TULUNGAGUNG - Bencana kekeringan benar-benar dirasakan oleh Ilham Setiawan warga Desa/Kecamatan Campurdarat, Tulungagung.
Sumur yang menjadi satu-satunya sumber air surut dengan kedalaman 25 meter, kini telah mengering, dan sudah tiga tahun lamanya.
Sumber air menjadi satu-satunya kebutuhan pokok kehidupan yang tidak dapat ditawar.
Bahkan hampir setiap aktivitas manusia tak lepas dari air. Hal ini membuat Ilham Setiawan pria asal Dusun Ngingas Desa/Kecamatan Campurdarat kewalahan menjalani rutinitasnya akibat dampak kekeringan.
“Wah ya sulit mas. Mau apa-apa yang memakai air harus mempertimbangkan dua kali,” jelasnya Senin (25/12/2023).
Bencana kekeringan ini terhitung telah melanda wilayah tersebut sejak bulan September lalu.
Diketahui bencana kekeringan semakin parah selama satu minggu terakhir. Bahkan sumur yang menjadi satu-satunya sumber air menyusut hingga 25 meter lebih dari daratan.
“Kalau kekeringannya itu sudah 3 bulan yang lalu, tapi masih belum parah. Nah yang paling parah itu satu minggu terakhir ini. Sumur itu dalamnya sampai 25 meter lebih,” ucapnya.
Menyusutnya sumur tentunya mempengaruhi aktivitas keseharian keluarga Ilham, terutama yang bersangkutan dengan air.
Lantas untuk kebutuhan minum dan memasak, ia harus membeli satu galon air mineral isi ulang seharga Rp6.500 per galon. Yang mana, air satu galon ini hanya dapat mencukupi kebutuhan selama dua hari.
“Kalau untuk minum dan memasak ya pakai air dari galon isi ulang. Itu hanya sampai dua hari, habis ya beli lagi wong ya tidak ada air sama sekali,” paparnya.
Bukan hanya itu, aktivitas mandi dan cuci pakaian juga menjadi pekerjaan rumah tersendiri saat dilanda bencana kekeringan. Dia mengaku, untuk mandi hanya dapat dilakukan satu kali dalam satu hari.
Itu pun dihitung hanya boleh menggunakan air sebanyak 7 gayung. Jika melebihi itu pastinya akan merugikan anggota keluarga lainnya yang juga membutuhkan keperluan mandi.
Kemudian aktivitas cuci baju, biasanya ia akali pada saat mandi. Yang mana air yang digunakan untuk membasahi tubuh digunakan untuk mencuci baju. Baru setelah itu, baju dibilas dengan air bersih.
“Satu keluarga itu ada lima orang. Ya kalau mandi lebih dari 7 gayung pasti yang lain tidak kebagian air dan terpaksa menumpang ke rumah-rumah tetangga,” ungkapnya.
Bantuan distribusi air bersih pun beberapa kali sampai di wilayah Ilham. Namun karena air merupakan hajat orang banyak, bantuan air bersih pun hanya diambil secukupnya. Mendapati hal tersebut, dia berharap agar turunya hujan dapat segera terkabul.
“Ya tidak ada solusi, hanya menunggu hujannya turun,” pungkasnya.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra