Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Desa Ciptagelar di Sukabumi Punya Cadangan Pangan Selama 95 Tahun ke Depan, Ini Resepnya

Zahrotul Afkarina • Senin, 25 Agustus 2025 | 03:23 WIB

Di tengah tantangan global seperti krisis pangan, perubahan iklim, dan ancaman ketergantungan pada impor, ada satu desa di Indonesia yang justru tampil sebagai contoh ketahanan pangan yang luar biasa.
Di tengah tantangan global seperti krisis pangan, perubahan iklim, dan ancaman ketergantungan pada impor, ada satu desa di Indonesia yang justru tampil sebagai contoh ketahanan pangan yang luar biasa.

RADAR TULUNGAGUNG - Di tengah tantangan global seperti krisis pangan, perubahan iklim, dan ancaman ketergantungan pada impor, ada satu desa di Indonesia yang justru tampil sebagai contoh ketahanan pangan yang luar biasa.

Desa Ciptagelar, yang terletak di Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, dikenal sebagai desa adat yang memiliki cadangan beras cukup untuk 95 tahun ke depan.

Bagaimana mungkin sebuah desa memiliki cadangan pangan selama hampir satu abad? Jawabannya terletak pada sistem pertanian tradisional yang telah dijaga turun-temurun oleh masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar. 

Baca Juga: Presiden Prabowo Sampaikan Kabar Positif terkait Capaian Investasi Nasional

Masyarakat Ciptagelar menganut prinsip bertani selaras dengan alam. Mereka menolak penggunaan pupuk kimia, pestisida sintetis, dan benih hasil rekayasa genetika (GMO).

Sebagai gantinya, mereka menggunakan benih lokal warisan leluhur, pupuk organik alami, sistem tanam tumpang sari, dan penghitungan musim tanam berdasarkan rasi bintang

Siklus tanam hanya dilakukan sekali dalam setahun, namun hasil panennya berkualitas tinggi dan cukup untuk memenuhi kebutuhan sepanjang tahun.

Baca Juga: UMKM Naik Kelas: Upaya Pemerintah Memberdayakan Pelaku Usaha Kecil

Salah satu kunci cadangan pangan di Ciptagelar adalah sistem penyimpanan gabah di leuit (lumbung padi bambu).

Ada tiga jenis leuit yakni pribadi, adat yang dikelola komunitas untuk kebutuhan darurat, dan induk yang menjadi pusat cadangan yang dijaga untuk generasi mendatang

Gabah yang disimpan dalam leuit bisa bertahan puluhan tahun tanpa rusak, karena ventilasi dan kelembapan dijaga secara alami.

Baca Juga: Tren Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Berikut Tantangan dan Peluang Setelah Lewati Beragam Polemik

Prinsip masyarakat Ciptagelar sangat unik: "Padi tidak untuk dijual". Semua hasil panen hanya digunakan untuk kebutuhan konsumsi dan disimpan.

Karena sistem penyimpanan leuit dilakukan setiap tahun dan hasilnya tidak diambil seluruhnya, maka jumlah cadangan terus bertambah dari tahun ke tahun.

Bahkan, menurut catatan adat, mereka tidak pernah mengalami gagal panen selama lebih dari 650 tahun. Inilah yang membuat cadangan pangan di desa tersebut sangat luar biasa dan tahan lama

Nah kamu juga harus tahu nih, bahwa sistem pertanian di Ciptagelar bukan hanya soal teknik, tapi juga tentang filosofi dan spiritualitas. Yakni

Baca Juga: Prediksi Ekonomi Indonesia 2025, Melambat di Tengah Tantangan Global dan Domestik

Desa Ciptagelar bisa menjadi model ketahanan pangan berbasis budaya dan alam. Tentunya layak ditiru untuk menciptakan swasembada pangan.

Baca Juga: Peran Pasar Tradisional di Tulungagung sebagai Salah Satu Penggerak Perekonomian di Era Modern

Dalam dunia modern yang semakin tergantung pada teknologi dan impor, desa ini memberi inspirasi nyata tentang ketahanan pangan berkelanjutan.

Sudah saatnya desa-desa lain di Indonesia menengok kembali kearifan lokal untuk memperkuat ketahanan pangan, bukan hanya untuk hari ini, tapi juga untuk masa depan. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#Ciptagelar #ketahanan pangan #cadangan beras #sukabumi