RADAR TULUNGAGUNG- Memasuki awal bulan, perhatian pelaku pasar tertuju pada arah IHSG Maret 2026. Dalam analisa terbarunya, IHSG disebut berpotensi melanjutkan koreksi jangka pendek bahkan membuka peluang turun lebih dalam jika tekanan global terus meningkat.
Kekhawatiran terhadap pergerakan IHSG muncul seiring memanasnya tensi geopolitik yang kembali bergejolak. Sentimen perang dan ketidakpastian global dinilai dapat memicu panic selling, terutama menjelang periode libur panjang yang rawan volatilitas.
Secara teknikal, posisi IHSG dinilai berada di area krusial. Level 8.130 disebut sebagai batas konfirmasi penting. Jika tembus, potensi koreksi lanjutan terbuka lebar dalam jangka pendek kurang dari satu bulan.
IHSG Berpotensi Uji 7.200 hingga 6.600
Penutupan terakhir dinilai cukup mengkhawatirkan karena semakin mendekati level konfirmasi breakdown. Dalam skenario teknikal, indeks masih berpotensi melanjutkan koreksi menuju area 7.900 sebagai uji level 0,3 Fibonacci.
Namun dalam jangka menengah, tekanan bisa berlanjut ke kisaran 7.200 hingga 6.600. Area tersebut menjadi target wave C dalam pola koreksi lanjutan wave 2 setelah reli panjang hingga level 9.000 sebelumnya.
Kondisi ini diperparah dengan risiko eksternal selama masa libur panjang. Jika terjadi gejolak global saat pasar domestik tutup, maka pembukaan pasca-libur berpotensi terjadi gap signifikan.
Baca Juga: Prediksi IHSG 2–6 Maret 2026 Rebound ke 8.392? Ini 3 Saham Potensi Naik: ERAA, TAPG, ASA
Strategi: 100 Persen Cash Bukan Karena Perang
Menariknya, strategi 100 persen cash yang diterapkan sebagian trader disebut bukan karena sentimen perang, melainkan murni mengikuti sistem teknikal.
Pendekatan berbasis sistem dinilai mampu meningkatkan posisi kas lebih awal sebelum market turun. Ketika sinyal teknikal melemah dan muncul banyak false signal, pengambilan posisi otomatis dikurangi.
Strategi ini bertujuan menjaga portofolio tetap adaptif terhadap kondisi pasar yang tidak mendukung.
Saham Minyak MEDC, Masih Menarik?
Di tengah isu perang dan potensi gangguan pasokan minyak global, saham energi seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) ikut menjadi sorotan.
Harga minyak dunia memang mulai naik sejak awal tahun. Namun secara siklus jangka menengah panjang, tren besar belum sepenuhnya berubah menjadi uptrend kuat.
Potensi upside harga minyak disebut berada di kisaran USD 70–77 per barel. Artinya, kenaikan masih terbatas dan belum cukup mengubah siklus fundamental secara signifikan.
Secara teknikal, MEDC baru saja breakout dan membentuk higher low di area support 1.615. Jika mampu bertahan di atas 1.745–1.750, peluang swing ke 1.875 hingga 2.050 terbuka.
Namun trader disarankan menggunakan stop loss ketat di bawah 1.700 untuk membatasi risiko sekitar 5–6 persen.
Saham Lain: DGNS, GZCO hingga MSTI
Untuk DGNS, harga dinilai sudah naik signifikan dan rawan koreksi. Area ideal buy on weakness berada di 304–290 dengan stop loss di 288 dan target 330.
GZCO yang sebelumnya sudah mencapai target profit kini berada di fase koreksi. Re-entry disarankan menunggu pengujian support 191. Jika breakdown, area 160 hingga 135 menjadi zona menarik berikutnya.
Sementara itu, untuk investasi jangka panjang, MSTI dinilai layak koleksi. Pertumbuhan tahunan dinilai solid dengan profitabilitas stabil di kisaran 9 persen.
Dividend yield sekitar 7 persen juga menjadi daya tarik tambahan, meskipun fokus utama tetap pada potensi pertumbuhan jangka panjang.
Secara valuasi, saham ini dianggap masih relatif rendah dibandingkan pertumbuhan kinerja yang ditunjukkan.
Waspadai Saham yang Sudah Terlalu Tinggi
Beberapa saham seperti TAPG dan TRIN disebut sudah berada di level tinggi dan rawan pola koreksi ABC. Untuk investor yang sudah memiliki posisi di harga atas, strategi proteksi menjadi prioritas.
Cut loss atau cut profit disiplin dinilai penting karena potensi upside mulai mengecil dibandingkan risiko downside.
Memasuki Maret 2026, volatilitas diperkirakan tetap tinggi. Investor disarankan lebih selektif, mengutamakan manajemen risiko, serta tidak berspekulasi hanya berdasarkan sentimen berita.
Fokus pada sistem dan disiplin teknikal dinilai menjadi kunci menghadapi ketidakpastian pasar saat ini.
Baca Juga: SPM Pendidikan Tulungagung 2025 Capai 98,77 Persen, Layanan PAUD hingga SMP Nyaris 100 Persen
Editor : Kirana Meigita Luciana Rani