RADARTULUNGAGUNG.JAWAPOS.COM - Konservasi penyu bukanlah perkara mudah. Namun, warga Desa Jengglungharjo, Kecamatan Tanggunggunung, dengan sukarela menyisir empat kawasan pantai desa. Khususnya saat musim bertelur pada Agustus hingga Oktober. Semua demi kelestarian reptil laut yang sudah menjelajahi samudra selama jutaan tahun ini.
Kompetisi selalu mewarnai aktivitas warga Desa Jengglungharjo, Kecamatan Tanggunung, selama Agustus hingga Oktober. Namun jangan salah mengartikan untuk memperebutkan supremasi tertinggi sebuah lomba. Yakni, dulu-duluan menemukan telur penyu melawan biawak.
Musuh terbesar konservasi penyu saat ini bukanlah manusia, melainkan predator alaminya yakni biawak. Jika telur penyu lebih dahulu ditemukan hewan bernama latin Varanus salvator itu, kemungkinan besar tidak ada satu pun telur yang bisa diselamatkan untuk ditetaskan. “Makanya telur penyu itu harus dibawa ke perkampungan untuk ditetaskan. Dan kita dituntut untuk cepat agar telur penyu tidak dimakan biawak,” jelas Ketua Pokdarwis Pantai Sanggar Desa Jengglungharjo, Lego Riyanto.
Lego menjelaskan, untuk memastikan bahwa telur penyu tidak dimakan biawak, maka warga setempat harus melakukan penyisiran di empat pantai yang menjadi langganan penyu bertelur. Setiap hari ada masyarakat yang diterjunkan, entah ke Pantai Sanggar, Ngalur, Jung Pakis, ataupun Pathuk Gebang. Harapannya ada keberuntungan mendapatkan telur penyu untuk diselamatkan.
Masalahnya, akses dari permukiman warga dengan keempat pantai itu kurang bersahabat. Jalan setapak berkelok naik turun dan hanya bisa dilalui oleh sepeda motor modifikasi. Lampu penerangan jalan juga nihil sehingga upaya penyisiran sukar dilakukan pada malam hari. “Biasanya itu pagi-pagi masyarakat baru ke sana (pantai) untuk mencari telur penyu. Tidak ada jadwal khusus sebenarnya, tapi siapa yang sedang longgar biasanya berinisiatif untuk pergi ke pantai mencari telur,” ungkapnya.
Selama ini, masyarakat Jengglungharjo terus berswadaya untuk konservasi empat jenis penyu yang bertelur di kawasan pantai desa tersebut. Mulai dari jenis lekang, hijau, sisik, dan belimbing. Bantuan materiel dari pemerintah maupun pihak swasta lainnya sangat sedikit. Alhasil, kesadaran warga Jengglungharjo menjadi satu-satunya pendukung agar konservasi terus berjalan. “Kita beberapa kali mengundang pemangku kebijakan di kabupaten ini untuk ikut melepasliarkan penyu ke laut. Namun, itu hanya sebatas seremonial saja, setelahnya bantuan tetap tidak ada,” ungkapnya.
Dari empat pantai yang menjadi lokasi bertelur penyu, saat ini hanya Pantai Jung Pakis serta Pantai Pathuk Gebang yang menjadi tempat favorit kura-kura laut itu. Karena selama penyisiran dilakukan, penemuan telur penyu paling banyak didapatkan pada dua pantai tersebut. Pada Pantai Sanggar dan Pantai Ngalur hanya ditemukan jejaknya, tetapi penyu enggan bertelur di sana. “Kalau jejaknya (penyu) masih ditemukan di Sanggar dan Ngalur, tapi mereka sepertinya hanya naik, tidak bertelur. Mungkin karena sudah banyak orang atau pengunjung yang datang,” katanya.
Penyu memilih Pantai Pathuk Gebang dan Jung Pakis sebagai lokasi bertelur pastinya dengan alasan tersendiri. Salah satu sebabnya adalah dua pantai tersebut masih sangat jarang tersentuh manusia. Yang biasanya datang ke sana hanyalah masyarakat sekitar Desa Jengglungharjo. Dua pantai itu memang disiapkan untuk wisata konservasi agar tetap bisa menjadi lokasi bertelur bagi beberapa jenis penyu yang ada. “Kita bisa tahu telur penyu itu dari jejak bekas kakinya. Biasanya dari jejak itu ada beberapa titik di mana telur penyu dikuburkan induknya,” tutupnya.(*/c1/rka)
Editor : Anggi Septian A.P.