TULUNGAGUNG – Menyambut kontestasi Pilkada Tulungagung tahun 2024 ini, banyak bermunculan tokoh-tokoh yang ingin bertarung dan muncul sebagai bakal calon kepala daerah (bacakada).
Dalam prosesnya, mereka wajib beradu gagasan untuk membangun Tulungagung, dan bukan adu kuat logistik untuk bisa menang.
Pengamat Politik Universitas Bhineka Tulungagung, Andreas Djatmiko menerangkan kenapa cukup banyak orang yang berniat maju dalam Pilkada tahun ini.
Faktor utamanya, menurut dia, adalah tidak adanya sosok petahana nantinya akan bertarung.
Memang, Maryoto Birowo dan Gatut Sunu Wibowo pernah menduduki jabatan bupati dan wakil bupati Tulungagung pada pemerintahan sebelumnya dan kini berniat maju kembali.
Namun berdasarkan fakta sejarah, yang benar-benar petahana Bupati Tulungagung hasil Pilkada tahun 2018 lalu adalah sosok Syahri Mulyo meski yang bersangkutan harus tersandung kasus hukum.
“Kenapa banyak calon yang muncul, karena sejatinya petahana tidak ada,” jelas Andreas.
“Sebenarnya Pak Syahri Mulyo lah yang menjadi petahana. Pak Maryoto Birowo duduk sebagai bupati Tulungagung definitif karena menggantikan Pak Syahri Mulyo, begitupun Pak Gatut Sunu Wibowo juga sebagai pengganti dan menjabat tidak sampai 2 tahun," sambungnya.
Dengan begitu, lumrah saja banyak tokoh yang berani dan berniat bertarung. Mereka menganggap bahwa peluang untuk menang pada Pilkada Tulungagung nanti akan terbuka lebar dan semua calon memiliki kesempatan yang sama.
Meski begitu, Andreas menekankan pentingnya para bacakada untuk memiliki gagasan untuk pembangunan Tulungagung 5 tahun yang akan datang.
Itu sangat dibutuhkan agar Tulungagung bisa bangkit dan berubah menjadi daerah yang maju. Maju perekonomiannya, wisatanya, pendidikannya serta dalam aspek-aspek lainnya.
Baca Juga: Terungkap Alasan Yoyok Batal Macung Pilkada Tulungagung
“Setiap bacakada harus mengemukakan gagasan mereka. Mereka harus adu gagasan agar Tulungagung bisa bangkit dari keterpurukan. Karena menurut saya, Tulungagung ini sudah jauh tertinggal dengan daerah tetangga,” bebernya.
Dia berharap pada Pilkada nanti bukanlah sebagai ajang adu logistik semata. Karena jika politik Tulungagung masih seperti itu, daerah ini akan sulit untuk mendapatkan pemimpin yang benar-benar mempunyai kemampuan untuk membangun daerah agar lebih maju lagi.
Lalu bagaimana agar Bacakada bisa dilirik masyarakat, Andreas berpendapat selain dengan gagasan yang bagus, mereka harus bisa mendekatkan diri kepada masyarakat agar bisa dipilih.
“Kalau masih kuat-kuatan modal di Pilkada nanti, bagi saya akan sulit untuk mendapatkan kualitas pemimpin yang bagus. Karena kita harus sadar daerah kita akan seperti apa itu sangat tergantung dengan pemimpinnya. Jadi masyarakat sebetulnya harus sangat selektif dalam Pilkada kali ini, jika ingin Tulungagung maju,” tutup Andreas.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra