Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Borobudur Silver Official Bongkar Fakta Kenaikan Harga Perak 2025, Silver Bar Jadi Rebutan hingga Tembus 200 Persen

Nabiyah Putri Wibowo • Rabu, 11 Februari 2026 | 18:00 WIB

 

Borobudur Silver Official ungkap kenaikan harga perak 2025 hingga 200 persen, silver bar jadi instrumen investasi baru.
Borobudur Silver Official ungkap kenaikan harga perak 2025 hingga 200 persen, silver bar jadi instrumen investasi baru.
RADAR TULUNGAGUNG – Borobudur Silver Official mengungkap fenomena kenaikan harga perak 2025 yang disebut-sebut melonjak hingga 200 persen dalam satu tahun.

Lonjakan drastis ini membuat perak tak lagi sekadar bahan perhiasan, tetapi berubah menjadi instrumen investasi yang diburu masyarakat.

Founder Borobudur Silver yang telah 36 tahun berkecimpung di industri kerajinan perak mengaku terkejut dengan gejolak harga tersebut.

Selama puluhan tahun memproduksi perhiasan handmade, ia terbiasa menghadapi fluktuasi harga bahan baku.

Namun kenaikan harga perak 2025 dinilai berbeda dan jauh lebih ekstrem dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Januari 2025 saya cukup terkejut. Tiba-tiba semua orang bertanya soal perak sebagai safe haven dan investasi,” ujarnya dalam kanal YouTube Borobudur Silver Official.

Fenomena ini membuat pelaku industri tak hanya bicara desain dan produksi, tetapi juga harus menjawab pertanyaan seputar investasi logam mulia, silver bar, hingga prediksi harga perak ke depan.

Baca Juga: Saham BUMI Turun ke 300? Ini Analisis Lengkap Fundamental, Isu MSCI, dan Perbandingan dengan DEWA

Harga Perak Melonjak Bertahap hingga 200 Persen

Kenaikan harga perak 2025 disebut terjadi bertahap sejak awal tahun. Dari Januari ke Februari, harga melonjak sekitar 30 persen.

Pada Maret kembali naik 10 persen. Tren kenaikan berlanjut hingga pertengahan tahun.

Puncaknya terjadi pada Juli 2025. Jika dihitung sejak Januari, harga perak sudah naik hingga 200 persen atau dua kali lipat lebih.

Kondisi ini membuat pelaku usaha harus segera melakukan penyesuaian harga produk.

Memasuki Oktober 2025, situasi disebut semakin mengkhawatirkan. Seluruh produk yang menggunakan bahan perak terpaksa direvisi harganya.

Produsen harus menghitung ulang biaya produksi karena bahan baku melonjak drastis.

Baca Juga: Saham BUMI Bersiap Akuisisi Lagi 6–12 Bulan ke Depan, Narasi Diversifikasi Makin Panjang hingga 2031

“Kami harus adjust harga. Kalau bahan naik dua sampai tiga kali lipat, produsen pasti harus menyesuaikan,” jelasnya.

Kenaikan tajam ini juga memicu kepanikan di pasar. Banyak orang berbondong-bondong membeli perak dalam bentuk batangan atau silver bar, bukan lagi sekadar perhiasan.

Perak Berubah Jadi Instrumen Investasi

Jika sebelumnya perak identik dengan cincin, gelang, atau anting handmade, kini tren bergeser ke batangan perak.

Silver bar dengan berat 1 kilogram, 500 gram, hingga 250 gram menjadi incaran investor.

Menariknya, pembelian silver bar dilakukan tanpa sistem uang muka (DP). Pembeli harus membayar lunas di awal meski barang baru tersedia beberapa waktu kemudian.

Hal ini menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap investasi perak.

Menurutnya, istilah “antam” kerap disematkan pada batangan perak, padahal yang benar adalah silver bar.

Batangan tersebut bisa dicetak oleh produsen yang memiliki mesin khusus dengan gramasi presisi.

“Ini namanya silver bar atau batangan perak, bukan semuanya disebut antam,” tegasnya.

Selain ukuran besar, Borobudur Silver juga mulai mencetak batangan kecil 10 gram, 25 gram, hingga 100 gram agar masyarakat dengan dana terbatas tetap bisa berinvestasi.

Langkah ini diambil agar investasi perak tidak hanya dinikmati kalangan bermodal besar.

Butiran atau Batangan, Mana Lebih Baik?

Dalam penjelasannya, ia membedakan perak butiran dan batangan. Perak butiran biasanya digunakan produsen perhiasan karena lebih mudah dilebur dan dibentuk.

Sementara investor cenderung memilih silver bar karena memiliki merek dan sertifikat.

Perak batangan memiliki biaya cetak tambahan, tetapi disertai identitas dan jaminan kadar. Sedangkan butiran tidak memiliki sertifikat khusus meski kadar kemurniannya bisa sama.

Ia mengingatkan masyarakat agar berhati-hati membeli perak di tengah tren investasi 2026. Banyak penjual baru bermunculan tanpa rekam jejak jelas, sehingga rawan penipuan.

“Belilah dari sumber yang bisa dipercaya. Jangan sembarangan karena mudah sekali dibohongi,” pesannya.

Industri UMKM Ikut Beradaptasi

Sebagai pelaku UMKM yang telah berdiri sejak 1989, Borobudur Silver mengaku harus cepat beradaptasi dengan perubahan pasar.

Selain memproduksi perhiasan handmade, kini mereka juga mempertimbangkan produksi batangan sendiri dengan sistem yang lebih sederhana namun tetap menjamin kadar dan keaslian.

Lonjakan harga perak 2025 menjadi pelajaran penting bahwa komoditas ini memiliki potensi besar sebagai aset lindung nilai. Namun di sisi lain, gejolak harga juga menuntut pelaku industri lebih adaptif dan transparan.

Memasuki 2026, tren investasi perak diprediksi masih akan menjadi perhatian. Dengan semakin banyaknya masyarakat yang melirik silver bar, edukasi tentang perak murni, kadar, dan sertifikasi menjadi kunci agar pasar tetap sehat dan terpercaya.

Baca Juga: Rapel dan Kenaikan Gaji Pensiun: TASPEN Tegaskan Belum Ada Keputusan Pemerintah, Hindari Hoaks

Editor : Nabiyah Putri Wibowo
#silver bar #investasi perak #harga perak terbaru #Borobudur Silver Official #kenaikan harga perak 2025