RADAR TULUNGAGUNG- IHSG akhir tahun 2025 menutup perdagangan dengan pergerakan yang cukup dinamis.
Pada hari terakhir perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (30/12/2025), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka di zona merah dan sempat melemah di awal sesi.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan di kalangan investor, mengingat performa IHSG sepanjang 2025 sejatinya tergolong solid.
Berdasarkan data perdagangan, IHSG akhir tahun 2025 dibuka di level sekitar 8.500 atau melemah sekitar 0,4 persen.
Pada pukul 09.41 WIB, indeks tercatat berada di level 8.619 dengan pelemahan sekitar 0,24 persen dan nilai transaksi mencapai Rp7 triliun.
Pelemahan ini terjadi menjelang penutupan perdagangan terakhir tahun 2025 yang secara resmi ditutup oleh regulator.
Meski dibuka melemah, kinerja IHSG akhir tahun 2025 secara keseluruhan tetap menunjukkan tren positif.
Dalam periode satu bulan terakhir, IHSG tercatat menguat 1,14 persen. Secara kumulatif dalam tiga bulan, indeks menguat 6,2 persen.
Baca Juga: Saham BUMI Naik 14 Persen Tembus 390, Broker Besar Borong Saham, Ini Analisis Risiko dan Peluangnya
Bahkan dalam rentang enam bulan, penguatan IHSG mencapai 25,29 persen. Sementara secara tahunan atau year to date (ytd), IHSG berhasil mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 21,54 persen.
Target IHSG 9.000 Belum Tercapai
Pemerintah sebelumnya melalui Kementerian Keuangan menargetkan IHSG mampu menembus level 9.000 pada akhir tahun 2025.
Namun, sejumlah analis pasar menilai target tersebut belum dapat tercapai dalam waktu dekat.
Level psikologis 9.000 diperkirakan baru bisa diraih pada awal atau pertengahan tahun 2026.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas menilai pelemahan di penghujung tahun tidak perlu disikapi berlebihan.
Menurutnya, pergerakan IHSG masih berada dalam tren penguatan jangka menengah.
Faktor domestik dinilai tetap menjadi penopang utama pasar saham Indonesia.
Sentimen Domestik Masih Kuat
Salah satu sentimen positif datang dari hasil konsensus ekonomi yang disurvei Bloomberg.
Konsensus tersebut memperkirakan IHSG masih memiliki ruang untuk mencetak level yang lebih tinggi pada kuartal pertama 2026.
Harapan pasar turut didorong oleh sinyal kebijakan moneter Bank Indonesia.
Analis memperkirakan Bank Indonesia akan melakukan penurunan suku bunga acuan pada kuartal pertama 2026, yang berpotensi berlanjut pada kuartal kedua dengan pemangkasan sekitar 25 basis poin.
Kebijakan pelonggaran suku bunga ini dinilai akan memberikan stimulus tambahan bagi pasar modal dan aliran dana asing.
Selain itu, stabilitas inflasi inti yang masih berada dalam target Bank Indonesia juga menjadi faktor pendukung.
Pemerintah dinilai berhasil menjaga fundamental ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global.
Proyeksi Pergerakan IHSG
Sementara itu, VP of Equity Retail dari sejumlah perusahaan sekuritas memprediksi IHSG masih berpotensi melanjutkan penguatan.
Rentang pergerakan indeks diperkirakan berada pada level support 8.550 hingga 8.725, dengan potensi resistance di kisaran atasnya.
Dorongan aliran dana asing (foreign inflow) yang masih berlanjut menjadi respons positif pasar terhadap kebijakan suku bunga yang lebih longgar.
Kondisi ini turut memperkuat optimisme investor terhadap pasar saham nasional.
Rekor Pasar Modal Sepanjang 2025
Sepanjang tahun 2025, pasar modal Indonesia mencatatkan berbagai rekor baru. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut industri pasar modal menunjukkan kinerja yang cemerlang dengan belasan capaian all time high.
Hingga 7 November 2025, IHSG tercatat telah naik sekitar 18,57 persen dengan kapitalisasi pasar yang terus meningkat.
Direktur Bursa Efek Indonesia, Iman Rachman, juga menyampaikan bahwa potensi pertumbuhan pasar modal Indonesia masih relatif lebih tinggi dibandingkan bursa negara lain.
Pertumbuhan pasar modal Indonesia diperkirakan berada di kisaran 15 persen, melampaui rata-rata regional.
Data BEI menunjukkan nilai transaksi pasar modal sepanjang semester pertama 2025, yakni periode Januari hingga Juni, mencapai Rp14.449 triliun.
Angka tersebut mencerminkan tingginya aktivitas investor di pasar saham nasional.
Dengan berbagai sentimen positif tersebut, analis menilai target IHSG 9.000 tetap realistis, meski tidak tercapai di akhir 2025.
Level tersebut diproyeksikan dapat disentuh pada awal 2026 seiring berlanjutnya penguatan fundamental ekonomi dan dukungan kebijakan moneter.***
Editor : Vidya Sajar Fitri