Masjid kuno yang disebut-sebut muncul secara tiba-tiba di tengah hutan belantara itu dipercaya sebagai salah satu masjid tertua di Tulungagung, sekaligus peninggalan tokoh spiritual bernama Mbah Samidin.
Cerita tentang Masjid Tiban Macanbang berawal dari kisah warga yang tengah membuka lahan di kawasan hutan angker. Saat pepohonan dibabat, mereka terkejut mendapati sebuah bangunan masjid tua dengan atap alang-alang yang tertimbun sampah dan dedaunan. Tak ada jejak pembangunan, tak ada pula warga yang mengaku mendirikannya.
Kisah penemuan Masjid Tiban Macanbang kemudian menyebar dari mulut ke mulut. Dalam tradisi Jawa, istilah “tiban” merujuk pada sesuatu yang hadir secara tiba-tiba, di luar nalar manusia. Dari situlah masjid ini dikenal luas dengan nama Masjid Tiban Macanbang.
Jejak Mbah Samidin dan Kisah Macan Gaib
Menurut cerita tutur warga, masjid ini erat kaitannya dengan sosok Mbah Samidin, seorang tokoh spiritual yang diyakini memiliki kesaktian dan kedekatan dengan alam gaib. Mbah Samidin dikenal sering beribadah dan berwirid di kawasan hutan Macanbang pada masa lalu.
Nama Macanbang sendiri dipercaya berasal dari kata “macan”, merujuk pada kisah penampakan macan gaib yang kerap muncul di sekitar lokasi masjid.
Dalam beberapa cerita, macan tersebut bukanlah makhluk buas, melainkan penjaga kawasan dan pelindung masjid.
Ada pula kisah tentang dialog batin antara manusia dan makhluk gaib, termasuk sosok perempuan yang dikaitkan dengan legenda Nyi Roro Kidul.
Cerita-cerita ini semakin menguatkan kesan mistis yang menyelimuti Masjid Tiban Macanbang.
Masjid Tua di Tengah Hutan Angker
Sebelum menjadi kawasan permukiman seperti sekarang, Desa Macanbang dikenal sebagai hutan belantara yang lebat dan angker.
Warga meyakini hutan tersebut dihuni berbagai binatang buas dan makhluk halus, sehingga jarang ada orang yang berani masuk ke dalamnya.
Keberanian warga membuka hutan itulah yang kemudian mengungkap keberadaan Masjid Tiban Macanbang. Kondisinya kala itu memprihatinkan, atapnya dari alang-alang, lantainya tertutup tanah, dan bangunannya nyaris tak terlihat dari luar.
Namun yang membuat heran, masjid tersebut masih berdiri kokoh dan diyakini tetap “hidup” secara spiritual. Warga menyebut, meski tidak selalu digunakan, masjid itu seolah tidak pernah ditinggalkan.
Renovasi dan Upaya Pelestarian
Seiring waktu, warga mulai membersihkan dan merawat Masjid Tiban Macanbang. Atap alang-alang diganti, area sekitar dibenahi, dan masjid kembali difungsikan sebagai tempat ibadah. Hingga kini, masjid tersebut masih digunakan untuk salat, terutama pada momen-momen tertentu seperti bulan Ramadan.
Selain masjid, di sekitar lokasi juga terdapat sumur tua yang dipercaya memiliki nilai sejarah dan spiritual. Airnya sering digunakan warga untuk keperluan ibadah dan tradisi lokal.
Warga setempat menegaskan bahwa pelestarian masjid ini bukan semata karena kisah mistisnya, melainkan karena nilai sejarah dan religi yang dikandungnya.
Masjid Tiban Macanbang diyakini sebagai peninggalan ulama atau wali yang dahulu menyebarkan Islam di wilayah selatan Tulungagung.
Daya Tarik Wisata Religi dan Sejarah
Kini, Masjid Tiban Macanbang mulai dikenal sebagai destinasi wisata religi dan sejarah. Pengunjung datang tidak hanya untuk beribadah, tetapi juga untuk mengenal sejarah Islam lokal dan kearifan budaya Jawa yang menyertainya.
Meski demikian, warga dan tokoh masyarakat selalu mengingatkan pengunjung agar menjaga adab, tidak berbuat sembarangan, dan menghormati kesakralan tempat tersebut.
Mereka menekankan bahwa Masjid Tiban Macanbang bukan tempat mencari hal-hal mistis, melainkan tempat ibadah dan refleksi spiritual.
Di tengah modernisasi, keberadaan Masjid Tiban Macanbang menjadi pengingat bahwa sejarah, spiritualitas, dan budaya lokal Tulungagung masih hidup dan terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Editor : Fadhilah Salsa Bella