Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sejarah Aremania dan Makna Salam Satu Jiwa Terungkap, Ternyata Bukan Sekadar Slogan Arema!

Axsha Zazhika • Jumat, 20 Februari 2026 | 18:45 WIB

Sejarah Aremania dan Makna Salam Satu Jiwa Terungkap, Ternyata Bukan Sekadar Slogan Arema!
Sejarah Aremania dan Makna Salam Satu Jiwa Terungkap, Ternyata Bukan Sekadar Slogan Arema!
 

TULUNGAGUNG - Sejarah Aremania kembali menjadi perbincangan hangat dalam sebuah forum silaturahmi lintas generasi pendukung Arema. Dalam diskusi panjang tersebut, para senior mengulas awal mula terbentuknya Aremania hingga lahirnya filosofi “Salam Satu Jiwa” yang kini identik dengan Arema dan Kota Malang.

Sejarah Aremania disebut tidak lahir secara instan. Ada proses panjang, pergolakan, hingga kegelisahan sosial yang melatarbelakangi terbentuknya kelompok suporter Arema tersebut. Bahkan, perdebatan soal tahun berdiri dan bentuk organisasi masih menjadi diskusi hingga hari ini.

Namun satu hal yang disepakati, sejarah Aremania dan makna Salam Satu Jiwa adalah fondasi utama yang tak boleh dilupakan generasi sekarang.

Baca Juga: Panen Perdana Melon Hidroponik Tunggangri Tulungagung Dinilai Maksimal, Kades Sri Lailatin Siap Kembangkan Greenhouse Baru

Awal Mula Sejarah Aremania

Dalam perbincangan tersebut terungkap bahwa cikal bakal Aremania muncul dari kegelisahan arek-arek Malang pada era 1990-an. Saat itu, kondisi stadion dinilai belum sepenuhnya aman dan solid. Tawuran antarkelompok serta gesekan antarkampung kerap terjadi.

Tokoh-tokoh senior menyebut momen penting terjadi sekitar tahun 1995 hingga 2000. Beberapa menyebut pertemuan di kawasan Tanjung sebagai titik penting penggunaan nama “Aremania”. Meski terdapat perbedaan ingatan soal tanggal dan detail peristiwa, semua sepakat bahwa semangatnya adalah silaturahmi dan persatuan warga Malang.

“Aremania lahir dari kegelisahan, bukan dari ambisi organisasi,” ujar salah satu narasumber.

Menariknya, Aremania sejak awal tidak dilembagakan secara formal. Tidak ada struktur ketua umum seperti organisasi pada umumnya. Pangkat tertinggi justru berada di tingkat Korwil (Koordinator Wilayah) yang membawa aspirasi daerah masing-masing.

Model ini membuat Aremania berkembang secara organik dan berbasis kebersamaan.

Makna Salam Satu Jiwa yang Sesungguhnya

Salah satu bagian paling ditekankan dalam forum itu adalah makna Salam Satu Jiwa. Banyak generasi muda mengenal kalimat tersebut sebagai yel-yel khas Arema. Namun para senior menjelaskan filosofi di baliknya.

Salam Satu Jiwa merupakan simbol karakter arek Malang yang harus menjunjung sabar, tulus, jujur, dan tawakal. Empat nilai tersebut disebut sebagai inti dari jiwa Aremania.

“Satu Jiwa itu bukan sekadar teriak di stadion. Itu karakter,” tegas salah satu tokoh.

Mereka juga mengingatkan bahwa Salam Satu Jiwa harus diwujudkan dalam sikap, termasuk saat tim kalah, saat menghadapi masalah internal, maupun saat berbeda pendapat antar komunitas.

Nilai sabar dan tulus disebut menjadi ujian terbesar, terutama ketika Arema mengalami masa sulit, termasuk persoalan finansial maupun konflik manajemen di masa lalu.

Dari Korwil ke Komunitas

Perkembangan zaman turut mengubah wajah Aremania. Jika dulu basis utama ada di Korwil, kini muncul banyak komunitas dengan identitas masing-masing.

Para senior menilai perubahan tersebut wajar. Namun mereka mengingatkan agar komunitas tidak melupakan akar sejarah Aremania. Prioritas utama tetap Arema, bukan sekadar kebanggaan komunitas.

“Komunitas boleh banyak, tapi Arema tetap satu,” ungkap narasumber lain.

Mereka juga menegaskan pentingnya menjaga sejarah agar tidak terputus. Sebab, memutus sejarah berarti menghilangkan identitas.

Dalam forum itu bahkan muncul wacana untuk membukukan sejarah Aremania secara resmi agar generasi berikutnya memiliki referensi otentik, bukan sekadar cerita lisan yang bisa berubah-ubah.

Tujuan Besar: Menyatukan Arek Malang

Salah satu pesan kuat yang kembali diingatkan adalah visi awal berdirinya Arema, yakni menyatukan arek Malang. Aremania hadir sebagai wadah untuk meredam konflik antarkelompok dan membangun kebanggaan bersama terhadap klub kebanggaan kota.

Seiring waktu, kreativitas dukungan Aremania justru menjadi inspirasi nasional. Banyak kota disebut “tertular virus positif” dalam hal kreativitas suporter.

Namun para senior tetap mengingatkan bahwa kebersamaan dan silaturahmi adalah kunci utama. Tanpa itu, Salam Satu Jiwa hanya menjadi slogan kosong.

Mereka juga menghimbau generasi muda Aremania untuk menjaga nama besar Arema dan Malang. Tanggung jawab moral dinilai jauh lebih besar dibanding sekadar hadir di stadion.

“Arema dan Aremania adalah nama besar. Jangan sampai dirusak oleh ego,” tegas salah satu peserta diskusi.

Baca Juga: World Supersport 2026 Kick Off, Aldi Satya Mahendra El’ Dablek Jadikan Momentum Awal Positif Musim Ini

Sejarah Tak Boleh Dilupakan

Di akhir forum, satu pesan disepakati bersama: jangan melupakan sejarah Aremania. Sebab sejarah adalah identitas.

Jika sejarah diputus, maka semangat kebersamaan akan melemah. Sebaliknya, jika sejarah dijaga, Salam Satu Jiwa akan tetap hidup dalam setiap generasi.

Kini, tantangan Aremania bukan lagi soal berdiri atau tidaknya organisasi. Tantangannya adalah menjaga persatuan, memperkuat silaturahmi, dan memastikan Salam Satu Jiwa benar-benar menjadi napas dalam mendukung Arema.

Salam Satu Jiwa.

Editor : Axsha Zazhika
#Sejarah Aremania #arema #Salam Satu Jiwa #Korwil Aremania #Suporter arema