Trenggalek- Berbagai masalah dan tantangan mengelola pondok pesantren (ponpes) dibahas dalam sarasehan yang digelar oleh Majelis Pesantren Ma'had Dakwah Indonesia (Mapadi) Trenggalek, Rabu (16/10). Kegiatan tersebut berlangsung di Ponpes Modern Ummul Quro, Gandusari. Ini menjadi kegiatan tahunan dari pengurus wilayah majelis pesantren dakwah Indonesia Jawa Timur.
Tidak hanya menyamakan persepsi bagi para pendiri dan pengurus ponpes, kesempatan itu juga diberikan kepada para santri. Lewat Mapadi Cup 3, di antaranya ada lomba bidang olahraga, seni, serta pengetahuan Islam.
Ketua Mapadi Jatim, KH Ahmad Syakirin Asmu'i Lc. MA berharap ajang seperti ini bisa menyamakan persepsi bagi para pengasuh atau pimpinan pondok.
"Ya istilah Jawanya sawang sinawang. Yang punya kekurangan bisa belajar dari yang sudah punya kelebihan, yang punya kelebihan bisa terus memberikan sumbangsih kepada yang masih baru," ujar pengasuh Ponpes Daarul Ukhuwwah Putri Malang ini.
Karena, lanjut dia, pesantren Mapadi relatif baru, diperkiran paling tua baru berusia sekitar 20 tahun, belum sampai 30 tahun. "Nah, yang rata-rata ya masih ada yang bahkan dua dan tiga tahun. Ini kan perlu pengalaman yang sudah lama. Nah, bagi santrinya tentu akan saling mengenal antar satu dengan yang lain," kata Ahmad Syakirin.
Kegiatan kemarin juga bagian menyemarakkan Hari Santri Nasional (HSN). Ini mengingatkan peran para santri untuk Indonesia. Jika di masa penjajahan berperan dalam peperangan, maka pada masa kini adalah mengisi kemerdekaan dengan sebaik-baiknya.
"Karena tantangan zaman sekarang, era gen Z ini kan luar biasa, tantangannya menjadi PR kita. Mereka itu kan generasi tunas bangsa ini, ya remaja anak-anak muda," tegas Ahmad Syakirin.
Karena itulah, melalui kegiatan-kegiatan yang bermanfaat ini akan menumbuhkan generasi penerus bangsa yang kuat akan tauhid dan pemahaman keagamaannya. Begitu juga kuat jasmani sehingga akan tumbuh Indonesia emas yang dicita-citakan bersama.
Bagi level pimpinan atau pengasuh, bertujuan saling belajar, menimba pengalaman dari yang sudah lama, menumbuhkan semangat bagi pesantren baru agar punya mimpi yang sama. Akhirnya menuju pesantren yang mendapat tempat di hati masyarakat.
"Karena dunia pesantren ini kan sekarang tumbuh dengan luar biasa. Masyarakat semakin percaya dengan pesantren, sehingga kita ingin mendudukkan pesantren kami ada di hati masyarakat. Itu tujuan untuk level sarasehannya," jelas Ahmad Syakirin.
Sedangkan bagi santri, agar mereka saling mengenal, menumbuhkan semangat belajar, semangat berprestasi, sehingga menghadapi tantangan zaman yang sangat kompleks di era gen Z ini, dan tidak tertindas oleh zaman.
"Mereka bisa mengubah tantangan ini menjadi sebuah peluang, sebuah prestasi. Ya mungkin prestasi itu untuk level santrinya, yang kelak dua kegiatan ini bisa mengantarkan Indonesia Emas. Mengantarkan santri, mengantarkan pesantren menjadi pemain di Indonesia Emas yang akan datang," tandasnya. (mal/c1/wen)
Editor : Whendy Gigih Perkasa