RADAR TULUNGAGUNG - Wana Wisata Gunung Budheg Tulunhagung kini semakin asri.
Di bagian depan wana wisata edukasi itu telah dibangun pagar dengan motif arsitektur gaya Majaphit.
Pembangunan pagar tersebut menelan biaya Rp 34,6 juta. Pagar dibangun sepanjang 24 meter, mengelilingi area depan pintu masuk gunung yang berada di Desa Tanggung, Kecamatan Campurdarat, Tulungagung.
Menurut Agus Utomo, Juru Pelihara (Jupel) Gunung Budheg, pembangunan pagar tersebut dilakukan oleh pemerintah desa setempat.
"Kami selaku juru pelihara tidak ikut menangani proyeknya. Kami hanya menerima jadi, langsung berupa bangunan," kata Agus.
Yang pasti, para pengunjung mengaku lebih tertarik. Karena kehadiran pagar itu menambah keindahan dan kenyamanan di Gunung Budheg.
Pagar tersebut terbuat dari bata merah cantik bersusun, khas arsitektur Majapahit.
Dari depan sekilas tampak seperti pagar kantor balai purbakala di Trowulan, Mojokerto. Bahan dan tukangnya juga didatangkan khusus dari daerah Trowulan.
Pembangunan pagar itu dikerjakan sejak menjelang bulan Ramadan yang lalu.
Menurut Mulyono, warga Desa Tanggung, yang bekerja sebagai penjaga di Gunung Budheg, pembangunan pagar itu berjalan sangat lancar dan sangat cepat.
Hanya sekitar satu minggu pembangunan pagar sudah rampung.
Bukan hanya pagar yang dibangun. Di bagian atas undag-undagan dekat padepokan, juga didirikan gapura kecil gaya Majapahit.
Keberadaan gapura itu juga menambah kesan wingit dan mistis di sekitar padepokan.
Para pengunjung menanggap pagar dan gapura kecil itu sebagai objek untuk spot foto.
"Jadi pangling, sekarang kondisinya lebih bagus. Anak-anak juga lebih tertarik pastinya," kata Mohammad Yasin, pengunjung dari Sambijajar, Sumbergempol, kemarin. (sri)
Editor : Sandy Sri Yuwana