Gempa Flores M 5,8 Guncang Lagi, Pelajar Tidur di Lapangan hingga Warga Palue Terisolir

Maylanni Diana Fitri • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 16:39 WIB
Gempa Flores M 5,8 kembali mengguncang Nagekeo. Ratusan pelajar berhamburan, sementara warga Palue masih bertahan di pengungsian.(pinterest)
Gempa Flores M 5,8 kembali mengguncang Nagekeo. Ratusan pelajar berhamburan, sementara warga Palue masih bertahan di pengungsian.(pinterest)

NAGEKEO - Gempa Flores kembali mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Senin pagi. Gempa bermagnitudo 5,8 dengan kedalaman 10 kilometer di wilayah Kabupaten Nagekeo membuat ratusan pelajar berhamburan ke lapangan.

Guncangan terjadi ketika siswa SMP dan SMA Seminari Bunda Segala Bangsa sedang membersihkan halaman sekolah. Mereka langsung berlari menuju area terbuka karena takut gempa susulan kembali terjadi.

Kondisi tersebut membuat pihak sekolah tidak menggelar apel atau upacara bendera untuk memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Para pelajar memilih tetap berada di lapangan setelah merasakan guncangan.

Gempa itu merupakan bagian dari rangkaian guncangan setelah gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang NTT pada Sabtu sebelumnya.

Sejak gempa besar tersebut, para pelajar calon imam Katolik harus bertahan di lingkungan sekolah. Mereka belum dapat kembali menjalani aktivitas secara normal.

Pelajar Tidur di Lapangan Futsal

Kondisi para pelajar cukup memprihatinkan. Pada malam hari, mereka harus tidur di lapangan futsal dengan beralaskan kasur.

Baca Juga: Kepala Sekolah Masih Plt, Disdik Tulungagung Akui Ada Dampak pada Kenyamanan Kerja

Tidak tersedianya tenda membuat para siswa tidur di ruang terbuka. Mereka menghabiskan malam di bawah langit terbuka sambil tetap berada di lingkungan sekolah.

Situasi kembali menegangkan saat gempa bermagnitudo 5,8 mengguncang pada Senin pagi. Pelajar yang sedang membersihkan halaman langsung berlari ke lapangan.

Rangkaian guncangan membuat kegiatan sekolah ikut terganggu. Upacara bendera yang seharusnya digelar untuk memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI akhirnya tidak dapat dilaksanakan.

Para pelajar calon imam Katolik tersebut masih harus bertahan di lingkungan sekolah setelah gempa besar sebelumnya. Mereka menggunakan ruang terbuka sebagai tempat beraktivitas dan beristirahat.

Dampak gempa juga dirasakan masyarakat di wilayah lain, termasuk Pulau Palue. Ratusan warga masih bertahan di pengungsian dalam kondisi serba terbatas.

Desa Nitung Sulit Diakses

Desa Nitung menjadi salah satu wilayah yang mengalami keterisolasian. Akses darat menuju desa tersebut terputus akibat longsor dan kondisi tanah yang masih bergerak.

Baca Juga: Jambu Kingdom Tulungagung, Hotel Bernuansa Kastil dengan Kamar Tematik

Situasi tersebut membuat proses evakuasi maupun penyaluran bantuan menjadi lebih sulit. Satu-satunya akses yang masih memungkinkan menuju wilayah tersebut adalah melalui jalur laut.

Sejumlah rumah warga mengalami kerusakan. Warga terpaksa meninggalkan tempat tinggal dan bertahan di tenda-tenda darurat yang dibangun seadanya.

Keterbatasan akses membuat pemenuhan kebutuhan warga terdampak menjadi tantangan. Bantuan harus dikirim menggunakan jalur yang masih memungkinkan untuk dilalui.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengupayakan pengiriman bantuan melalui jalur yang tersedia. Langkah tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga yang terdampak.

Kondisi warga di Pulau Palue masih serba terbatas. Mereka belum dapat kembali ke rumah karena sejumlah bangunan mengalami kerusakan dan akses wilayah masih terkendala.

Sementara itu, para pelajar di Seminari Bunda Segala Bangsa juga masih menghadapi situasi serupa. Aktivitas belajar dan kegiatan sekolah harus menyesuaikan kondisi pascagempa.

Guncangan terbaru membuat mereka kembali berlari ke area terbuka. Tidur di lapangan futsal menjadi pilihan karena tenda belum tersedia.

Gempa Flores tidak hanya memicu kepanikan ketika terjadi guncangan. Dampaknya juga berlanjut pada kehidupan warga dan pelajar yang harus bertahan di lokasi aman.

Di satu sisi, para pelajar harus menghabiskan malam di ruang terbuka. Di sisi lain, warga Pulau Palue menghadapi persoalan akses akibat longsor dan pergerakan tanah.

Kondisi tersebut membuat proses penanganan warga terdampak membutuhkan akses yang dapat digunakan untuk evakuasi maupun distribusi bantuan. BNPB terus mengupayakan penyaluran kebutuhan dasar melalui jalur yang memungkinkan.

Editor : Maylanni Diana Fitri
Gempa Flores Nagekeo Pulau Palue Seminari Bunda Segala Bangsa bnpb