Tulungagung – Meningkatnya volume air di aliran Sungai Brantas dalam beberapa hari berdampak pada aktivitas tambangan alias jasa perahu penyeberangan.
Derasnya aliran air sungai ini membuat Dishub Tulungagung menghentikan sementera aktivitas moda transportasi tradisional terebut.
Kabid Angkutan dan Sarana Dinas Perhubungan (Dishub) Tulungagung, Sujarmani mengatakan, kebijakan ini bertujuan untuk menghindari hal-hal yang dapat mengancam keselamatan penumpang dan operator perahu tambangan.
“Dishub mengambil langkah untuk memberikan sebuah edaran untuk menghentikan sementara kegiatan penyeberangan,” jelasnya.
Dia mengungkapkan, peningkatan volume air di sungai terpanjang di Jawa Timur ini memang mengkhawatirkan.
Itu tak lepas dari tingginya curah hujan yang mengguyur wilayah pesisir selatan provinsi selama 2-3 hari terakhir.
“Saat ini memang kondisi Sungai Brantas mengalami peningkatan volume yang sangat luar biasa. Dengan volume yang luar biasa itu boleh dikatakan banjir,” katanya.
Kebijakan ini juga tak lepas dari adanya laporan terkait penumpang dan operator perahu di salah satu titik tambangan yang terjebak di aliran Sungai Brantas pada Kamis (28/11) malam.
Jasa tambangan, lanjut Sujarmani, baru diizinkan kembali beropasi jika kondisi dinilai memungkinkan dan tidak membahayakan.
“Dan apabila mengadakan kegiatan penyeberangan harus waspada sampai situasi dirasa aman. Jadi, imbauan dari kami untuk memberhentikan sementara selama air ini masih mengalami peningkatan yang signifikan,” tegasnya.
Total ada 19 titik jasa tambangan yang ditutup sementara.
Monitoring bersama lintas sektor terus dilakukan untuk mengetahui kondisi terkini di Sungai Brantas.
“Kami terus memantau dari teman-teman grup Brantas di provinsi untuk memberikan informasi. Ada 19 titik penyeberangan di sepanjang sungai dari Ngantru sampai perbatasan Rejotangan,” lanjut Sujarmani.
Dia juga mengimbau agar masyarakat ikut waspada dengan peningkatan air Sungai Brantas.
Itu sebabnya, masyarakat diminta untuk menghidari moda transportasi jasa tambangan demi keamanan.
“Daripada terjadi hal yang tidak diinginkan. Kalau (masyarakat, Red) tidak menyeberang, mereka juga tidak menggunakan kapal,” ucapnya. (dit/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri