MAUMERE - Gempa NTT M 7,7 yang mengguncang pada Sabtu pagi memicu kepanikan di sejumlah wilayah. Warga di Kabupaten Selayar, Sulawesi Selatan, memilih melakukan evakuasi mandiri menuju dataran yang lebih tinggi.
Guncangan kuat yang berpusat di laut utara Nusa Tenggara Timur dengan kedalaman 10 kilometer tersebut terasa hingga Sulawesi Selatan. Warga Selayar terlihat berbondong-bondong meninggalkan rumah menggunakan kendaraan maupun berjalan kaki menuju lokasi yang dianggap lebih aman.
Situasi serupa juga terjadi di wilayah lain yang merasakan dampak gempa. Warga memilih menjauh dari kawasan pantai sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan tsunami.
Dari video amatir yang beredar, warga Selayar tampak bergerak menuju tempat yang lebih tinggi. Evakuasi dilakukan secara mandiri setelah warga merasakan guncangan gempa yang cukup kuat.
Air Laut Sempat Surut
Kepanikan juga terjadi di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Dalam video amatir warga, air laut di kawasan pantai terlihat sempat surut.
Baca Juga: Gempa Susulan NTT Magnitudo 5,7 Bikin Pengungsi Panik, 3.489 Guncangan Tercatat
Sejumlah kapal yang berada di sekitar kawasan tersebut juga terlihat miring akibat kondisi air laut yang surut. Situasi itu membuat warga khawatir karena perubahan air laut tersebut dianggap bisa menjadi tanda datangnya tsunami.
Namun, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG menyebut peringatan dini tsunami telah berakhir.
Meski peringatan dini tsunami berakhir, BMKG tetap mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap kemungkinan gempa susulan. Warga juga diminta memperhatikan informasi resmi terkait perkembangan situasi.
Kondisi air laut yang sempat surut juga terlihat di Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara. Dalam rekaman video amatir, gelombang air laut disebut sempat mencapai daratan.
Warga kemudian memilih menjauh dari kawasan tersebut dan mengungsi ke tempat yang lebih aman. Evakuasi dilakukan sebagai langkah antisipasi setelah gempa NTT M 7,7 mengguncang wilayah tersebut.
Puluhan Orang Meninggal
Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB melaporkan dampak besar akibat gempa NTT M 7,7. Hingga pukul 15.00, tercatat 38 orang meninggal dunia.
Baca Juga: Gempa Susulan NTT Terjadi Ribuan Kali, Warga Bertahan di Tenda karena Trauma
Selain korban meninggal, BNPB mencatat dua orang mengalami luka berat dan 11 orang mengalami luka ringan. Sekitar 2.000 orang juga dilaporkan mengungsi secara mandiri ke tempat yang lebih aman.
Gempa tersebut turut menyebabkan kerusakan pada sejumlah bangunan. Puluhan rumah dilaporkan mengalami kerusakan dengan kategori berat, sedang, dan ringan.
Beberapa titik jalan juga mengalami longsor sehingga akses menjadi tertutup. Sejumlah puskesmas dilaporkan rusak, sementara satu rumah sakit yang mengalami kerusakan berada di wilayah Mumeri.
Di Kabupaten Sikka, gempa dilaporkan menewaskan tiga warga. Warga yang terdampak kemudian melakukan pengungsian secara mandiri untuk menghindari risiko lanjutan.
Salah seorang warga Sikka, Nadya Yusran, mengatakan keluarganya masih dalam kondisi aman. Ia bersama warga lainnya memilih mengungsi secara mandiri di kawasan yang lebih tinggi di sekitar kantor bupati.
Nadya mengungkapkan gempa terjadi tanpa tanda-tanda sebelumnya. Guncangan disebut sangat dahsyat hingga membuat warga panik dan langsung melakukan evakuasi.
“Dengan guncangan yang sangat dahsyat,” kata Nadya saat menceritakan kondisi ketika gempa terjadi.
Saat ini, lokasi pengungsian mandiri di kantor bupati masih ditempati warga. Nadya memperkirakan terdapat sekitar 300 hingga 500 jiwa yang berada di lokasi tersebut.
Sebagian warga yang sebelumnya mengungsi di kantor bupati telah dipindahkan ke lokasi pengungsian yang ditetapkan pemerintah. Namun, masih ada warga yang memilih bertahan di tempat pengungsian mandiri.
Untuk kebutuhan pengungsi, Nadya menyebut logistik menjadi salah satu kebutuhan utama. Warga membutuhkan makanan cepat saji yang sehat serta air bersih untuk minum dan kebutuhan MCK.
Bantuan dari pemerintah setempat sudah diberikan. Namun, menurut Nadya, masih terdapat beberapa anggota keluarga yang belum mendapatkan bantuan.
Editor : Maylanni Diana Fitri