BLITAR - Sudah sejak 2017 lalu, Sri Astutik, warga Desa/Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, menjajal peruntungan di dunia hasta karya. Khususnya pembuatan pot bunga dari serabut kelapa.
Meski sederhana, tak jarang dagangannya laris manis hingga dipesan pembeli dari luar kota. Sebab, selain ekonomis juga ramah lingkungan.
Ruangan minimalis di sebelah dapur menjadi area yang cukup sering disinggahi oleh Sri Astutik. Sejumlah peralatan untuk membuat kerajinan pot dari sabut kelapa terlihat jelas.
Seperti mesin khusus untuk menyatukan serat-serat sabut, beberapa benang, dan benda pembentuk cekungan pot. Semuanya tertata rapi agar setiap proses produksi dilewati secara runtut.
Tangan terampil perempuan berusia 44 tahun itu terlihat lihai menggulung sabut hingga berwujud memanjang. Hanya dalam waktu singkat, dia berhasil membuat beberapa pot.
Usaha sampingan ini memang dia tekuni bersama sang suami dan dua anaknya. Perjalanan Sri menekuni bisnis pot ini tidak instan.
"Namanya hidup, pasti selalu ada liku-likunya. Termasuk di awal bisnis. Sempat juga ingin berhenti, tapi termotivasi lagi karena kerja sama keluarga," ujarnya sambil tersenyum, Kamis (12/10/2023).
Sebelum jadi produsen pot sabut kelapa, dia lebih dulu bekerja di Hongkong menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) pada 2002 lalu.
Hidup di negeri orang selama 9 tahun, Sri memutuskan kembali ke tanah air. Lalu, ide membuat pot muncul setelah dirinya mengikuti sebuah pelatihan.
Menurutnya, sayang jika ilmu yang didapat dari pelatihan tersebut tidak dioptimalkan. Periode 2017 menjadi momentum dirinya mulai menggeluti usaha ini.
Meski sempat menyusuri masa-masa sulit, perempuan berhijab ini tak gentar. Dia terus berupaya meningkatkan kualitas produk, memasarkan di berbagai segmen masyarakat, serta terus berinovasi untuk memperluas target pembeli.
Media sosial kini menjadi salah satu andalan Sri untuk menjangkau calon pembeli dari berbagai daerah.
"Saling bantu, dari getok tular, juga memanfaatkan teknologi yang ada. Selain tahap pembuatan, pemasaran juga tidak mudah, harus telaten," tuturnya.
Dua jenis pot yakni pot gantung dan duduk jadi varian yang paling banyak diproduksi. Tahap pembuatan masing-masing pot ini juga tak terlalu berbeda.
Semula, gumpalan sabut kelapa harus dijemur untuk menghilangkan kadar air di serat. “Semua sabut kelapa ini saya dapat dari pengepul,” katanya.
Penjemuran tidak butuh waktu lama jika cuaca terik. Sabut yang telah kering, lalu dipilah secara manual dengan tangan.
Nah, ini merupakan tahap penting untuk menentukan kualitas pot yang dihasilkan.
Menurutnya, serat-serat itu masih harus dipilah lagi. Kali ini berdasarkan ukuran panjang dan pendeknya serabut.
Nantinya, sabut dengan serat panjang digunakan sebagai hiasan pot, sedangkan serat pendek untuk komposisi badan pot.
Hampir secara keseluruhan pot ini dibuat menggunakan bahan baku serabut kelapa murni.
Setelah terkumpul, serat tersebut dililit menggunakan mesin khusus yang dirancang oleh keluarga Sri. Kecepatan mesin pun menyesuaikan.
Apabila kerja mesin terlalu cepat, dia akan kewalahan menyiapkan bahan sabut untuk disatukan.
"Terus yang pendek itu ditampar (dililit) pakai mesin manual. Jadi, sabut nanti akan menyatu, tinggal disesuaikan dengan kebutuhan dan penggunaannya saja," sambungnya.
Sabut yang sudah dililit sempurna kemudian dikepang dua ataupun tiga ruas. Untuk menciptakan bentuk pot yang sempurna, dia menggunakan alat cetakan khusus agar pot membentuk cekungan.
Untuk membuatnya, sabut yang memanjang itu dibuat melingkar dan searah. Agar tak mudah lepas, beberapa sisi diikat memakai benang.
Susunan sabut berbentuk nampan dibuat khusus untuk pot duduk. Itu agar tidak mudah terguling saat diletakkan di meja atau di lantai.
Sedangkan untuk pot versi gantung, dia menambahkan lilitan tali sebagai media untuk menggantung pot.
"Supaya rapi, sabut yang keluar dari ikatan itu dibakar tipis-tipis. Supaya tampak halus dan rapi," tandasnya.
Adapun dalam sehari, Sri mampu membuat puluhan buah pot. Satu buah pot dihargai Rp 17.500 dan Rp 16 ribu untuk dijual kembali.
Daya beli dari dalam kota hingga luar provinsi cukup tinggi, seperti Sumatra, Kalimantan, Lampung, hingga Jakarta.
Jika dikalkulasi, rata-rata omzet yang didapat dalam sebulan berkisar Rp 2 hingga Rp 3 juta. (*/c1/sub)
Editor : M. Subchan Abdullah