JAWAPOS.RADARTULUNGAGUNG.COM - Puluhan tahun, Hariyo menekuni pembuatan kerupuk rambak atau kerupuk kulit. Kerupuk berbahan dasar dari kulit sapi dan kerbau ini membutuhkan proses panjang sebelum dapat dinikmati. Tak ayal, rasa gurih dan renyah dari kerupuk tersebut sangat digemari oleh para pemburu foodie.
Tak lengkap rasanya ketika menikmati sepiring hidangan tanpa ditemani kriuknya kerupuk apalagi rambak. Salah satunya, kerupuk rambak alias kerupuk yang terbuat dari kulit ini melengkapi sensasi kuliner. Di Tulungagung, kerupuk rambak telah menjadi teman sehari-hari dalam menyantap hidangan.
Hariyo, salah satu produsen kerupuk rambak asal Tulungagung, telah 20 tahun atau dua dasawarsa membidangi pembuatan kerupuk rambak. Usaha yang diturunkan pendahulunya tersebut terus ia lestarikan hingga kini. “Usaha membuat kerupuk rambak ini sudah saya tekuni sejak 20 tahun lalu. Ya dari kakek ke orang tua juga membuat kerupuk rambak. Saudara-saudara saya juga membuat kerupuk rambak,” jelasnya kemarin (14/6).
Baca Juga: Perajin Batik Harus Paham Digital Marketing
Meski permintaan kerupuk rambak sempat surut saat pandemi, kini permintaan kerupuk rambak kembali ramai. Bahkan, pria yang akrab disapa Hari ini mendatangkan 10 ton kulit setiap bulannya untuk memenuhi permintaan pasar tersebut. Biasanya, permintaan kerupuk rambak ini didominasi para wisatawan. “Kurang lebih dalam satu bulan itu bisa sampai 10 ton kulit sapi dan kerbau. Ya, itu semua untuk bahan dasar pembuatan kerupuk rambak ini. Biasanya untuk oleh-oleh,” ucapnya.
Diketahui, dalam satu kali produksi kerupuk rambak, dia membutuhkan modal sebanyak Rp 15 juta. Dengan modal sebesar itu, dia mengaku keuntungannya bisa untuk membayar tenaga bantu atau karyawan dan menghidupinya selama ini. “Kalau pas dapat kulit yang bagus, untungnya ya lumayan,” paparnya.
Kulit-kulit bahan dasar kerupuk rambak itu ia dapatkan di wilayah luar Jawa. Seperti kulit sapi yang ia dapatkan di wilayah Kupang dan kulit kerbau dari wilayah Sumba, Nusa Tenggara Timur. Menurutnya, ketersediaan dari kebutuhan kulit-kulit tersebut tidak dapat dipenuhi di Tulungagung. “Ya jadinya harus mencari ke wilayah luar Jawa. Kalau hanya mengandalkan ketersediaan kulit di sini ya jelas kurang,” ungkapnya.
Baca Juga: Heru Wahyudi, Perajin Furnitur dari Barang Bekas
Pria berusia 50 tahun ini mengaku proses pembuatan kerupuk rambak ini cukup rumit. Adapun tahap pertama yaitu pembersihan kulit dari bulu serta kotoran lainnya. Kemudian, tahap selanjutnya dengan merendam kulit dengan kapur. Baru memasuki tahap pengolahan kulit dengan dimasak. “Kulit kerbau itu dibakar dulu bulunya. Kalau sapi itu direndam pakai kapur, ya sekitar seminggu perendaman. Kalau kulit kerbau, setelah dibakar, bulunya itu kemudian direndam satu hari terus dimasak,” ucapnya.
Tak hanya sampai di situ, masih terdapat proses selanjutnya yakni penyesuaian ukuran dengan menggunting kulit dan penjemuran. Dia masih memanfaatkan terik matahari untuk penjemurannya. Menurutnya, ketika cuaca sedang bagus, pembuatan kerupuk rambak ini dapat memakan waktu sekitar dua hingga tiga minggu. “Kalau rambak ini kurang kering, jadinya juga jelek. Setelah dimasak itu dikeringkan selama empat hari, lalu diberi bumbu, setelah itu dikeringkan lagi sampai 5 hari,” tutupnya.(*/c1/rka)
Baca Juga: Suparno, Perajin Beduk-Rebana yang Laris Manis Jelang Ramadan
Editor : Nanda Nila Alvinda