TRENGGALEK – Masyarakat Trenggalek harus bisa memfilter kabar yang masuk dan jangan menelannya mentah-mentah, apalagi itu dari media sosial. Pasalnya, hal tersebut belum bisa ditentukan kebenarannya. Ini seperti yang terjadi dalam berita di medsos tentang pintu masuk Terminal Tipe A Surodakan, Trenggalek.
Dari pantauan Jawa Pos Radar Trenggalek, pemilik akun medsos X @masjalu_17 mengunggah foto bus pada 14 Oktober 2023 sekitar pukul 16.52 WIB. Dalam postingan itu, pemilik akun menuliskan “Iso mlebu gak iso metu (bisa masuk tapi enggak bisa keluar). Shelter terminal Surodakan Trenggalek memang sudah waktunya diperbarui untuk memenuhi perkembangan zaman yang belum hadir di tahun 1970-an dulu. *Karena terlalu tipis, bus ini akhirnya memilih keluar lewat pintu masuk.”
Tulisan tersebut ternyata dibantah oleh Koordinator Satuan Pelaksana (Korsatpel) Terminal Tipe A Surodakan Trenggalek, Oni Suryanto. Dia menepis tudingan netizen bahwa bus yang keluar lewat pintu masuk diduga lantaran selter terminal kekecilan. "Terkait bus yang masuk terminal itu kembali lagi, itu tidak benar," ungkapnya kepada wartawan Jawa Pos Radar Trenggalek.
Menurut Oni, selter Terminal Tipe A Surodakan sejauh ini dalam kondisi yang masih layak. Selter pintu masuk memiliki ketinggian sekitar 3,74 meter (m) dengan lebar sekitar 2,5 m. Kemudian, selter keberangkatan memiliki ketinggian mencapai 4,2 m dengan lebar lebih dari 2,5 m.
Berdasar data teruji itu, Oni menegaskan bahwa selter terminal masih berfungsi dengan baik dan tidak ada bus yang terpaksa kembali lantaran ukuran selter kekecilan. "Dari ketinggian bus rata-rata 3,7 m, ketinggian selter kita mencapai 4 m lebih. Jadi, bus masuk (kedatangan, Red) atau keberangkatan aman," ungkapnya.
Oni menanggapi, bus yang keluar melewati pintu masuk itu karena sopir bus khawatir ketika akan naik ke jalan aspal selepas dari selter keberangkatan. Di bagian itu, ada cekungan yang terletak di antara aspal jalan raya dan aspal jalan terminal.
Cekungan itu disebabkan aspal jalan raya dan terminal lebih tinggi. Sopir bus khawatir bagian belakang busnya akan menyangkut saat melintasi kondisi jalan tersebut. "Meski begitu, beda sopir dengan tipe dan jenis bus yang sama itu tidak ada masalah," ujarnya.
Bus-bus angkutan kota dalam provinsi (AKDP) dan angkutan kota antarprovinsi (AKAP) tidak mengalami masalah. Menanggapi itu, Oni mengaku sempat menegur sopir yang bersangkutan untuk keluar sesuai jalur. Namun, teguran itu sekadar mengingatkan karena ia menyadari jika terjadi kerusakan pada armada bus, maka sopir yang bersangkutan yang akan mengganti rugi ke perusahaan.
Untuk itu, petugas mengizinkan sopir yang keluar melalui pintu masuk karena kekhawatiran tersebut. "Sebagai antisipasi gangguan lalin, petugas akan menyetop bus yang akan masuk ke terminal, dan mendahulukan bus yang bersangkutan keluar lebih dulu," ucapnya.
Lebih lanjut, Oni mengatakan, sekitar satu bulan lalu petugas sudah mengevaluasi tentang detail area terminal. Ada beberapa titik-titik yang sudah dievaluasi, termasuk kondisi cekungan di antara dua aspal jalan. "Kita sudah menyampaikan datanya dan berkoordinasi dengan pimpinan-pimpinan kami yang ada di Surabaya," ucapnya.
Dari koordinasi tersebut, besar kemungkinan evaluasi yang dilaporkan akan ditindaklanjuti dan tinggal action. Mulai dari aspal landasan yang mengelupas bahkan pintu keluar, ke depan akan ada peninggian sedikit.
Di sisi lain, Oni mengaku juga akan berkoordinasi dengan Pemkab Trenggalek terkait adanya cekungan di antara dua aspal yang lebih tinggi. "Secara batas, kami hanya memiliki kewenangan di dalam terminal. Tapi melihat kelas jalan dan kewenangannya, itu masuk pemeliharaan pemkab. Mungkin ke depan ada perbaikan pengaspalan itu pasti tinggi sendiri," ujarnya. (tra/c1/jaz)
Editor : Didin Cahya Firmansyah