TULUNGAGUNGAN - Berawal dari halaman kosong yang ada di sebuah gang di Dusun Nganggrek, Desa Kalidawir/Kecamatan Kalidawir, kini tumbuh sebuah pusat agro inovasi yang tak hanya memenuhi kebutuhan pangan lokal, tapi juga berhasil menembus pasar internasional, termasuk hingga ke Hong Kong.
Gang kecil Bernama Gang Swasembada ini menjelma menjadi simbol kemandirian pangan dan gerakan pertanian komunitas berbasis pekarangan rumah.
Hasil kesuksesan ini tak lepas dari peran sentral Prisma Pratamasukma, mantan bankir yang memutuskan beralih haluan ke dunia pertanian bersama istrinya.
Berbekal semangat belajar otodidak melalui YouTube dan literatur online, Prisma memulai dari nol: menyemai, menanam, merawat, dan memanen sendiri tanpa bantuan eksternal.
“Banyak yang meragukan di awal, tapi saya terus bekerja hingga warga melihat hasilnya,” ungkapnya penuh semangat.
Gang Swasembada kini menerapkan metode inti-plasma.
Rumah Prisma berfungsi sebagai inti pusat produksi, pelatihan, dan distribusi.
Sementara warga yang tergabung sebagai plasma mengembangkan budi daya di halaman rumah mereka.
Sistem tersebut membuat produksi lebih merata dan efisien.
Komoditas utama seperti sawi pakcoi laris manis di toko sayur, minimarket, dapur sehat, dan pesantren.
Bahkan, kini mereka sedang menjalin kerja sama dengan restoran dan kafe.
Tak hanya itu, produk olahan khas desa termasuk bawang merah goreng dan sambal juga ikut mencuri perhatian pasar internasional dan telah dikirim hingga ke Hong Kong.
Adanya permintaan yang terus meningkat mendorong pengembangan plasma baru serta sinergi antar rukun tetangga agar kapasitas produksi bisa mengikuti laju pasar.
Terkait pendanaan kegiatan ini sebagian besar bersumber dari swadaya warga serta dukungan sponsor, seperti pabrik benih Cap Panah Merah dan komunitas lokal.
Kepala dusun berperan besar dalam memberi semangat dan fasilitasi, begitu pula Camat Kalidawir, Bapak Rusdi, yang konsisten hadir memberikan dukungan moral dan motivasi.
Meski peran pemerintah desa masih belum optimal, semangat gotong royong menjadi energi utama kemajuan komunitas ini.
Gang Swasembada tak hanya menanam sayur, tapi juga menumbuhkan semangat belajar bersama lewat berbagai program unggulan.
Di antaranya, Agroedukasi, berupa edukasi lapangan langsung dan pelatihan terbuka yang membekali warga, siswa, maupun instansi dengan ilmu tentang budi daya tanaman, pembuatan pupuk organik, bahkan pakan ternak.
Kemudian, Agrodakwah, program yang menyatukan nilai spiritual dengan praktik pertanian.
Selain itu, Agrokomedi, hiburan edukatif berupa kartun dan humor ringan yang disebar untuk menjaga semangat positif di komunitas.
Tak ketinggalan, semangat berbagi terus dijaga lewat program sosial sayur gratis bagi warga kurang mampu dan lansia.
Lebih dari 100 paket sayur telah dibagikan secara bergilir di seluruh dusun.
Gerakan ini bermula dari satu RT yang mulai aktif mengembangkan pertanian di pekarangan rumah, lalu perlahan menginspirasi RT-RT lain untuk ikut terlibat.
Kini sudah ada 10 RT yang berpartisipasi dalam kegiatan budi daya dan distribusi, meski tingkat keterlibatannya masih bertahap.
Generasi muda desa juga jadi ujung tombak gerakan ini.
Suprapto, Ketua Taruna Tani "Agro Sinar Anggrek", bersama kelompoknya, menjadi motor utama produksi dan distribusi sayur.
Ke depan, Gang Swasembada berencana mengembangkan warung kuliner khas desa, agrowisata, dan budi daya tanaman buah sebagai bentuk diversifikasi ekonomi berbasis lokal.
Dengan omzet sekitar Rp 5 juta per RT per bulan, Gang Swasembada telah membuktikan bahwa pertanian rumahan bisa menjadi jalan kemandirian dan keberlanjutan ekonomi warga.
Kolaborasi dengan sekolah dan UMKM membuka peluang lebih besar.
Gapura megah hasil swadaya kini berdiri sebagai simbol keberhasilan dan kebanggaan bersama.
Pengakuan dari Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur yang menetapkan wilayah ini sebagai "Gang Swasembada, Kampung Agro dan Inovasi" menjadi validasi atas kerja keras warga.
Harapannya, perjuangan dan dedikasi warga Gang Swasembada ini mendapatkan apresiasi nyata dari pemerintah kabupaten dan instansi terkait agar semangat serupa bisa tumbuh di banyak desa lain.
Gang Swasembada menjadi bukti bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil, halaman rumah, dan tekad yang tulus.
Di tangan warga, pekarangan tak sekadar tempat kosong, tapi jadi sumber pangan, ilmu, kebersamaan, dan inspirasi dunia. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah