RADAR TULUNGAGUNG - Menjelang akhir tahun, distribusi elpiji melon 3 kilogram di Tulungagung terpantau normal setelah sempat mengalami pembatasan dan keterlambatan pasokan di sejumlah kios selama dua hingga tiga bulan terakhir.
Para pengecer elpiji di Tulungagung menyebut pasokan yang sebelumnya dibatasi hingga hanya beberapa tabung kini kembali lancar, sementara harga jual terpantau tetap bertahan di angka Rp 20 ribu per tabung.
Yayok, penjual gas elpiji 3 kilogram di Kelurahan Kenayan, Kecamatan Tulungagung, membenarkan bahwa dua bulan terakhir, tepatnya pada September dan Oktober, tokonya sempat mengalami pembatasan distribusi.
Dalam periode itu, dia hanya menerima sekitar 5 hingga 10 tabung setiap pengiriman. Namun, kondisi tersebut kini telah berubah. Pengiriman gas ke tokonya kembali lancar dan tidak lagi dibatasi jumlahnya.
Dia menjelaskan, pembatasan tersebut terjadi karena stok di tingkat pangkalan sempat menipis. Kondisi itu membuat distribusi ke sub-pangkalan atau kios pengecer kecil seperti miliknya ikut tersendat sehingga jumlah tabung yang diterimanya pun terbatas.
“September, Oktober, itu kiriman dibatasi cuma 5-10 per toko. Kenapanya itu si katanya stok terbatas, makanya penjualan dibagi, tapi sekarang sudah normal lagi,” jelasnya beberapa hari yang lalu.
Sementara itu, terkait soal harga, Yayok menegaskan masih mempertahankan harga jual elpiji 3 kilogram di tokonya pada kisaran Rp 20 ribu per tabung.
Dia menjelaskan, meski sekarang tampak stabil, harga tersebut sejatinya sudah naik sekitar Rp 2 ribu dibandingkan awal tahun yang hanya sekitar Rp 18 ribu per tabung.
Kenaikan harga itu terjadi menyusul kericuhan kelangkaan massal. Tepatnya setelah pemerintah pusat mengeluarkan kebijakan baru yang mewajibkan transaksi gas melon dilakukan hanya melalui pangkalan serta melarang kios pengecer kecil ikut menjualnya.
Baca Juga: Libur Nataru Kali Ini Bakal Lebih Ramai, Kemenhub Memprediksi 119,5 Juta Orang Melakukan Perjalanan
“Awal tahun itu kan sempet langka, yang kasus rame-rame itu, nah mulai dari sana sampai sekarang harganya masih di 20 ribu, sebelumnya itu ya cuma Rp 18 ribu,” ujarnya.
Seorang penjual elpiji 3 kilogram di Kelurahan Kepatihan, berusia 70 tahun, yang enggan menyebutkan namanya itu mengungkapkan bahwa selama sekitar tiga bulan terakhir kiosnya kerap mengalami keterlambatan pasokan tabung.
Dia menyebut pengiriman sering datang tidak sesuai jadwal sehingga memengaruhi ketersediaan stok di kiosnya. Namun, dia menambahkan bahwa situasi tersebut kini mulai membaik.
“Ya, tiga bulan ini sering telat, selain itu biasanya dikasih 15 ini hanya 10, tapi sekarang ya syukurnya sudah normal,” katanya.
Kemudian untuk harga, gas elpiji 3 kilogram di tokonya kini dijual sebesar Rp 20 ribu per tabung. Dia menyebutkan bahwa ritme penjualan hariannya juga cenderung stabil tanpa mengalami penurunan berarti dengan harga tersebut.
Kendati demikian, pria yang sudah menjalankan kiosnya selama satu dekade itu berharap agar pasokan elpiji 3 kilogram untuk masyarakat dapat terus terjaga di masa mendatang.
Jangan sampai ada lagi keterlambatan maupun kelangkaan seperti yang sempat terjadi sebelumnya.
Bahkan, jika memungkinkan, dia juga ingin agar harga gas melon tersebut dapat diturunkan kembali sehingga beban masyarakat, terutama rumah tangga kecil, bisa sedikit lebih ringan. ****
Editor : Dharaka R. Perdana