Khol dan Nyadran dalam Tradisi Jawa, Pengingat untuk Tidak Melupakan Leluhur

Hikmatul Insaniya • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 20:55 WIB
Khol dan nyadran dijelaskan sebagai tradisi untuk mengingat leluhur sekaligus menjaga hubungan antargenerasi dalam kehidupan masyarakat Jawa.
Khol dan nyadran dijelaskan sebagai tradisi untuk mengingat leluhur sekaligus menjaga hubungan antargenerasi dalam kehidupan masyarakat Jawa.

 

KENDAL - Khol dan nyadran menjadi bagian dari tradisi yang dibahas dalam sebuah kajian tentang hubungan manusia dengan leluhur. Dalam penjelasan tersebut, khol dipandang sebagai agenda tahunan untuk mengingat, mendoakan, dan meneruskan penghormatan kepada orang-orang terdahulu.

Menurut pemaparan dalam video, masyarakat Jawa memiliki tradisi yang sudah berlangsung sejak lama untuk mengenang leluhur. Tradisi tersebut kemudian dijelaskan memiliki istilah yang berbeda, termasuk nyadran.

Khol disebut berkaitan dengan kegiatan mendoakan orang yang telah meninggal. Sementara dalam pemahaman tradisi Jawa, nyadran juga dikaitkan dengan penghormatan kepada leluhur.

Baca Juga: Bansos PKH BPNT Tidak Cair Meski Desil Rendah? Ini 3 Penyebabnya

Pembahasan tersebut menekankan bahwa tradisi lama tidak selalu harus dipahami secara terpisah dari ajaran agama. Justru, menurut narasumber, sejumlah kebiasaan masyarakat terdahulu mengalami penyesuaian setelah Islam datang.

Khol sebagai Pengingat Leluhur

Dalam penjelasannya, narasumber menyebut masyarakat Jawa memiliki kebiasaan untuk mengadakan kegiatan tahunan. Tujuannya agar generasi berikutnya tetap mengetahui siapa saja leluhur yang telah mendahului mereka.

Hal itu dianggap penting karena hubungan keluarga terus berkembang dari generasi ke generasi. Orang yang masih mengetahui secara langsung sosok kakek atau buyut pada suatu masa, beberapa generasi kemudian mungkin sudah tidak lagi mengenalnya.

Baca Juga: Desil 1-4 Tidak Dapat Bansos PKH/BPNT? Ini Solusi agar Bisa Cair Lagi

Karena itu, kegiatan tahunan dinilai menjadi salah satu cara untuk menjaga ingatan tersebut. Anak-anak yang masih kecil pun diharapkan tetap mengenal tradisi mendoakan leluhur.

Narasumber juga mengaitkan kegiatan tersebut dengan doa bagi orang-orang yang telah lebih dahulu beriman. Ia mencontohkan pembacaan doa untuk orang tua, kakek, nenek, hingga leluhur yang lebih jauh.

Dalam konteks tersebut, kegiatan khol tidak hanya dipandang sebagai acara berkumpul. Ada pesan agar generasi yang masih hidup tetap mengingat orang-orang yang menjadi bagian dari perjalanan keluarganya.

Tradisi yang Berkembang

Pembahasan mengenai nyadran juga dikaitkan dengan istilah-istilah Jawa yang mulai jarang dipahami generasi sekarang. Salah satunya adalah kata danyang dan dang hyang.

Narasumber menjelaskan bahwa istilah tersebut memiliki konteks bahasa Jawa yang berkaitan dengan orang tua atau leluhur yang dituakan. Menurutnya, perubahan penggunaan bahasa membuat sebagian istilah Jawa lama semakin jarang diketahui.

Ia menilai kondisi tersebut membuat tradisi perlu dipahami melalui konteks sejarah dan bahasa, bukan sekadar diberi label berdasarkan pemahaman masa kini.

Baca Juga: PKH BPNT Tahap 3 Belum Cair? Ini 3 Penyebab yang Perlu Dicek

Dalam pemaparannya, kegiatan mendoakan leluhur juga dapat dilakukan melalui pengajian, pembacaan doa, selawatan, hingga kegiatan sosial.

Kegiatan tersebut kemudian melibatkan banyak orang. Pedagang makanan, penjual bunga, penyedia perlengkapan acara, hingga orang yang terlibat dalam dokumentasi bisa ikut mendapatkan manfaat ekonomi dari kegiatan bersama.

Bagi narasumber, kondisi itu menunjukkan bahwa sebuah tradisi dapat menjadi ruang berkumpul sekaligus berbagi dengan masyarakat.

Pesan utama yang disampaikan adalah agar masyarakat tidak mudah melupakan sejarah keluarga dan tradisi yang diwariskan. Khol dan nyadran diposisikan sebagai salah satu bentuk pengingat agar generasi sekarang tetap mengetahui hubungan mereka dengan orang-orang yang telah lebih dahulu menjalani kehidupan.

source: YouTube/@kedatonpikatan

Editor : Hikmatul Insaniya
Khol Nyadran Tradisi Jawa budaya jawa leluhur