RADAR TULUNGAGUNG - Di Tulungagung, ada satu fenomena yang selalu dinanti para peternak, pembeli, hingga pedagang musiman pasar hewan musiman.
Tidak seperti pasar pada umumnya yang buka setiap pekan, pasar ini hanya beroperasi di waktu-waktu tertentu, biasanya menjelang musim tanam atau mendekati Hari Raya Idul Adha.
Saat itu, suasana desa dan kota menjadi lebih ramai dari biasanya.
Sejak subuh, derap langkah kaki dan suara embikan kambing mulai terdengar.
Jalanan menuju lokasi pasar dipenuhi truk, pikap, hingga gerobak yang mengangkut sapi, kambing, domba, bahkan kerbau.
Bau khas kandang bercampur aroma rumput segar langsung menyambut begitu kaki melangkah ke area pasar.
Bagi sebagian orang, aroma itu bukan sekadar bau melainkan tanda datangnya rezeki.
Menjelang musim tanam, pasar ini jadi pusat transaksi hewan untuk membajak sawah atau mengangkut hasil panen.
Sedangkan menjelang Idul Adha, jumlah hewan kurban yang diperjualbelikan melonjak drastis. Para pembeli datang dari berbagai kecamatan, bahkan dari luar Tulungagung.
Proses tawar-menawar pun berlangsung seru, lengkap dengan bahasa tubuh khas pedagang hewan: tepukan di punggung hewan, isyarat tangan, dan senyum yang menyiratkan kesepakatan.
Pasar hewan musiman ini juga menjadi ajang silaturahmi. Banyak warga yang datang sekadar melihat-lihat, bertukar kabar, atau membandingkan harga.
Pedagang makanan, penjual pakan, dan tukang tambal ban pun ikut kecipratan rezeki.
Meski perkembangan teknologi sudah merambah ke perdagangan hewan, dengan penjualan lewat media sosial atau grup WhatsApp, pasar hewan musiman Tulungagung tetap punya pesona tersendiri.
Di sinilah tradisi bertemu dengan kebutuhan ekonomi, membentuk sebuah keramaian yang hanya hadir beberapa kali dalam setahun namun selalu meninggalkan cerita.
Editor : Dharaka R. Perdana