RADAR TULUNGAGUNG - Jika tahun punya perasaan, mungkin ia tidak akan buru-buru pergi dari Tulungagung.
Ia akan duduk sebentar lebih lama, menyesap kopi yang mulai dingin, memandangi langit sore yang tidak pernah benar-benar tergesa.
Di kota ini, waktu tidak didesak untuk selalu tampak meriah.
Tulungagung mengajarkan bahwa akhir tahun tidak harus berisik.
Tidak semua penutup perlu kembang api. Kadang, cukup hujan ringan di bulan Desember, jalanan yang lengang, dan rumah yang menunggu dengan lampu teras menyala.
Hari-hari terakhir tahun di Tulungagung terasa seperti jeda.
Orang-orang tetap bekerja, pasar tetap ramai seperlunya, warung kopi tetap buka dengan obrolan seadanya.
Tidak ada tuntutan untuk merayakan secara berlebihan. Hidup berjalan seperti biasa dan justru di situlah maknanya.
Jika tahun bisa merasa lelah, Tulungagung adalah tempatnya beristirahat. Di sini, tahun tidak perlu menjelaskan pencapaiannya.
Tidak perlu membandingkan dirinya dengan tahun orang lain. Ia cukup diingat, lalu dilepas perlahan.
Malam tahun baru pun sering berakhir sederhana. Ada yang memilih tinggal di rumah, ada yang keluar sebentar lalu pulang lebih cepat.
Tidak ada yang merasa ketinggalan. Karena di Tulungagung, kebahagiaan tidak diukur dari seberapa ramai perayaan, tetapi seberapa tenang hati menyambut hari esok.
Mungkin itu sebabnya, jika tahun punya perasaan, ia akan betah di Tulungagung.
Karena di sini, ia diterima apa adanya dengan segala cerita yang sudah terjadi, tanpa dipaksa menjadi sesuatu yang lain sebelum benar-benar berakhir.
Dan ketika akhirnya tahun harus pergi, ia pergi dengan tenang. Seperti caranya datang. Pelan. Tanpa drama.
Membiarkan kita siap membuka halaman baru, tanpa terburu-buru. ****
Editor : Dharaka R. Perdana