TULUNGAGUNG- Di era serba instan dan online seperti sekarang di Tulungagung, kita bisa pesan makanan dari mana saja, kapan saja.
Tapi ada satu jenis kuliner yang tetap langka di Tulungagung, eksklusif, dan penuh kenangan jajanan tradisional yang cuma muncul saat hajatan!
Mulai dari apem selong, ketan serundeng, hingga jenang abang-putih, camilan-camilan ini seolah punya "jadwal tayang" sendiri hanya keluar saat ada pernikahan, khitanan, atau acara syukuran di pedesaan Tulungagung.
Baca Juga: Grontol, Jajanan Tradisional Tulungagung jadi Favorit Warga dan Legendaris hingga Bikin Nostalgia
Jajanan hajatan bukan cuma soal rasa. Ia adalah bagian dari tradisi.
Misalnya, apem selong yang terbuat dari tepung beras dan santan melambangkan permohonan maaf dan harapan akan rezeki.
Lalu ada ketan serundeng, paduan ketan putih dan kelapa parut berbumbu manis-gurih yang biasanya dibagikan sebagai "berkat" setelah acara.
Semua itu tidak mudah ditemui di pasar atau toko, karena memang dibuat khusus untuk momen sakral.
Baca Juga: Jajanan SD di Tulungagung yang Kini Diburu Anak Dewasa
Bagi banyak orang yang merantau, mencium aroma kue apem atau melihat tampah berisi ketan serundeng bisa langsung membangkitkan kenangan masa kecil duduk di tikar sambil mendengarkan musik dangdut dari sound hajatan, atau membantu ibu menata jajanan di daun pisang.
Rasanya bukan cuma manis di lidah, tapi juga hangat di hati.
Baca Juga: Pasar Malam Tulungagung Antara Hiburan, Mitos, dan Jajanan yang Bikin Rindu
Uniknya, jajanan ini tidak perlu bahan mahal. Tapi karena hanya dibuat di waktu-waktu tertentu, keberadaannya jadi spesial.
Inilah yang membuat konten seputar jajanan hajatan selalu menarik mereka eksklusif, penuh cerita, dan jadi pengingat akar budaya kita.
Jajanan hajatan adalah bukti bahwa makanan bisa lebih dari sekadar konsumsi. Ia bisa menjadi simbol, memori, dan bagian dari identitas.
Jadi, kalau kamu lagi pulang kampung dan melihat tampah berisi apem atau ketan serundeng, jangan lupa ambil satu dan simpan rasa rindunya dalam-dalam. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah