Bagi sebagian orang, keris identik dengan benda mistis dan sakral. Namun bagi kolektor keris Muhammad Zaki, keris adalah karya seni adiluhung, warisan intelektual para empu masa lalu yang sarat filosofi dan nilai peradaban.
Kecintaannya pada pusaka bahkan mengantarkannya memiliki koleksi yang tercatat dalam buku “Keris untuk Dunia” yang diterbitkan UNESCO.
Awalnya, Muhammad Zaki tidak langsung jatuh cinta pada keris. Sekitar tahun 2008–2009, ia justru lebih tertarik pada permata dan barang antik lain.
Titik balik terjadi ketika ia ditawari sebuah keris tua dengan kondisi sederhana, bahkan terkesan “tidak sempurna”. Namun justru dari situlah rasa cintanya pada pusaka tumbuh dan berkembang hingga kini.
Dari Satu Keris hingga Ribuan Pusaka
Dalam perjalanannya sebagai kolektor, Muhammad Zaki mengaku sempat memperkirakan koleksinya hanya ratusan. Namun setelah dilakukan pendataan dan pengemasan ulang, jumlahnya terus bertambah.
Hingga kini, ia memperkirakan memiliki lebih dari 2.000 pusaka, dengan sekitar 500 di antaranya telah terdokumentasi dan dikatalogkan.
Koleksi tersebut tidak hanya berasal dari Jawa. Ada pusaka Bugis dari Sulawesi, keris berhias emas dan permata dari Bali, hingga senjata tradisional dengan material langka seperti kayu timo, trembalo, dan ambonia.
Beberapa bahkan menggunakan emas murni dengan berat ratusan gram, mencerminkan status sosial tinggi pemiliknya di masa lalu.
Diakui Dunia Lewat Katalog UNESCO
Salah satu koleksi paling membanggakan bagi kolektor keris Muhammad Zaki adalah keris era Singosari yang masuk dalam katalog dunia UNESCO. Keris tersebut tercatat sebagai masterpiece karya empu Nusantara dan dipamerkan bersama pusaka-pusaka terbaik dari berbagai kolektor nasional.
Pengakuan ini, menurut Zaki, menjadi bukti bahwa keris adalah warisan asli Indonesia, bukan milik bangsa lain. “Ini persembahan Indonesia untuk dunia. Keris bukan sekadar senjata, tapi simbol peradaban,” ujarnya.
Seni, Filosofi, dan Nilai Spiritual
Muhammad Zaki menegaskan bahwa ia menikmati keris dari sisi seni dan filosofi. Baginya, pamor, dapur, dan bentuk bilah adalah representasi karakter pemiliknya. Keris lurus, keris berluk, hingga keris tanpa pamor memiliki makna masing-masing, mulai dari simbol kepemimpinan, spiritualitas, hingga laku hidup seorang ulama.
Meski tak menampik adanya sisi spiritual, Zaki mengaku tidak mengejar unsur mistis. Ia lebih menekankan pentingnya niat baik, penghormatan terhadap leluhur, serta menjaga adab dalam merawat pusaka. “Kalau niatnya baik, insya Allah hasilnya juga baik,” katanya.
Pagelaran 1.000 Pusaka di Tulungagung
Sebagai bentuk komitmen melestarikan budaya, Muhammad Zaki rutin menggelar pameran pusaka. Salah satunya Pagelaran Pesona 1.000 Pusaka yang digelar di Tulungagung pada 22–24 September 2023. Acara ini menghadirkan kolektor dari berbagai daerah seperti Yogyakarta, Solo, Surabaya, hingga Madura.
Tak hanya pameran, kegiatan ini juga menjadi ajang edukasi publik tentang keris, termasuk ilmu tangguh, sejarah empu, dan literasi pusaka agar generasi muda tidak salah memahami warisan leluhur.
Pesan untuk Generasi Muda
Di era digital, Zaki mengajak generasi muda memanfaatkan kemudahan akses informasi untuk belajar sejarah pusaka secara benar. Ia menekankan pentingnya referensi valid dari buku, katalog resmi, dan museum, bukan sekadar klaim tanpa dasar.
“Keris bukan jimat. Ini warisan budaya yang harus dirawat dengan ilmu, adab, dan cinta,” tegas kolektor keris Muhammad Zaki, menutup perbincangan.
Editor : Fadhilah Salsa Bella