Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kursi Plastik versi Tulungagung yang Ada di Pinggir Jalan jadi Tempat Nongkrong dan Tak Lekang oleh Waktu

Yoga Dany Damara • Rabu, 16 Juli 2025 | 18:30 WIB
Di Tulungagung, ada versi yang lebih sederhana, lebih jujur, dan lebih membumi kursi plastik di pinggir jalan buat nongkrong.
Di Tulungagung, ada versi yang lebih sederhana, lebih jujur, dan lebih membumi kursi plastik di pinggir jalan buat nongkrong.

TULUNGAGUNG - Di kota-kota besar, nongkrong sering diasosiasikan dengan kafe estetik, kopi susu seharga dua puluh ribu, dan foto untuk media sosial. Tapi di Tulungagung, ada versi yang lebih sederhana, lebih jujur, dan lebih membumi: kursi plastik di pinggir jalan.

Bayangkan sebuah sore di kawasan Tulungagung pinggiran, termasuk Ngunut, Campurdarat, atau Boyolangu. Sebuah warung kecil buka setengah pintu, di depannya terjejer beberapa kursi plastik warna-warni yang sudah mulai pudar dimakan matahari.

Di sana, duduklah dua-tiga orang bapak-bapak atau pemuda pinggiran Tulungagung, masing-masing memegang gelas teh manis, rokok di tangan, dan obrolan ringan yang mengalir tanpa tekanan.

Kadang tentang harga cabai, kadang tentang motor baru tetangga, kadang tak lebih dari gumaman tentang cuaca.

Kursi plastik itu bukan sekadar tempat duduk. Ia adalah simbol keterbukaan. Tak ada undangan resmi, tak perlu pesan tempat, siapa saja boleh bergabung.

Lewat situ, silaturahmi tumbuh, kabar menyebar, dan solidaritas kampung terjaga. Nongkrong bukan cuma perkara santai, tapi juga cara menjaga ritme hidup agar tak terlalu tergesa.

Menariknya, kebiasaan ini tak terikat waktu. Pagi bisa jadi momen ngopi singkat sebelum berangkat kerja.

Siang, kadang jadi tempat berteduh dari terik sambil menunggu istri belanja di pasar. Malam, menjadi ruang diskusi panjang yang kadang dimulai dengan canda, dan berakhir dengan tawa atau renungan dalam diam.

Fenomena kursi plastik ini tersebar di sudut-sudut Tulungagung. Di depan toko material, di sisi pos ronda, bahkan di emper rumah yang menghadap jalan.

Sering kali, tak ada aktivitas utama sekadar “memandangi jalan” sudah cukup. Tapi justru di situlah letak istimewanya: menikmati momen tanpa harus selalu produktif.

Di era digital yang serba cepat, kebiasaan nongkrong di kursi plastik ini jadi semacam perlawanan kecil. Ia mengajarkan bahwa kebahagiaan bisa hadir dari hal-hal sederhana.

Bahwa obrolan hangat tak harus lewat grup WhatsApp, dan bahwa memperlambat langkah kadang perlu, agar hidup terasa lebih hidup.

Jadi, lain kali Anda melewati sudut jalan dan melihat sekelompok orang duduk di kursi plastik, jangan buru-buru menilai mereka menganggur.

Bisa jadi, mereka sedang menjalani versi kecil dari kebahagiaan duduk, melihat, dan merasa terhubung. Tulungagung sekali lagi menunjukkan bahwa kadang, yang paling bermakna justru yang paling sederhana. (*)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#tulungagung #plastik #nongkrong #kafe #kursi