Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Asal-usul Pura Pulaki Bali: Tapal Batas Suci Penjaga Laut Utara dan Jejak Spiritual Dang Hyang Nirarta

Natasha Eka Safrina • Kamis, 15 Januari 2026 | 15:40 WIB

Asal-usul Pura Pulaki Bali, pura suci penjaga laut utara dengan jejak Dang Hyang Nirarta dan ratusan monyet penjaga spiritual.
Asal-usul Pura Pulaki Bali, pura suci penjaga laut utara dengan jejak Dang Hyang Nirarta dan ratusan monyet penjaga spiritual.

JAKARTA – Asal-usul Pura Pulaki Bali menyimpan kisah spiritual panjang yang tak terpisahkan dari sejarah peradaban Pulau Dewata. Berdiri kokoh di atas tebing karang di pesisir utara Bali, pura ini bukan sekadar tempat sembahyang umat Hindu, melainkan juga penjaga tapal batas suci antara daratan dan samudra.

Pura Pulaki Bali terletak di Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng. Lokasinya yang langsung menghadap Laut Bali menjadikan pura ini memiliki aura sakral sekaligus pemandangan alam yang dramatis. Deru ombak yang menghantam karang seolah menjadi pengiring doa yang tak pernah berhenti bergema.

Asal-usul Pura Pulaki Bali erat kaitannya dengan perjalanan suci Dang Hyang Nirarta, seorang pendeta besar dari Jawa yang datang ke Bali pada sekitar abad ke-16. Kehadiran tokoh agung ini menjadi tonggak penting dalam penyebaran dan penguatan ajaran Hindu Dharma di Bali.

Baca Juga: Transfer BRI Super League Putaran Kedua Panas Membara: David Da Silva Naturalisasi, Hulk Dikaitkan ke Persib hingga Persebaya Incar Striker Brasil


Jejak Dang Hyang Nirarta di Pesisir Utara Bali

Dang Hyang Nirarta dikenal sebagai tokoh spiritual yang berperan besar dalam mendirikan sejumlah pura penting di Bali. Dalam perjalanan sucinya menyusuri pesisir barat hingga utara Bali, beliau merasakan getaran energi spiritual yang sangat kuat di kawasan Pulaki.

Getaran inilah yang diyakini menjadi alasan Dang Hyang Nirarta menetap sementara dan membangun tempat suci di tepi laut tersebut. Pura Pulaki kemudian ditetapkan sebagai titik energi pelindung Bali dari arah barat laut, wilayah yang secara spiritual dianggap rawan terhadap pengaruh negatif dari laut.

Sejak saat itu, Pura Pulaki berkembang menjadi salah satu pusat pemujaan penting yang memiliki fungsi spiritual besar bagi umat Hindu di Bali.

Baca Juga: 10 Fakta Garuda Wisnu Kencana Bali yang Jarang Diketahui, Lebih Tinggi dari Patung Liberty dan Punya Lorong Misterius


Pura Kahyangan Jagat dan Penjaga Laut

Dalam struktur keagamaan Hindu Bali, Pura Pulaki tergolong sebagai pura kahyangan jagat. Artinya, pura ini menjadi tempat pemujaan bagi umat Hindu dari berbagai daerah, tidak terbatas pada satu desa adat saja.

Pura Pulaki juga merupakan bagian dari rangkaian pura segara atau pura penjaga laut, bersama Pura Rambut Siwi dan Pura Cok Batu. Ketiga pura ini membentuk sistem spiritual penjaga pesisir Bali, khususnya dari ancaman bahaya laut dan energi negatif.

Di pura ini, umat memanjatkan doa keselamatan, perlindungan, serta kelancaran rezeki. Nelayan dan petani pesisir utara Bali kerap datang untuk memohon hasil laut yang melimpah dan kehidupan yang seimbang.

Baca Juga: Grand Mega Diving Resort Karimun Jawa: Review Lengkap Resort Vibes Maldives, Harga, Fasilitas, hingga Plus Minusnya


Ratusan Monyet, Penjaga Spiritual Pura

Salah satu keunikan Pura Pulaki Bali adalah keberadaan ratusan monyet yang hidup bebas di sekitar kawasan pura. Masyarakat setempat meyakini monyet-monyet ini bukan sekadar satwa liar, melainkan penjaga spiritual pura.

Menurut kepercayaan turun-temurun, kawanan monyet tersebut merupakan perwujudan pasukan gaib yang dahulu mengikuti perjalanan Dang Hyang Nirarta. Mereka dipercaya menjaga kesucian pura dari gangguan kasat mata maupun tak kasat mata.

Hingga kini, monyet-monyet tersebut hidup berdampingan dengan umat dan pemangku pura, menjadi simbol harmonisasi antara manusia, alam, dan kekuatan spiritual.

Baca Juga: Pesona Brahma Vihara Arama Bali, Wihara Buddha Terbesar di Bali yang Tenang, Sakral, dan Jadi Favorit Wisatawan


Pernah Rusak, Bangkit oleh Keteguhan Umat

Seiring perjalanan waktu, Pura Pulaki sempat mengalami kerusakan, terutama pada masa kolonial Belanda dan akibat gempa bumi. Namun semangat masyarakat Hindu di sekitarnya tidak pernah surut.

Melalui restorasi bertahap dan gotong royong, Pura Pulaki kembali berdiri megah tanpa kehilangan nilai sakralnya. Kini, pura ini tidak hanya berfungsi sebagai pusat ibadah, tetapi juga destinasi wisata religi dan sejarah yang penting di Bali utara.

Keberadaan Pura Pulaki menjadi penghubung antara manusia, alam, dan Tuhan dalam satu harmoni yang utuh.

Baca Juga: Sejarah Taman Ujung Karangasem Bali: Jejak Istana Air Raja hingga Jadi Destinasi Wisata Favorit Wisatawan


Warisan Leluhur yang Terus Dijaga

Lebih dari sekadar tempat sembahyang, Pura Pulaki Bali adalah simbol keteguhan iman, sejarah panjang, dan warisan leluhur yang hidup hingga kini. Di antara tebing batu dan samudra luas, nilai-nilai spiritual terus diwariskan lintas generasi.

Pura ini mengajarkan bahwa kekuatan sejati tidak selalu datang dari benteng fisik, melainkan dari keyakinan, doa, dan warisan budaya yang tak pernah padam. Menjaga Pura Pulaki berarti menjaga jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan Bali.

Baca Juga: Joao Tavares Masuk Radar Persebaya Surabaya, Bernardo Tavares Tegaskan Nasib Dejan Tumbas dan Ancaman Coret Pemain Asing

Editor : Natasha Eka Safrina
#Dang Hyang Nirartha #wisata religi #Pura Kahyangan Jagat #Pulaki #bali