Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Tragedi Penculikan Anak: Jejak Terakhir Alvaro Sebelum Hilang dan Ditemukan Meninggal Dunia

Ingge Nayla Ayu Karina • Senin, 24 November 2025 | 23:20 WIB

Kehilangan Alvaro mengingatkan pentingnya pengawasan anak di tempat umum.
Kehilangan Alvaro mengingatkan pentingnya pengawasan anak di tempat umum.

RADAR TULUNGAGUNG - Penantian panjang keluarga Alvaro Kiano Nugroho berakhir dengan duka.

Minggu malam, pihak kepolisian mengonfirmasi bahwa bocah berusia 6 tahun asal Kelurahan Bintaro, Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan itu ditemukan meninggal dunia setelah hilang selama delapan bulan. 

Sejak Maret 2025, Tugimin, kakek Alvaro, menuturkan cucunya hilang saat sedang bermain di Masjid Jami Almuflihun saat bulan puasa.

Alvaro bermain bersama teman-temannya di lantai dua masjid, sementara pengurus menyiapkan takjil berbuka puasa.

Saat asyik bermain, Alvaro dipanggil oleh seorang pria tak dikenal yang mengaku sebagai ayahnya.

Marbot masjid sempat menanyakan identitas pria tersebut, namun tidak curiga karena Alfaro memang diasuh kakek dan neneknya sejak bayi karena orang tuanya bekerja sebagai TKI di luar negeri.

Sang kakek yang bernama Tugimin menjelaskan jika sejak kecil Alvaro diasuh oleh mereka berdua karena orang tuanya di luar negeri.

"Saat itu, dia dipanggil pria yang mengaku ayahnya, dan kami tidak menyangka hal buruk akan terjadi,” jelasnya.

Baca Juga: Komunitas Serat Tulungagung Kembali Gelar Pameran Lukisan Bertajuk Ruang Rindu, Misi yang Mereka Bawa Ternyata Sederhana

Proses Pencarian yang Intensif

Polisi segera menindaklanjuti laporan dengan memeriksa lebih dari tujuh saksi, termasuk keluarga Alvaro.

Tim khusus dibentuk, melibatkan personel Resmob Polsek Pesanggrahan, Polres Jakarta Selatan, hingga Polda Metro Jaya.

Pencarian meluas hingga luar Pulau Jawa, termasuk Sumatera dan Kalimantan, namun minimnya petunjuk menjadi kendala.

Ketiadaan rekaman CCTV di lokasi terakhir Alfaro terlihat menjadi masalah utama. Tugimin menjelaskan, “Kami sempat mengecek CCTV setempat, namun rekamannya sudah hilang karena sifatnya hanya satu hari tersimpan di GPR.”

Masjid Jami Almuflihun pun menjadi saksi bisu hilangnya Alfaro pada 6 Maret 2025.

Faktor Kelalaian dan Edukasi Orang Tua

Meski jarak masjid dari rumah Alfaro terbilang dekat, saat penculikan terjadi tidak ada yang menaruh curiga.

Fenomena penculikan anak yang marak membuat orang tua resah. Mereka menuntut polisi menindak tegas pelaku agar kasus serupa tidak terulang.

Guru Besar Kriminologi Universitas Indonesia, Adrianus Meliala, menekankan bahwa kelalaian orang tua atau keluarga dekat menjadi faktor utama anak berpotensi menjadi korban penculikan.

“Peran orang tua sangat penting, terutama edukasi dan perhatian khusus terhadap anak. Meskipun tidak selalu bisa mengawasi setiap saat, minimal ada perhatian dan komunikasi yang baik,” ujarnya.

Kasus Alfaro menjadi pengingat keras bagi masyarakat bahwa ancaman penculikan anak dapat terjadi di lingkungan yang dekat sekalipun.

Kejadian ini mendorong perlunya sistem keamanan lebih baik di fasilitas publik, seperti masjid dan tempat bermain anak, serta kesadaran orang tua dalam membimbing anak agar tetap waspada terhadap orang asing.

Baca Juga: Brigjen Hendra Kurniawan Tak Jadi Dipecat dan Hanya Demosi 8 Tahun, Putusan Etik Polri Bikin Publik Bertanya-Tanya Alasan di Baliknya

Respons Masyarakat dan Pihak Berwenang

Sejumlah warga sekitar mengaku terpukul dan prihatin atas kejadian ini. Mereka berharap aparat keamanan meningkatkan patroli dan pengawasan di area publik.

Polisi menegaskan akan terus menyelidiki kasus ini untuk memastikan pelaku dapat diproses sesuai hukum.

Kasus ini sekaligus memicu diskusi publik mengenai perlunya regulasi yang lebih ketat terkait pengawasan anak, terutama di tempat ibadah dan fasilitas umum.

Para ahli kriminologi menekankan bahwa kesadaran komunitas dan edukasi keluarga menjadi faktor pencegahan utama agar tragedi serupa tidak terulang.

Kematian Alvaro menjadi pengingat tragis bahwa keamanan anak tidak bisa diabaikan, meski lingkungan terlihat aman.

Kejadian ini menekankan urgensi peran semua pihak—keluarga, masyarakat, dan aparat hukum—untuk memastikan keselamatan anak di tengah maraknya kasus penculikan. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#masjid Jami Almuflihun #Alvaro Kiano Nugroho #Polres Jakarta Selatan #Kasus Anak Hilang #penculikan anak