Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Black Friday: Sejarah di Balik Festival Belanja Terbesar di Dunia, Ternyata Tak Berkaitan dengan Belanja

Siti Fadhilah Salsabila • Jumat, 14 November 2025 | 17:30 WIB

Dulu disebut hari penuh kekacauan, kini jadi pesta belanja terbesar dunia. Yuk, kenali sejarah Black Friday
Dulu disebut hari penuh kekacauan, kini jadi pesta belanja terbesar dunia. Yuk, kenali sejarah Black Friday

RADAR TULUNGAGUNG - Setiap akhir November, dunia diserbu gelombang diskon besar-besaran yang dikenal sebagai Black Friday.

Bagi sebagian orang, ini adalah momen berburu barang impian dengan harga miring. Namun, tak banyak yang tahu, istilah Black Friday sebenarnya punya sejarah panjang yang tak selalu berkaitan dengan belanja.

Baca Juga: Raja Charles III Copot Gelar dan Usir Pangeran Andrew dari Istana, Imbas Skandal Epstein

Tradisi Black Friday bermula di Amerika Serikat, tepatnya sehari setelah Thanksgiving, yang selalu jatuh pada Kamis keempat bulan November.

Sejak tahun 1950-an, hari setelah Thanksgiving dianggap sebagai awal musim belanja Natal. Toko-toko mulai memberikan potongan harga besar untuk menarik pembeli, dan jalanan pun macet dipenuhi warga yang berburu diskon.

Istilah “Black Friday” pertama kali digunakan oleh polisi di Philadelphia pada 1960-an. Saat itu, mereka menyebut hari setelah Thanksgiving sebagai hari yang “hitam” karena lalu lintas kacau dan banyaknya tindak kriminal kecil akibat keramaian belanja.

Namun, seiring waktu, istilah itu berubah makna menjadi positif. Kata “black” mulai diartikan sebagai momen di mana toko-toko “berubah dari merah ke hitam” — artinya, mulai mendapatkan keuntungan besar.

Baca Juga: Eskalasi Perang Sudan dengan Jatuhnya El Fasher, Ribuan Warga Sipil Terjebak dan Risiko Genosida Meningkat

Kini, Black Friday telah menjadi fenomena global. Berbagai negara, termasuk Indonesia, ikut meramaikan dengan promo daring dan offline.

Tak hanya di toko fisik, platform e-commerce juga berlomba-lomba memberikan diskon besar untuk menarik konsumen, bahkan memperpanjangnya menjadi Cyber Monday atau Black Week.

Meski begitu, di balik euforianya, Black Friday juga menuai kritik. Banyak pihak menyoroti perilaku konsumtif dan limbah belanja yang meningkat drastis setiap tahunnya.

Karena itu, sebagian masyarakat mulai memilih belanja lebih bijak atau mengikuti tren alternatif seperti Buy Nothing Day yang mengajak untuk menahan diri dari konsumsi berlebihan.

Baca Juga: Jet Tempur dan Helikopter Angkatan Laut AS Jatuh Beruntun di Laut Cina Selatan, Nasib Kapal Induk USS Nimitz Disorot

Terlepas dari pro dan kontra, Black Friday tetap menjadi simbol unik dari budaya modern: ketika ekonomi, psikologi, dan gaya hidup bertemu dalam satu hari penuh diskon. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#belanja #black friday #america