RADAR TULUNGAGUNG - Di tengah tantangan global seperti krisis pangan, perubahan iklim, dan ancaman ketergantungan pada impor, ada satu desa di Indonesia yang justru tampil sebagai contoh ketahanan pangan yang luar biasa.
Desa Ciptagelar, yang terletak di Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, dikenal sebagai desa adat yang memiliki cadangan beras cukup untuk 95 tahun ke depan.
Bagaimana mungkin sebuah desa memiliki cadangan pangan selama hampir satu abad? Jawabannya terletak pada sistem pertanian tradisional yang telah dijaga turun-temurun oleh masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar.
Baca Juga: Presiden Prabowo Sampaikan Kabar Positif terkait Capaian Investasi Nasional
Masyarakat Ciptagelar menganut prinsip bertani selaras dengan alam. Mereka menolak penggunaan pupuk kimia, pestisida sintetis, dan benih hasil rekayasa genetika (GMO).
Sebagai gantinya, mereka menggunakan benih lokal warisan leluhur, pupuk organik alami, sistem tanam tumpang sari, dan penghitungan musim tanam berdasarkan rasi bintang
Siklus tanam hanya dilakukan sekali dalam setahun, namun hasil panennya berkualitas tinggi dan cukup untuk memenuhi kebutuhan sepanjang tahun.
Baca Juga: UMKM Naik Kelas: Upaya Pemerintah Memberdayakan Pelaku Usaha Kecil
Salah satu kunci cadangan pangan di Ciptagelar adalah sistem penyimpanan gabah di leuit (lumbung padi bambu).
Ada tiga jenis leuit yakni pribadi, adat yang dikelola komunitas untuk kebutuhan darurat, dan induk yang menjadi pusat cadangan yang dijaga untuk generasi mendatang
Gabah yang disimpan dalam leuit bisa bertahan puluhan tahun tanpa rusak, karena ventilasi dan kelembapan dijaga secara alami.
Baca Juga: Tren Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Berikut Tantangan dan Peluang Setelah Lewati Beragam Polemik
Prinsip masyarakat Ciptagelar sangat unik: "Padi tidak untuk dijual". Semua hasil panen hanya digunakan untuk kebutuhan konsumsi dan disimpan.
Karena sistem penyimpanan leuit dilakukan setiap tahun dan hasilnya tidak diambil seluruhnya, maka jumlah cadangan terus bertambah dari tahun ke tahun.
Bahkan, menurut catatan adat, mereka tidak pernah mengalami gagal panen selama lebih dari 650 tahun. Inilah yang membuat cadangan pangan di desa tersebut sangat luar biasa dan tahan lama
Nah kamu juga harus tahu nih, bahwa sistem pertanian di Ciptagelar bukan hanya soal teknik, tapi juga tentang filosofi dan spiritualitas. Yakni
Baca Juga: Prediksi Ekonomi Indonesia 2025, Melambat di Tengah Tantangan Global dan Domestik
- Padi dianggap sebagai “ibu” yang harus dihormati.
- Tanah bukan untuk dieksploitasi, tapi dirawat seperti tubuh sendiri.
- Komunitas bertanggung jawab secara kolektif terhadap pangan bersama.
Desa Ciptagelar bisa menjadi model ketahanan pangan berbasis budaya dan alam. Tentunya layak ditiru untuk menciptakan swasembada pangan.
Baca Juga: Peran Pasar Tradisional di Tulungagung sebagai Salah Satu Penggerak Perekonomian di Era Modern
Dalam dunia modern yang semakin tergantung pada teknologi dan impor, desa ini memberi inspirasi nyata tentang ketahanan pangan berkelanjutan.
Sudah saatnya desa-desa lain di Indonesia menengok kembali kearifan lokal untuk memperkuat ketahanan pangan, bukan hanya untuk hari ini, tapi juga untuk masa depan. ****
Editor : Dharaka R. Perdana