RADAR TULUNGAGUNG – Desa Penglipuran di Kabupaten Bangli, Bali, kembali menjadi sorotan publik.
Desa adat yang berada di dataran tinggi ini disebut-sebut sebagai salah satu desa paling bersih dan paling rapi di dunia.
Klaim tersebut bukan sekadar kebanggaan lokal, melainkan telah diakui secara internasional oleh UNESCO.
Dalam penelusuran yang dilakukan melalui perjalanan langsung ke lokasi, Desa Penglipuran terbukti menyuguhkan tata ruang desa yang tertata rapi, bersih tanpa sampah, serta mempertahankan tradisi leluhur secara konsisten. Tak heran, desa ini masuk dalam jajaran tiga desa terbersih dan terawat di dunia.
Terletak sekitar 45 kilometer dari Kota Denpasar, Desa Penglipuran berada di ketinggian 600–700 meter di atas permukaan laut.
Suhu udara yang sejuk, berkisar 18–25 derajat Celsius, membuat kawasan ini nyaman dikunjungi sepanjang hari. Sejak pagi, suasana desa terasa tenang, jauh dari kebisingan kendaraan bermotor.
Jalan Desa Tanpa Kendaraan, Rumah Berderet Simetris
Salah satu keunikan utama Desa Penglipuran adalah jalur utama desa yang steril dari kendaraan.
Tidak ada motor maupun mobil yang melintas. Seluruh jalan utama hanya diperuntukkan bagi pejalan kaki, menciptakan suasana yang bersih, aman, dan nyaman.
Di sepanjang jalan tersebut, rumah-rumah warga tersusun simetris di kiri dan kanan dengan gerbang yang seragam.
Bentuk arsitektur ini telah dipertahankan secara turun-temurun sejak zaman leluhur. Seluruh bangunan menggunakan material alami seperti bambu dan kayu, termasuk atap rumah yang berlapis-lapis dari anyaman bambu.
Baca Juga: Pantai Coro Tulungagung, Surga Tersembunyi dengan Pasir Putih dan Laut Biru
Dapur Tradisional, Pusat Kehidupan Keluarga
Di balik kerapian desa, kehidupan tradisional masyarakat Penglipuran masih berjalan kuat.
Salah satu bangunan paling ikonik adalah dapur tradisional. Bangunan ini dibuat rendah sehingga setiap orang yang masuk harus menunduk, sebagai simbol penghormatan kepada pemilik rumah.
Dapur menjadi ruang multifungsi. Selain untuk memasak menggunakan tungku kayu bakar, ruangan ini juga digunakan sebagai tempat tidur orang tua dan penyimpanan hasil panen.
Meski modernisasi telah masuk, sebagian warga tetap mempertahankan fungsi dapur tradisional sebagai pusat kehidupan keluarga.
Filosofi Tri Mandala yang Menjaga Keseimbangan
Kerapian Desa Penglipuran tidak lepas dari konsep tata ruang adat Bali yang disebut Tri Mandala. Konsep ini membagi wilayah desa menjadi tiga bagian berdasarkan tingkat kesucian.
Bagian tertinggi disebut Utama Mandala, area paling sakral yang digunakan untuk pura desa dan tempat persembahyangan.
Di bagian tengah terdapat Madya Mandala, kawasan pemukiman warga. Sementara bagian terbawah adalah Nista Mandala, yang difungsikan sebagai area pemakaman.
Pembagian ruang ini mencerminkan filosofi keseimbangan hidup masyarakat Bali, di mana setiap tempat memiliki fungsi dan nilai spiritual masing-masing.
Sistem Kebersihan Ketat dan Kesadaran Warga
Sebagai desa terbersih, sistem pengelolaan sampah di Desa Penglipuran diterapkan dengan sangat disiplin.
Sampah dipilah antara organik dan nonorganik, dan tidak ditemukan sampah berserakan di sepanjang desa.
Kesadaran warga terhadap kebersihan bukan sekadar aturan, melainkan bagian dari nilai adat.
Gotong royong rutin dilakukan, termasuk kegiatan bersih-bersih yang melibatkan seluruh warga desa.
Baca Juga: Pantai Parangkusumo, Wisata Spiritual Penuh Sejarah di Bantul Yogyakarta
Hutan Bambu Sakral Seluas 45 Hektare
Selain kawasan pemukiman, Desa Penglipuran memiliki hutan bambu seluas sekitar 45 hektare dari total wilayah desa. Hutan ini dianggap sebagai pelindung desa sekaligus cadangan air alami.
Bambu dimanfaatkan untuk kebutuhan bangunan, peralatan rumah tangga, dan upacara adat.
Namun, penebangan bambu tidak boleh dilakukan sembarangan. Warga harus menunggu hari dan bulan baik sesuai kalender adat.
Hutan bambu ini juga menjadi habitat alami bagi burung dan serangga, menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus menciptakan suasana sejuk dan tenang.
Destinasi Wisata Budaya Kelas Dunia
Kini, Desa Penglipuran menjadi destinasi wisata budaya yang ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara.
Meski terbuka untuk wisata, desa ini tetap menjaga nilai adat dan tidak mengorbankan keaslian tradisi.
Keberhasilan Desa Penglipuran membuktikan bahwa pelestarian budaya, kebersihan lingkungan, dan keseimbangan alam dapat berjalan beriringan.
Tak berlebihan jika desa ini disebut sebagai contoh peradaban Nusantara yang diakui dunia.