Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Bitcoin Anjlok ke USD 64.000 Akibat Long Squeeze dan Outflow ETF, Awal Sell Off atau Peluang Rebound ke 74.000?

Lucky Naiha Syafira • Senin, 23 Februari 2026 | 15:10 WIB

 

Bitcoin anjlok ke USD 64.000 akibat long squeeze dan outflow ETF. Akankah rebound atau lanjut sell off?
Bitcoin anjlok ke USD 64.000 akibat long squeeze dan outflow ETF. Akankah rebound atau lanjut sell off?

RADAR TULUNGAGUNG - Bitcoin anjlok ke USD 64.000 pada awal pekan setelah beberapa hari bergerak dalam rentang sempit dengan volume perdagangan rendah. Penurunan ini memicu kepanikan di pasar kripto dan memunculkan pertanyaan besar: apakah ini awal dari sell off lebih dalam atau justru peluang rebound bagi para bulls?

Dalam 24 jam terakhir, kapitalisasi pasar kripto global tercatat turun 4,61 persen menjadi USD 2,23 triliun. Mayoritas koin di jajaran 10 besar juga kompak berada di zona merah dengan penurunan bervariasi hingga 6 persen. Tekanan jual yang menghantam Bitcoin ke area USD 64.000 disebut-sebut dipicu oleh fenomena long squeeze besar-besaran.

Long Squeeze Picu Likuidasi Ratusan Juta Dolar

Data likuidasi menunjukkan sekitar USD 405 juta posisi trader terhapus dalam 24 jam terakhir. Menariknya, 93,74 persen di antaranya berasal dari posisi long. Artinya, mayoritas trader yang bertaruh harga Bitcoin akan naik justru terpaksa keluar pasar akibat tekanan jual mendadak.

Area USD 66.800 hingga USD 64.000 sebelumnya memang dipenuhi tumpukan likuidasi signifikan. Saat harga menyentuh zona tersebut, gelombang likuidasi tak terhindarkan dan mempercepat penurunan harga. Namun, ada sisi positif yang mulai diperhatikan analis.

Sebagian besar likuiditas di bawah harga saat ini telah “dijemput”. Jika skenario ini merupakan strategi market maker untuk membersihkan likuiditas sebelum mendorong harga naik kembali, maka tekanan jual bisa saja mulai mereda dalam satu hingga dua hari ke depan.

Meski demikian, risiko tetap ada. Jika Bitcoin gagal bertahan, potensi pembentukan lower low baru terbuka lebar dengan target berikutnya di kisaran USD 54.000–55.000, area support kuat yang sebelumnya menahan harga selama berminggu-minggu.

Baca Juga: Analisis Bitcoin Terbaru: Sinyal Koreksi Besar atau Siap Reli ke 100K? Ini Target Harga dan Skenario Elliott Wave

Outflow Spot Bitcoin ETF Tekan Sentimen

Tekanan terhadap Bitcoin juga diperparah oleh arus keluar dana dari spot Bitcoin ETF. Dalam periode 11 hingga 20 Februari, mayoritas hari perdagangan mencatat outflow. Meski sempat terjadi inflow kecil sekitar 227 BTC dan 1.320 BTC, jumlah tersebut tidak sebanding dengan belasan ribu Bitcoin yang keluar dalam periode yang sama.

Kondisi ini mengindikasikan bahwa institusi masih cenderung melakukan distribusi dibanding akumulasi. Padahal, konsistensi inflow pada spot Bitcoin ETF sering menjadi katalis penting bagi kenaikan harga karena mencerminkan minat beli dari investor besar.

Meski tren outflow mulai melambat dibanding akhir Januari, pasar masih menunggu katalis positif yang mampu mengembalikan arus dana ke jalur inflow signifikan. Tanpa dukungan institusional, pemulihan harga Bitcoin berpotensi tertahan.

Analisis Teknikal: Golden Pocket Jadi Penentu

Secara teknikal, Bitcoin sebelumnya gagal menembus resistance kuat di area USD 68.200–68.700. Breakdown yang terjadi memicu pola bearish continuation menyerupai bearish flag di timeframe satu jam.

Saat ini harga berada di area Fibonacci golden pocket (0,618 retracement), zona krusial yang kerap menjadi titik balik harga. Jika mampu bertahan dan breakout dari garis tren terdekat, peluang menuju USD 74.000 hingga USD 76.000 terbuka kembali.

Namun jika tekanan jual berlanjut dan harga gagal mempertahankan golden pocket, probabilitas menuju area USD 55.000 semakin besar. Weekly chart bahkan menunjukkan empat hingga lima candle merah berturut-turut, menandakan tekanan bearish masih dominan.

Indikator teknikal memang mulai memasuki area oversold pada timeframe besar seperti weekly dan monthly. Namun analis mengingatkan bahwa sinyal oversold di timeframe besar membutuhkan ruang gerak dan tidak selalu menghasilkan pembalikan instan.

Baca Juga: Viral Bangga Anak Jadi WN Inggris, LPDP Panggil Suami Alumni Diduga Belum Tuntaskan Pengabdian, Terancam Kembalikan Dana Beasiswa?

Trader Diminta Lebih Sabar

Dalam kondisi volatil seperti ini, trader disarankan tidak agresif membuka posisi tanpa konfirmasi jelas. Breakout valid di atas resistance atau breakdown dengan pola lanjutan yang terkonfirmasi menjadi syarat utama sebelum mengambil keputusan.

Bagi investor jangka panjang, strategi dollar cost averaging (DCA) dinilai masih relevan selama memiliki manajemen risiko yang matang. Namun bagi trader jangka pendek, disiplin terhadap trading plan menjadi kunci agar tidak terjebak emosi pasar.

Awal pekan juga dinilai rawan manipulasi sebelum pembukaan pasar saham Amerika Serikat. Oleh karena itu, pelaku pasar disarankan menunggu konfirmasi pergerakan lanjutan dalam beberapa hari ke depan.

Kini, arah pergerakan Bitcoin berada di persimpangan krusial. Apakah USD 64.000 menjadi dasar rebound menuju rekor baru, atau justru pintu masuk menuju koreksi lebih dalam? Jawabannya kemungkinan segera terlihat dalam waktu dekat

Baca Juga: Viral Alumni LPDP Dwi Setia Ningtias: “Cukup Aku yang Jadi WNI, Anak-anakku Jangan”, Publik Geram dan Seret Nama LPDP

Editor : Lucky Naiha Syafira
#Bitcoin #Spot Bitcoin ETF #Long Squeeze #Likuidasi Kripto #Analisis teknikal