Perjalanan pahit pernah dilalui Yemima Refi Fadila di dunia tarik suara. Sempat diremehkan karena berasal dari kota kecil, hal itu membuatnya termotivasi untuk berkarya lebih maksimal.
MOCHAMMAD LUKI AZHARI, Sananwetan, Radar Blitar
Meramu notasi nada dan lirik hingga menjadi sebuah lagu adalah hal yang mengasyikkan bagi Yemima Refi Fadila. Penyanyi berusia 28 tahun warga Jalan Pinus, Kota Blitar, ini memang kerap meluangkan waktunya untuk menuangkan kreativitas di bidang tarik suara. Inspirasi merangkai syair pun dia dapat dari pengalaman pribadi dan suasana hati.
Ada sejumlah lagu genre pop yang dia ciptakan. Hampir semuanya bertema kebahagiaan. Salah satu yang paling berkesan yakni lagu berjudul "Akhir Penantian" yang dia rilis saat akhir 2020 lalu. Mulai tahap penulisan hingga penyusunan aransemen musik dilakukan Refi melibatkan beberapa rekannya.
"Lagu itu menceritakan tentang seseorang yang bahagia dan jatuh cinta. Meski musiknya memang mellow, tapi gak sedih," ujar perempuan kelahiran 1995 silam ini.
Secara umum, menulis hingga menciptakan lagu itu susah-susah gampang. Refi menyebut lebih terbiasa memproduksi lagu ciptaannya bertema bahagia. Baginya, tema itu akan lebih mudah dibandingkan menulis lagu soal kesedihan.
Selain itu, lagu yang sebelumnya dia tulis sejatinya merupakan kado untuk sang kekasih dalam satu perayaan anniversary. Penulisan lirik dikebut kurang dari 10 menit, sedangkan proses penyelesaian seperti rekaman dan aransemen ditempuh sekira 1 bulan. Karya itu diunggah di salah satu platform musik digital.
"Bahwa itu sebenarnya lagu yang tetap jadi impian saya. Kalau nikah, saya bisa bawain," jelas perempuan yang hobi bermusik ini.
Perjalanan Refi meniti karier di dunia menyanyi tidak mudah. Dia mulai serius pada bakatnya saat duduk di bangku SMP. Kala itu usianya menginjak 14 tahun.
Refi dipercaya gurunya untuk mewakili sekolah pada ajang Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat provinsi. Meskipun saat itu dia dan tim harus pulang dengan tangan hampa, tetapi perjuangannya tak tuntas begitu saja.
Kesempatan emas mengikuti ajang serupa di bangku SMA pun dimanfaatkan sebaik mungkin. Latihan kerasnya membuahkan hasil dengan menyabet juara 1 se-Jatim. Selain itu, dia juga berhasil membentuk band pelajar di lingkungan sekolahnya.
"Benar-benar terbayar saat itu. Piagam kejuaraan akhirnya saya pakai buat daftar ke perguruan tinggi di Malang," paparnya.
Persoalan lain pun muncul saat dia menempuh kuliah di Malang. Relasi yang masih minim membuatnya sempat kebingungan. Singkat cerita, terdapat salah satu temannya asal kota kelahiran yang juga kuliah di Malang. Dia pun mendapat motivasi dan kembali menyanyi di sejumlah kafe.
Kemudian, dia pun mulai bergabung di band kampus. Sayangnya, tak sedikit yang memandangnya dengan sebelah mata lantaran berasal dari kota kecil. Perbendaharaan lagu pun juga tak terlalu diapresiasi oleh seniornya.
"Saya selama itu gak pernah menyerah, meskipun juga sering nangis. Saya cuma pengin buktikan bahwa saya bisa, tidak seperti yang mereka pikir," jelas perempuan lulusan fakultas ilmu administrasi ini.
Banyak hal pahit yang membuat terpuruk, justru jadi titik balik baginya. Dia membentuk grup musik di Malang dan kota kelahirannya. Grupnya kerap mengisi di berbagai acara.
Seperti gathering, resepsi pernikahan, hingga event lainnya. "Ke depan ingin terus berkarya, pastinya bernyanyi dan public speaking. Terima kasih buat dukungan dari keluarga, juga teman-teman semua," tandasnya.
Editor : Didin Cahya Firmansyah