Radar Tulungagung - Tulungagung adalah kota kecil di Jawa Timur yang terkenal dengan kehidupan yang tenang, keramahan penduduk dan tentu wisata pantainya.
Jika kamu berasal dari kota besar atau daerah dengan budaya berbeda, ada beberapa kemungkinan culture shock yang akan kamu rasakan saat tinggal di Tulungagung.
Seperti halnya dengan pemilik akun tiktok bernama anakrantau atau @rafalfais yang di videonya dikatakan berasal dari Surabaya dan merantau di Tulungagung.
Beberapa kali dia membagikan video berisi point of view (pov) culture shocknya tinggal di Tulungagung yang berbeda dengan Surabaya.
Ini dia beberapa hal yang kemungkinan bisa menjadi culture shock saat kamu baru tinggal di Tulungagung:
- Ritual Kopi Cethe atau Nyethe
'Ada yang kurang lengkap kalau belum nyethe!' Kira-kira seperti itu kalau kata orang Tulungagung. Bukan sekedar cara merokok, tetapi kebiasaan ini sudah menjadi ritual dan identitas budaya yang melekat, terutama di sebagian besar warung kopi di Tulungagung.
Bagi yang belum tahu nyethe itu apa, yaitu keunikan cara merokok dengan mengolesi permukaan rokok menggunakan ampas kopi, sebelum rokok dinyalakan.
Tak hanya mengolesi asal-asalan, beberapa orang dengan telaten membentuk motif atau gambar seperti melukis sehingga akan terlihat lebih unik.
Ini mungkin akan menjadi salah satu bentuk culture shock bagi yang belum pernah melihat atau mencoba sebelumnya. Dan katanya, cethe ini juga akan menciptakan sensasi rasa yang lebih khas saat merokok, lho!
- Dialeg Khas Tulungagung "Peh"
Meskipun bahasa Indonesia tetap digunakan, namun mayoritas masyarakat Tulungagung berbicara dalam bahasa Jawa dengan dialek khas Tulungagung yang mungkin berbeda dari daerah lain, mulai dari logat dan pronunsiasi hingga kosa-kata.
'Peh' adalah kosa-kata yang akan sering kamu dengar kalau tinggal di Tulungagung. Bukan itu saja, ada beberapa kosa-kata lain seperti 'biyuh, cah, thok, kejenggreng', dan lain sebagainya.
Ini sebenarnya adalah bagian dari pesona budaya daerah yang membuat Tulungagung begitu unik! Tetapi mungkin ini bisa menjadi culture shock bagi kamu yang belum terbiasa mendengarnya.
- Jalanan yang Tenang, Anti Macet dan Suara Klakson
Jalanan yang relatif anti macet dan minim suara klakson di Tulungagung bisa menjadi culture shock, terutama bagi kamu yang terbiasa tinggal di kota besar.
Di Tulungagung, kemacetan hampir tidak pernah terjadi, kecuali seperti di sekitar jalan pasar tradisional atau saat ada acara besar.
Termasuk juga saat mengantri di lampu merah, orang-orangnya lebih santai, tidak terburu-buru dan tertib. Pendatang yang terbiasa dengan ritme lalu lintas yang cepat mungkin perlu waktu untuk menyesuaikan diri.
Begitu pun saat malam hari, suasana jalanan menjadi lebih sunyi, terutama daerah yang jauh dari pusat kota. Ini bisa menjadi kejutan bagi pendatang yang terbiasa dengan kota yang tetap ramai hingga larut malam.
Baca Juga: Tak Ada WFA-WFH, ASN Pemkab Tulungagung Wajib Ngantor di Hari Pertama Masuk Kerja Pascalibur Lebaran
- Ada Banyak Pantai, Hingga Serasa Punya Private Beach
Kamu yang baru tinggal di Tulungagung akan terkejut bahagia karena kamu akan punya deretan list pantai untuk kamu kunjungi. Bahkan banyak pantai tersembunyi yang masih alami dan belum ramai wisatawan, hingga rasanya seperti punya private beach.
Selain itu, akses yang menantang mungkin juga akan megejutkan untuk kamu yang baru main ke pantainya. Tidak semua, namun sebagian besar pantai di Tulungagung harus ditempuh dengan perjalanan naik turun bukit, melewati jalan berbatu, atau bahkan tracking.
Ini bisa jadi kejutan bagi yang terbiasa dengan pantai yang mudah diakses seperti pantai di kota-kota besar. Tetapi, dijamin ini akan menjadi keseruan yang tak terlupakan dalam perjalanannya, hingga pada akhirnya terbayarkan dengan melihat keindahan pantainya.
- Masih Ada Makanan Harga 5 Ribuan
Di Tulungagung, makanan dengan harga 5ribuan masih cukup mudah ditemukan, terutama di warung-warung sederhana seperti angkringan, warung kopi atau pedagang kaki lima.
Misalnya masih ada nasi pecel, bakso, sepaket gorengan dan kopi di warung-warung yang bisa didapat dengan harga 5ribuan.
Biaya hidup di Tulungagung yang lebih murah memang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan atau perantau. Hal ini mungkin akan membuat terkejut bagi yang terbiasa dengan harga makanan jauh lebih mahal hingga berpikir "kok bisa harga segini".
- Kuliner dengan Rasa Gurih dan Pedas
Lodho ayam, nasi pecel, dan sate kambing serta beberapa makanan khas Tulungagung lainnya, memiliki cita rasa berbumbu kuat, gurih dan cenderung pedas.
Bagi orang yang terbiasa dengan masakan lebih manis atau tidak pedas, ini bisa menjadi pengalaman baru yang mengejutkan dan mungkin butuh waktu untuk menyesuaikan selera.
Namun, perbedaan selera masakan ini bisa menjadi pengalaman untuk menikmati kekayaan kuliner lokal, yang mungkin akan membuat ketagihan untuk berburu kuliner lainnya di Tulungagung!
Itu dia beberapa hal dan keunikan yang mungkin akan menjadi culture shock bagi pendatang yang baru pindah atau merantau di Tulungagung.
Meskipun ada beberapa perbedaan yang bisa mengundang rasa terkejut, hal tersebut bisa menjadi kesempatan untuk mengenal dan menghargai kekayaan budaya lokal, serta bisa memberikan pengalaman seru tentunya!
Editor : Matlaul Ngainul Aziz