Cerita rakyat yang hidup turun-temurun ini mengisahkan pelarian Nyi Roro Kembang Sore hingga peristiwa memilukan yang menimpa Joko Bodo, seorang pemuda desa yang dikutuk menjadi batu.
Legenda Roro Kembang Sore Tulungagung tidak hanya dikenal sebagai kisah cinta bangsawan, tetapi juga sarat pesan moral tentang kesetiaan, penolakan yang dipaksakan, hingga akibat dari ucapan yang tak terkendali.
Bagian cerita tentang Gunung Budeg menjadi salah satu fragmen paling terkenal dalam babad Tulungagung.
Dalam Legenda Roro Kembang Sore Tulungagung, dikisahkan bahwa sang putri berhasil meloloskan diri dari peperangan besar yang merenggut banyak nyawa.
Dalam kondisi lelah dan penuh luka batin, ia melarikan diri menuju sebuah desa terpencil bernama Dadapan.
Baca Juga: Legenda Roro Kembang Sore Tulungagung, Kisah Cinta Tragis Putri Cantik yang Bertapa di Gunung Cilik
Pelarian Roro Kembang Sore ke Desa Dadapan
Sesampainya di Desa Dadapan, Roro Kembang Sore meminta perlindungan kepada seorang janda tua yang dikenal sebagai Mbok Rondo Dadapan. Ia tinggal bersama putra semata wayangnya yang bernama Joko Bodo.
Mbok Rondo menerima Roro Kembang Sore dengan tangan terbuka tanpa mengetahui latar belakang sang putri yang sebenarnya. Sejak saat itu, Roro Kembang Sore menjalani hidup sederhana dan berusaha menyembunyikan identitasnya.
Namun ketenangan tersebut tidak berlangsung lama. Joko Bodo terpikat oleh kecantikan Roro Kembang Sore. Hari demi hari, perasaan kagum itu berubah menjadi cinta yang mendalam.
Lamaran yang Terus Ditolak
Joko Bodo berulang kali menyatakan keinginannya untuk memperistri Roro Kembang Sore. Namun setiap kali lamaran disampaikan, sang putri selalu menolak dengan halus.
Penolakan tersebut tidak membuat Joko Bodo menyerah. Ia justru semakin gigih memperjuangkan cintanya. Setiap hari ia terus mendesak agar Roro Kembang Sore bersedia menjadi istrinya.
Desakan yang terus-menerus membuat Roro Kembang Sore mencari cara agar dapat menolak tanpa menyakiti hati pemuda tersebut secara langsung.
Syarat Tapa Bisu Empat Puluh Hari
Pada akhirnya, Roro Kembang Sore menyatakan bersedia menerima lamaran Joko Bodo dengan satu syarat. Ia meminta pemuda itu menjalani tapa bisu selama 40 hari 40 malam di sebuah gunung dekat desa.
Tanpa ragu, Joko Bodo menyetujui syarat tersebut. Ia mulai bertapa hanya beralaskan batu dan mengenakan penutup kepala tradisional. Selama pertapaan, ia bersumpah tidak akan berbicara sepatah kata pun.
Sementara Joko Bodo menjalani tapa bisu, Roro Kembang Sore diam-diam melanjutkan perjalanan menuju Gunung Cilik untuk melanjutkan pertapaannya sendiri.
Kutukan yang Mengubah Joko Bodo Menjadi Batu
Perjanjian antara keduanya tidak diketahui oleh Mbok Rondo. Suatu hari, ia pulang ke rumah dan mendapati anaknya serta Roro Kembang Sore tidak berada di tempat.
Dengan panik, Mbok Rondo mencari ke berbagai penjuru desa. Setelah lama mencari, ia menemukan Joko Bodo yang sedang duduk termenung menghadap ke arah selatan.
Mbok Rondo memanggil putranya berulang kali dengan suara keras. Namun Joko Bodo tetap diam karena sedang menjalani tapa bisu.
Karena tak mendapat jawaban, Mbok Rondo emosi dan mengumpat anaknya sebagai sosok durhaka yang dipanggil tak menjawab, bahkan disamakan seperti batu.
Tak lama setelah umpatan itu terlontar, petir menyambar keras. Seketika tubuh Joko Bodo berubah menjadi batu tepat di tempat ia bertapa.
Mbok Rondo menangis histeris dan menyesali ucapannya. Namun semuanya telah terlambat. Kutukan tersebut dipercaya sebagai akibat dari perkataan yang tak terjaga.
Asal-Usul Gunung Budeg yang Melegenda
Sejak peristiwa tersebut, masyarakat setempat menamai lokasi pertapaan itu sebagai Gunung Budeg. Nama tersebut diambil dari kisah Joko Bodo yang membisu saat dipanggil ibunya.
Konon, batu yang dipercaya sebagai jelmaan Joko Bodo masih ada hingga sekarang dan menjadi bagian dari cerita rakyat yang terus diwariskan lintas generasi.
Kisah tragis ini menjadi penutup cerita asmara antara Joko Bodo dan Roro Kembang Sore. Legenda tersebut tak hanya menjadi dongeng pengantar tidur, tetapi juga pengingat tentang pentingnya menjaga ucapan serta menerima takdir dengan lapang dada.
Legenda Roro Kembang Sore Tulungagung dan asal-usul Gunung Budeg kini menjadi bagian penting dari kekayaan budaya lokal yang masih dipercaya masyarakat hingga saat ini.
Baca Juga: Kembang Sore Tulungagung Jadi Sorotan, Pentas Seni dan Doa Bersama Bangkitkan Lagi Legenda Daerah
Editor : Fadhilah Salsa Bella