Sebagian orang menganggap bahwa hujan merupakan hal yang biasa, namun tidak untuk Satuan Petugas (Satgas) Bencana, cuaca itu membuat Satgas Bencana Polres Trenggalek, AKP Supadi selalu merasa tidak jenak.
HENNY SURYA AKBAR PURNA PUTRA, Kota, Radar Trenggalek
Dingin, lelah, letih pun jadi satu. Karena tenaganya telah terkuras dalam beberapa kegiatan kemanusiaan itu. Belum lagi soal penanggulangan dampak bencana longsor.
Namun semua itu terbayar sudah ketika melihat senyuman para pengungsi. Dalam benaknya bersyukur bisa membantu menyelamatkan para korban terdampak banjir dari maut.
Meskipun terkadang dia sendiri mengabaikan maut saat proses penyelamatan korban.
“Ini menjadi konsekuensi dari sebuah pengabdian menjadi anggota Polri. Dimanapun, kapan pun, termasuk ditugaskan bagian apa pun kita harus siap dan memberikan yang terbaik untuk masyarakat,” kata Supadi menceritakan pengalamannya dalam penanganan banjir terparah ketiga dalam sejarah Bumi Menak Sopal.
Bahkan saking parahnya, pemerintah setempat mengeluarkan status tanggap darurat bencana.
Menjadi anggota tim satgas bencana sebetulnya bukan pilihan. Dia harus meninggalkan keluarga sewaktu-waktu jika terjadi bencana alam.
Namun mengingat peran pentingnya di daerah – daerah rawan bencana seperti Trenggalek membuat Supadi menikmatinya. Walaupun segudang risiko kerap menghampiri.
“Saya kira semuanya merasakan hal yang sama. Ketika melihat senyum warga terdampak yang selamat, rasa letih, lelah semuanya seolah lunas terbayar. Ada rasa yang memang tidak bisa dinilai dari ukuran materi, ketika kita bisa bermanfaat untuk orang lain,” imbuhnya.
Meski apa yang dilakukannya tidak bisa menghapus duka korban terdampak bencana yang harus kehilangan benda berharga atau pun bahkan sanak keluarga. Apa yang mereka lakukan paling tidak bisa mengobati duka para korban terdampak.
Walaupun terkadang para tim penyelamat melupakan keselamatannya sendiri. Namun Supadi meyakini, selama niat itu baik untuk kemanusiaan, Tuhan akan memberikan perlindungan dalam menjalankan tugas. Menurutnya, misi kemanusiaan di atas segalanya.
“Kita memang dilatih harus siap dan sigap dalam kondisi apapun. Yang terpenting ikuti seluruh standar operasional prosedur dan berdoa, InsyaAllah kita akan diberikan keselamatan dan hasil yang maksimal,” pungkasnya. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah