingga kini manajemen belum memberikan pernyataan resmi.
Bernardo Tavares Tegaskan Dejan Tumbas Tetap Dipertahankan
Di tengah rumor kedatangan Joao Tavares, nasib Dejan Tumbas juga menjadi perbincangan hangat. Pemain asal Serbia itu ramai dispekulasikan bakal tersingkir akibat membengkaknya jumlah pemain asing Persebaya Surabaya.
Menanggapi hal tersebut, Bernardo Tavares akhirnya angkat bicara. Ia menegaskan bahwa Dejan Tumbas tetap masuk dalam rencana tim. Fleksibilitas menjadi alasan utama pelatih mempertahankan kepercayaan pada pemain tersebut.
“Dejan bisa bermain di banyak posisi. Kami akan melihat opsi terbaik untuk tim,” ujar Bernardo Tavares.
Sepanjang musim lalu, Dejan Tumbas kerap dimainkan tidak di posisi aslinya sebagai penyerang tengah. Ia sempat diplot sebagai gelandang bertahan hingga bek kiri, keputusan yang memicu kebingungan sebagian suporter. Namun secara statistik, Dejan tetap mencatatkan kontribusi dengan 14 penampilan dan total 1.048 menit bermain.
Ancaman Coret Dua Pemain Asing Persebaya Surabaya
Situasi makin kompleks setelah Persebaya Surabaya resmi memperkenalkan Gustavo Fernandez sebagai rekrutan anyar dari Brasil. Bersama Gustavo, manajemen juga sebelumnya telah mendatangkan Bruno Paraiba dan Jefferson Silva. Total, kini Persebaya memiliki 13 pemain asing.
Jumlah tersebut jelas melebihi regulasi Super League 2025-2026 yang hanya mengizinkan 11 pemain asing didaftarkan. Artinya, dua pemain non-WNI harus dicoret sebelum kompetisi dimulai.
Hingga saat ini, manajemen belum mengumumkan siapa yang akan dilepas. Bernardo Tavares diyakini akan menilai berdasarkan kebutuhan tim, adaptasi pemain, fleksibilitas posisi, serta kontribusi selama latihan dan uji coba.
Persaingan internal pun dipastikan semakin ketat. Setiap pemain asing kini berada di bawah tekanan untuk membuktikan diri layak masuk skuad final. Sementara itu, publik Surabaya dan Bonek hanya bisa menunggu keputusan akhir terkait nasib Joao Tavares, Dejan Tumbas, serta dua pemain asing yang berpotensi angkat koper dari Kota Pahlawan.
Editor : Natasha Eka Safrina