RADAR TULUNGAGUNG – Perhelatan Ratu Film Festival (RFF) 2025 menjadi momentum penting bagi banyak kreator muda untuk menantang diri di dunia perfilman, termasuk tim Super Sangar.
Dikenal sebelumnya sebagai kreator konten pendek di media sosial, tim ini kini berani melangkah lebih jauh dengan memproduksi film pendek berjudul Tulang Punggung, yang sekaligus menjadi debut pertama mereka di ajang RFF.
Perwakilan tim, Faizin, menjelaskan bahwa saat ini mereka tengah menuntaskan proses shooting yang berjalan beriringan dengan tahap editing.
Baca Juga: Tim The Breaker Rules Garap Proses Editing Film untuk RFF 2025
“Kami biasa bikin konten TikTok yang cepat dan spontan. Nah, sekarang harus beradaptasi dengan dunia film yang serba detail. Mulai dari blocking, skenario panjang, sampai shot-list yang ketat. Rasanya menantang banget tapi juga seru! Kami belajar banyak hal baru,” ujarnya.
Perubahan format dari konten kreator ke pembuat film menjadi pengalaman paling menarik bagi tim Super Sangar.
Mereka mengaku RFF mendorong untuk keluar dari zona nyaman dan menjajal medium yang lebih serius.
Baca Juga: Libatkan 30 Kru dan Talent, Anonema Pictures Masuki Post Production di RFF 2025
“Dari yang awalnya cuma coba-coba, sekarang semua anggota total. Lelah iya, tapi ngelihat ide di script mulai hidup di kamera itu bikin semangat kami makin tinggi,” imbuh Faizin.
Namun, perjalanan mereka tidak lepas dari tantangan. Perbedaan ritme kerja dan kebutuhan teknis produksi film menjadi ujian tersendiri.
“Bikin film itu butuh koordinasi yang jauh lebih kompleks. Kita harus mikir continuity, manajemen waktu, dan kerja bareng banyak kru serta talent. Belum lagi keterbatasan alat dan budget. Tapi justru di situ kami jadi lebih kreatif,” kata Faizin.
Baca Juga: Sutradara Endik Koeswoyo Menilai Positif RaTu Film Festival 2025, Begini Pendapatnya
Tentang tema RFF tahun ini adalah tidak hilangnya rasa kepedulian. Dari situ Super Sangar menilai sangat relevan dengan realitas sosial anak muda saat ini.
“Tema ini menyentuh banget. Di zaman sekarang, kepedulian itu mulai luntur dari budaya. Melalui film ini kami ingin menggugah lagi rasa empati dan perhatian antar sesama,” jelasnya.
Keputusan ikut RFF, lanjut Faizin, berangkat dari keinginan tim untuk menguji kemampuan sekaligus memperluas ruang ekspresi.
“Kami ingin menantang diri. Setelah lama berkutat di konten singkat, RFF memberi ruang untuk bercerita lebih dalam dan berkontribusi bagi perfilman lokal Tulungagung,” tambahnya.
Film “Tulang Punggung” sendiri mengangkat kisah perjuangan anak muda yang harus menjadi penopang keluarga di usia muda.
Lewat karakter fiksional bernama Dani, tim Super Sangar ingin menyampaikan pesan tentang ketulusan, tanggung jawab, dan makna kepedulian dalam keluarga.
“Banyak anak muda di sekitar kita yang harus kuat sebelum waktunya. Kami ingin orang-orang lebih peka dan menghargai perjuangan mereka. Hidup akan terasa lebih ringan kalau ada yang mau saling peduli,” pungkas Faizin.
Dengan semangat eksplorasi dan pesan moral yang kuat, Super Sangar membuktikan bahwa transisi dari konten kreator ke pembuat film bukan hal mustahil.
Justru dari tantangan inilah karya yang penuh makna seperti “Tulang Punggung” lahir dan menjadi warna baru di RFF 2025. ****
Editor : Dharaka R. Perdana