Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Motif Dendam Terungkap! Fakta Baru di Balik Kasus Ayah Tiri Bunuh Alvaro yang Hilang 8 Bulan

Vidya Sajar Fitri • Selasa, 25 November 2025 | 18:15 WIB
Garis Kuning, Malam Sunyi. Investigasi berlanjut di Pesanggrahan.
Garis Kuning, Malam Sunyi. Investigasi berlanjut di Pesanggrahan.

RADAR TULUNGAGUNG - Kasus ayah tiri bunuh Alvaro kembali menjadi perhatian publik setelah polisi memastikan bahwa bocah enam tahun tersebut ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di dekat Jembatan Cilalai, Desa Singabraja, Tenjo, Kabupaten Bogor.

Alvaro, yang dilaporkan hilang sejak Maret 2025, akhirnya ditemukan delapan bulan kemudian dalam kondisi tak bernyawa.

Fakta terbaru yang diungkap polisi menunjukkan bahwa pelaku pembunuhan adalah ayah tirinya sendiri.

Kepolisian mengungkapkan bahwa motif di balik tindakan tragis tersebut berkaitan dengan persoalan rumah tangga.

Pelaku diduga menyimpan rasa dendam terhadap ibu kandung Alvaro, yang bekerja di luar negeri dan diduga menjalin hubungan dengan orang lain.

Dugaan perselingkuhan itu memicu kecemburuan dan ketegangan rumah tangga yang kemudian merembet ke tindakan kekerasan terhadap Alvaro.

Menurut penyelidikan, Alvaro awalnya diculik oleh ayah tirinya saat sedang berada di masjid dekat rumahnya di kawasan Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Sang ayah tiri membawa Alvaro keluar lingkungan rumah tanpa menimbulkan kecurigaan, mengingat hubungan keduanya selama ini tampak harmonis di mata keluarga.

Alvaro dikenal dekat dengan ayah tirinya dan sering diajak pergi membeli jajanan dan mainan.

Namun, setelah dibawa pergi, Alvaro menangis tanpa henti.

Polisi menduga kondisi emosional pelaku memuncak saat itu hingga ia membekap Alvaro.

Upaya membungkam tangisan itu berujung fatal karena Alvaro meninggal dalam penguasaan pelaku.

Sumber kepolisian menjelaskan bahwa jasad Alvaro sempat disimpan dalam garasi rumah pelaku selama tiga hari, sebelum akhirnya dibuang ke wilayah Tenjo.

Jenazah dibungkus menggunakan kantong plastik hitam dan diletakkan di area jembatan pada 9 Maret 2025.

Penemuan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan pemeriksaan saksi, penelusuran rekam komunikasi digital, dan pra-rekonstruksi kasus.

Keluarga Alvaro mengaku tidak mencurigai pelaku.

Kakek Alvaro, Tugimin, menuturkan bahwa sang ayah tiri bahkan ikut mengantar laporan kehilangan ke kantor polisi.

“Kelakuannya baik, sopan, dan terlihat sangat peduli. Dia juga ikut mencari cucu saya. Kami tidak pernah menyangka,” kata Tugimin.

Sikap pelaku selama delapan bulan pencarian membuat keluarga tidak mencurigainya sama sekali.

Kriminolog Universitas Indonesia, Adrianus Meliala, menilai kasus ayah tiri bunuh Alvaro menunjukkan kompleksitas kekerasan dalam keluarga.

Menurutnya, tindakan pelaku menunjukkan kombinasi tekanan emosional, kecemburuan, serta ketidakstabilan hubungan rumah tangga.

“Ada konflik internal yang memicu tindakan ekstrem. Ini contoh nyata bagaimana ancaman justru datang dari orang terdekat,” ujarnya.

Adrianus juga menyoroti bahwa kasus ini sempat menimbulkan kebingungan publik karena narasi awal berupa penculikan.

Namun setelah pelaku ditangkap, terungkap bahwa tindakan itu tidak terkait upaya pemerasan atau ekonomi, melainkan konflik keluarga.

“Narasi penculikan tidak lagi tepat. Ini murni kekerasan dalam rumah tangga,” jelasnya.

Polisi kemudian menetapkan sang ayah tiri sebagai tersangka.

Namun, perkembangan kasus menjadi lebih rumit ketika pelaku ditemukan meninggal di ruang konseling tahanan Polres Metro Jakarta Selatan beberapa hari setelah ditahan.

Meskipun demikian, polisi menyatakan bahwa rangkaian alat bukti sudah cukup untuk menetapkannya sebagai pelaku utama.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa kekerasan terhadap anak bisa terjadi di lingkungan paling dekat sekalipun.

Para pakar meminta orang tua, keluarga besar, dan lingkungan sekitar untuk lebih peka terhadap tanda-tanda ancaman terhadap anak.

Tragedi yang menimpa Alvaro menjadi peringatan bahwa perlindungan anak harus dimulai dari lingkup terkecil.

Hingga kini, keluarga Alvaro masih menunggu penjelasan resmi mengenai kematian tersangka di tahanan.

Mereka berharap kasus ini dituntaskan secara terang-benderang dan tidak menyisakan pertanyaan.***

 

 

Editor : Vidya Sajar Fitri
#Alvaro #penculikan anak #kasus Alvaro #ayah tiri