Gempa Susulan NTT Terjadi Ribuan Kali, Warga Bertahan di Tenda karena Trauma

Maylanni Diana Fitri • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 16:06 WIB
Gempa susulan NTT terjadi 2.928 kali dalam enam hari. Warga masih bertahan di tenda karena trauma dan khawatir guncangan kembali terjadi.(pinterest)
Gempa susulan NTT terjadi 2.928 kali dalam enam hari. Warga masih bertahan di tenda karena trauma dan khawatir guncangan kembali terjadi.(pinterest)

JAKARTA - Gempa susulan NTT terus mengguncang sejumlah wilayah di Flores setelah gempa utama berkekuatan Magnitudo 7,7. BMKG mencatat 2.928 gempa susulan terjadi selama enam hari hingga Rabu siang, sementara warga di sejumlah daerah masih memilih bertahan di tenda karena trauma dan khawatir guncangan kembali terjadi.

Dalam rekaman yang beredar, kepanikan terlihat di lokasi pengungsian di Kampung Binaan, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Warga berteriak saat merasakan guncangan keras yang disebut sebagai salah satu gempa susulan terkuat sejak Sabtu.

Gempa susulan tersebut dilaporkan berkekuatan hingga Magnitudo 5,7. Getaran kuat bahkan menyebabkan bangunan posko yang sebelumnya telah mengalami keretakan akhirnya ambruk. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu.

Menurut informasi dalam laporan, gempa susulan kuat tersebut terjadi beberapa kali dalam rentang sekitar 30 menit. Warga yang berada di pengungsian kembali dilanda kepanikan. Trauma akibat gempa utama dan guncangan yang terus berulang membuat sebagian masyarakat belum berani kembali ke rumah.

BMKG mencatat ribuan gempa susulan mengguncang Flores hingga Rabu siang. Berdasarkan pemutakhiran analisis BMKG, salah satu gempa susulan berkekuatan Magnitudo 5,1 terjadi pada kedalaman 10 kilometer.

Pusat gempa berada sekitar 50 kilometer arah timur laut Nagakeo, NTT, dan tidak berpotensi tsunami. BMKG menyebut rangkaian gempa susulan tersebut merupakan bagian dari aktivitas setelah gempa bumi Magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores.

Warga Diminta Waspada, Gempa Diprediksi Berlangsung Berminggu-minggu

BMKG menyatakan gempa susulan yang terjadi termasuk gempa dangkal akibat aktivitas sesar Flores. Guncangan dirasakan di sejumlah wilayah, antara lain Nagakeo, Palue, Sikka, Wewaria, dan Ende.

Baca Juga: Ratusan Kepala Sekolah Definitif di Tulungagung Tertunda, Terkendala Sistem Pusat

BMKG terus memantau aktivitas gempa dan menyampaikan informasi secara berkala kepada masyarakat. Dalam laporan tersebut, BMKG juga memprediksi guncangan susulan masih dapat berlangsung selama tiga hingga empat minggu ke depan.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap gempa susulan selama dua minggu ke depan. Namun, ia menegaskan guncangan yang perlu diwaspadai cenderung lebih kecil dibandingkan gempa utama.

Saat mengunjungi pengungsi di Kabupaten Sikka, Suharyanto menyebut ada masyarakat yang masih diliputi ketakutan karena isu akan muncul gempa lebih besar dan tsunami. Berdasarkan informasi yang diterimanya dari Kepala BMKG, hingga saat itu telah terjadi lebih dari 2.000 gempa susulan.

Sebanyak 81 gempa di antaranya dirasakan masyarakat. Namun, menurut Suharyanto, tidak ada gempa susulan yang skalanya melebihi Magnitudo 6,2.

Ia menjelaskan kondisi diharapkan semakin stabil dalam dua hingga tiga minggu. Meski gempa lanjutan masih mungkin dirasakan, ia meyakini kekuatannya tidak sebesar gempa utama.

Suharyanto juga menyampaikan informasi dari Kepala BMKG bahwa isu tsunami yang beredar tidak mungkin terjadi berdasarkan penjelasan ilmu pengetahuan yang diterimanya.

Warga Bertahan di Tenda Mandiri

Di Kabupaten Nagekeo, sebagian warga memilih mendirikan tenda mandiri di halaman rumah. Mereka belum berani tidur di dalam bangunan karena gempa susulan masih sering dirasakan.

Baca Juga: Jambu Kingdom Tulungagung, Hotel Bernuansa Kastil dengan Kamar Tematik

Seorang warga bernama Riswan Dapa mengatakan empat kepala keluarga dengan sekitar 20 jiwa telah bertahan di tenda sejak gempa pada 15 Agustus 2026. Hingga malam kelima, mereka masih tinggal di tenda sederhana untuk menghindari risiko akibat guncangan susulan.

"Kami membuat tenda mandiri sini pascagempa tanggal 15 Agustus kemarin," ujarnya.

Menurut Riswan, tenda tersebut dibuat menggunakan peralatan seadanya, seperti terpal dan tikar. Kondisi itu membuat warga membutuhkan tenda yang lebih memadai, terutama karena di lokasi terdapat lansia, anak-anak, dan bayi.

Ia mengatakan bantuan bahan makanan telah diterima melalui pemerintah setempat. Namun, kebutuhan warga masih cukup besar karena banyak pengungsi, baik yang berada di lokasi terpusat maupun di tenda mandiri.

Warga berharap bantuan berupa sembako, obat-obatan, vitamin, dan suplemen dapat terus tersedia. Mereka juga mengaku aktivitas sehari-hari terganggu karena trauma yang masih dirasakan.

Riswan menyebut gempa masih dapat dirasakan hingga berkali-kali dalam sehari. Karena itu, warga belum mengetahui sampai kapan harus bertahan di tenda. Sebagian rumah juga mengalami kerusakan sedang hingga berat dan dinilai tidak layak ditempati.

Editor : Maylanni Diana Fitri
Gempa Susulan NTT Gempa Flores 7 bmkg nusa tenggara timur