TULUNGAGUNG - Di sudut-sudut kampung Tulungagung, masih hidup satu tradisi kecil yang membuat hati hangat anak-anak bisa jajan meski tanpa uang di tangan.
Mereka tinggal bilang, “Bu, titip dulu ya,” dan si ibu warung pun langsung mengangguk sambil mencatat angka kecil di buku lusuhnya.
Itulah tradisi ‘titip jajan’, atau utang jajan, yang ternyata tak sekadar soal makanan ringan, tapi soal kepercayaan dan kejujuran.
Mayoritas warung kampung masih menyimpan buku catatan sederhana. Isinya? Nama-nama anak dengan catatan seperti “krupuk 500”, “permen 2 biji”, atau “es mambo 1”.
Lucunya, para ibu warung ini hafal betul siapa yang ngutang, meski anak-anak itu datang dalam gerombolan.
Buat anak-anak, momen titip jajan ini sebenarnya penuh rasa malu.
Tapi hampir semua dari mereka akan datang kembali beberapa hari kemudian, menyerahkan uang recehan hasil tabungan atau sisa uang jajan dari orang tua.
Meski zaman makin modern, dan anak-anak sekarang banyak yang sudah pegang HP, tradisi jajan utang ini masih hidup. I
ni bukan sekadar transaksi, tapi bentuk gotong royong kecil antara warung dan anak-anak di lingkungan sekitarnya.
Rasa saling percaya, tanggung jawab, dan kepedulian tumbuh dari hal sederhana seperti permen seribuan.
Dan entah bagaimana, di banyak warung seperti ini, tak pernah ada anak yang benar-benar lari dari utang jajannya.
Titip jajan mungkin tampak remeh di mata orang kota. Tapi bagi anak-anak kampung di Tulungagung, itu adalah kebebasan kecil yang menyenangkan bisa ikut jajan, meski belum pegang uang.
bagi ibu warung, itu adalah bentuk kasih sayang dan kepercayaan pada generasi kecil kampungnya.
Siapa sangka? Dari permen dan krupuk, tumbuh nilai-nilai besar yang diam-diam membentuk karakter.
Kalau kamu punya kenangan serupa soal “titip jajan”, boleh banget diceritakan ulang karena dari cerita-cerita kecil seperti ini, kita tahu bahwa kejujuran masih hidup, bahkan di balik bungkusan permen seribuan. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah