RADAR TULUNGAGUNG - Di banyak rumah di Tulungagung, ada satu ritual sederhana yang hanya muncul ketika hujan deras turun menyiapkan ember di bawah genting yang bocor.
Kedengarannya sepele, tapi kebiasaan ini menyimpan kehangatan, humor, dan kearifan lokal yang tak pernah hilang meski zaman sudah semakin modern.
Baca Juga: Daur Ulang ala Wong Tulungagung Ember dari Kaleng Cat, Ayunan dari Ban Bekas
Ketika titik-titik air mulai jatuh dari langit-langit, warga langsung bergerak seperti pasukan cepat tanggap mengambil ember cat bekas, baskom, atau bahkan panci aluminium yang suaranya paling “merdu”.
Begitu air mulai menetes, rumah pun tiba-tiba berubah menjadi studio musik sederhana, dengan irama khas tik… tok… tik… tok. Kadang pelan, kadang heboh, tergantung seberapa parah bocornya genting.
Yang menarik, seni menaruh ember bukan sekadar soal menadah air. Ini adalah cara warga Tulungagung berdamai dengan kenyataan bahwa hujan adalah berkah, dan kebocoran adalah bagian dari hidup yang harus disiasati dengan santai.
Alih-alih murung, banyak yang justru menjadikannya momen bercanda “Gentinge ngambek maneh,” atau “Embéré kurang gede iki.”
Anak-anak sering ikut meramaikan, menggeser ember sedikit demi sedikit demi mencari posisi “tetesan terbaik”, layaknya sedang men-tuning alat musik.
Sementara orang-orang tua mengingat masa lalu berapa kali mereka menambal genting tapi tetap kalah oleh derasnya November.
Di balik suara “plung-plung” itu, ada keintiman rumah, ada kekompakan keluarga, dan ada budaya menerima hal-hal kecil yang tak sempurna.
Itulah seni menaruh ember di bawah genting bocor sederhana, jujur, dan sepenuhnya Tulungagung.
Kadang, justru dari tetesan bocor itulah kita belajar bahwa tidak semua masalah harus tergesa-gesa diperbaiki. Beberapa bisa dinikmati dulu suaranya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana