Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Cerita Bad Music Mengenalkan Tulungagung Melalui Musik Hiphop

Choirurrozaq • Rabu, 30 Juni 2021 | 20:49 WIB
cerita-bad-music-mengenalkan-tulungagung-melalui-musik-hiphop
cerita-bad-music-mengenalkan-tulungagung-melalui-musik-hiphop

Kekayaan budaya dan kekhasan Tulungagung yang dikemas dalam bentuk alunan musik hip-hop merupakan salah satu tujuan dari Bad Music Tulungagung. Meskipun hingga kini, perhatian pemerintah belum dirasakan oleh musisi, mereka tetap berkomitmen untuk terus berkarya.


 


MUHAMMAD HAMMAM DEFA SETIAWAN, Kota, Radar Tulungagung


 


Tempo, lirik, dan instrumen yang khas dari karya-karya Bad Music bisa mengantarkan kita melihat Tulungagung dengan cara yang berbeda. Berbagai kisah kehidupan masyarakat hingga musisi di Tulungagung, mereka tuangkan dalam sebuah karya. Meski sejak berdirinya sering kali mendapati rintangan dalam berkarya, mereka yang notabene musisi lokal menganggap hal itu sebagai kenikmatan dalam berkarya.


Salah satu personel Bad Music, Erfian Sasmito menceritakan bagaimana awal mula terbentuknya Bad Music. Kala itu di akhir 2019, dia bersama dua temanya, yakni Dave Cordonale dan Muhammad Dita Faruq, memiliki cara pandang sama di dalam bermusik. Dari situlah mereka menciptakan sebuah kelompok yang bernama Bad Music dengan berbagai macam karakter personel. “Ketika itu kami hanya ingin mengenalkan kepada masyarakat tentang Tulungagung melalui karya musik hip-hop kami,” ungkapnya.


Bombom, sapaan akrabnya mengatakan, setidaknya selama ini hampir semua karyanya diproduksi sendiri oleh mereka. Mulai dari membuat lirik hingga menciptakan instrumen, mereka racik sendiri meski dengan alat yang masih sederhana. Bahkan tak jarang, beberapa komunitas musik juga ikut memproduksi karya musik bersama mereka. “Kini kami sudah memiliki tujuh karya yang telah dirilis. Sekarang sudah ada tiga lagu yang sudah hampir selesai. Selanjutnya akan kami rilis,” ujarnya.


Karya-karya yang berhasil dibuat, mereka publikasikan secara mandiri melalui platform media sosial (medsos). Mereka akan membawakan karya mereka di berbagai kota disetiap event komunitas musik di Jawa Timur (Jatim). Bahkan sebelum pandemi Covid-19, mereka sering mengisi acara di berbagai kota di Jatim. “Bagi kami, musisi lokal, tantangan terberat kami adalah masalah koneksi. Mungkin musisi di kota besar akan mudah mendapatkan koneksi. Namun bagi kami, hal itu yang paling sulit,” paparnya.


Pria lima bersuadara itu menambahkan, sejak adanya pandemi Covid-19, ruang-ruang apresiasi musik sudah banyak yang hilang. Jika dulu sebelum adanya pandemi Covid-19, hampir setiap bulan pasti ada pagelaran musik yang mengundang pihaknya. Namun, akibat pandemi Covid-19, belum tentu pasti dalam satu bulan ada acara tersebut. “Tentu selama pandemi performa kami berkurang. Jika dulu satu bulan bisa dua kali, kini selama dua bulan saja juga belum tentu ada,” tambahnya.


Disinggung mengenai cara bertahan di tengah pandemi Covid-19, pihaknya tidak terlalu memusingkan hal tersebut. Karena pada dasarnya, Bad Music ini mereka gunakan sepenuhnya untuk berkarya dan tidak selalu berurusan dengan finansial. Bagi mereka, yang paling terpenting, meski pandemi Covid-19, tidak menghentikan mereka berkarya. “Jangan jadikan alasan pandemi untuk berhenti berkarya. Personel di Bad Music itu semua sudah bekerja di luar. Kami tidak menjadikan Bad Music itu sebagai ladang penghasilan kami. Namun, Bad Music itu menjadikan tempat kami bisa terus berkarya,” terang pria berewok itu.


Bombom juga berharap kepada Pemkab Tulungagung agar bisa memfasilitasi seniman ataupun musisi di Tulungagung. Karena sampai sekarang masih minim sekali peran pemerintah di dalam mengembangkan seniman ataupun musisi di Tulungagung. “Kami itu hanya membutuhkan tempat kami bisa mengapresiasi karya seniman ataupun musisi di Tulungagung. Itu saja harapan kami,” pungkasnya. (*)

Editor : Choirurrozaq
#tulungagung