TULUNGAGUNG – Musim kemarau membuat para petani di Tulungagung harus memutar otaknya agar lahan pertaniannya tetap menghasilkan. Bahkan mereka harus mengeluarkan minimal Rp 100 ribu per hari untuk mengairi sawah menggunakan mesin diesel.
“Mau bagaimana lagi, irigasi sudah tidak ada airnya,” kata Muhammad Alifi, warga Desa Sukowiyono, Kecamatan Karangrejo, Minggu (17/9/2023).
Menurut dia, selama kemarau ini, dia harus mengeluarkan duit untuk mengairi sawahnya. Bahkan minimal harus merogoh kocek Rp 100 ribu untuk membeli bahan bakar mesin diesel penyedot air per hari.
Baca Juga: Tak Bisa Diterima Petani Tulungagung, Ribuan Ton Pupuk Urea Bersubsidi Balik Kucing ke Pusat
Itu pun cakupan luasannya belum menjangkau seluruh areal persawahan miliknya. “Itu sudah minimal, kalau lebih luas tentunya lebih banyak yang harus saya keluarkan,” tambahnya.
Pria paro baya ini tak menampik jika dirinya masih menanam padi, di saat mayoritas rekan sejawatnya di Tulungagung memilih tanaman palawija. Namun tanaman padinya itu dikonsentrasikan di satu titik saja.
“Saya pun harus telaten memindahkan dari lokasi pembibitan ke areal persawahan yang sudah diairi. Ya semoga segera turun hujan saja,” ujarnya.
Sementara itu Kabid Pengairan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Tulungagung Endra Wibawa mengatakan, kondisi irigasi yang mengarah ke areal persawahan memang berbeda jauh jika dibandingkan musim penghujan.
Baca Juga: Hasil Menakjubkan Budi Daya Alpukat Aligator, Rintis Usaha 14 Tahun Baru Bisa Merasakan Untung Jumbo
Mayoritas memang sudah jarang terisi air. “Saat kemarau seperti ini memang masuk masa tanam (MT) tiga. Sehingga kondisinya jauh berbeda dengan MT 1 atau 2 yang berada di musim penghujan,” terangnya.
Endra, -sapaan akrabnya mengklaim kondisi ini tidak begitu merisaukan. Mengingat jenis tanaman yang ditanam petani umumnya berupa palawija yang tidak begitu banyak membutuhkan air.
Baca Juga: Jangan Sepelekan Buah Ini, Ternyata Memiliki Segudang Manfaat Lho!
Meskipun sebenarnya di beberapa wilayah di Kota Marmer juga ada yang masih menanam padi. “Untuk tanaman didominasi palawija, sehingga kemarau tidak terlalu merisaukan bagi kondisi tanaman,” tandasnya.(*/rka)
Editor : Dharaka R. Perdana