JAKARTA - Sejarah Iran dan Syiah tak bisa dipisahkan dari dinamika politik, peperangan, dan perebutan pengaruh asing yang berlangsung ratusan tahun. Banyak orang mengenal Iran sebagai negara bermazhab Syiah. Namun, perjalanan panjang bagaimana Syiah menjadi identitas resmi negara Iran menyimpan kisah berdarah, intrik kekuasaan, hingga revolusi besar yang mengubah wajah Timur Tengah.
Dalam catatan sejarah Iran dan Syiah, jejak awalnya dapat ditelusuri ke abad ke-13. Tepatnya pada 1252, seorang ahli sufi bernama Safi al-Din di Ardabil, wilayah Azerbaijan, mendirikan tarekat Safawiyah. Kelompok tasawuf ini berhaluan Syiah Itsna Asyariah dan berkembang pesat di Persia serta Anatolia. Dari gerakan spiritual, Safawiyah berubah menjadi kekuatan politik-militer yang ambisius.
Perjalanan sejarah Iran dan Syiah memasuki babak penting ketika Ismail I memimpin pasukan Qizilbash menaklukkan Tabriz pada 1501. Ia mendeklarasikan berdirinya Dinasti Safawi dan menjadikan Syiah sebagai mazhab resmi negara. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Persia, Syiah menjadi dasar hukum dan birokrasi kerajaan.
Baca Juga: Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026, Fakta Menarik dan Cara Menyaksikannya Langsung di Indonesia
Dinasti Safawi dan Konflik Sunni-Syiah
Kebijakan Ismail I memicu ketegangan besar. Penerapan Syiah secara ketat membuat konflik dengan komunitas Sunni tak terhindarkan. Safawi bahkan terlibat perang besar melawan Kesultanan Utsmaniyah yang bermazhab Sunni. Pada 1514, Sultan Selim I mengalahkan Safawi dalam Pertempuran Chaldiran.
Meski mengalami kekalahan, Dinasti Safawi tak runtuh. Di bawah kepemimpinan Syah Abbas I, kerajaan justru mencapai masa keemasan. Ia melakukan reformasi militer, memperkuat ekonomi dengan kerja sama pedagang Armenia dan Inggris, serta mengembangkan industri karpet dan keramik yang menembus pasar Eropa hingga Tiongkok. Di era inilah fondasi kuat Syiah di Persia semakin kokoh.
Namun, setelah Syah Abbas wafat, kerajaan perlahan melemah. Pemberontakan internal dan tekanan eksternal membuat Dinasti Safawi runtuh. Kekuasaan Syiah dilanjutkan oleh dinasti lain seperti Afshariyah, Zand, hingga Qajar.
Perebutan Persia oleh Rusia dan Inggris
Memasuki abad ke-18 dan 19, Persia menjadi ajang perebutan dua kekuatan besar: Rusia dan Inggris. Perjanjian Turkmenchay pada 1828 membuat Persia kehilangan wilayah Armenia, Azerbaijan, dan Dagestan kepada Rusia. Inggris pun ikut campur demi melindungi kepentingannya di India.
Pada 1907, Inggris dan Rusia membagi wilayah Persia melalui Anglo-Russian Convention. Inggris menguasai selatan, Rusia di utara. Penemuan ladang minyak di Khuzestan semakin memperkuat cengkeraman asing melalui Anglo-Persian Oil Company. Sumber daya alam Persia praktis dikuasai kekuatan luar.
Kondisi ini memicu ketidakpuasan rakyat dan militer. Dinasti Qajar dinilai lemah dan tak mampu menjaga kedaulatan.
Munculnya Reza Pahlavi dan Iran Modern
Pada 1925, Reza Pahlavi menggulingkan Dinasti Qajar dan mendirikan Dinasti Pahlavi. Ia mengganti nama Persia menjadi Iran pada 21 Maret 1935. Modernisasi besar-besaran dilakukan: pembangunan infrastruktur, sistem pendidikan Barat, hingga pembatasan simbol-simbol keagamaan.
Pakaian tradisional Islam dilarang, pengadilan syariat dihapus, dan pengaruh ulama ditekan. Kebijakan sekularisasi ini membuat hubungan negara dan ulama Syiah memburuk.
Kedekatan Reza Pahlavi dengan Jerman Nazi memicu kekhawatiran Inggris dan Uni Soviet. Pada 1941, kedua negara menginvasi Iran dan memaksa Reza turun takhta. Putranya, Mohammad Reza Pahlavi, naik menjadi Syah namun dinilai lebih mudah dipengaruhi Barat.
Jalan Menuju Revolusi Islam
Di bawah Mohammad Reza Pahlavi, modernisasi dan gaya hidup Barat semakin dominan. Namun, ketimpangan sosial dan represi politik memicu gelombang ketidakpuasan. Para ulama Syiah kembali bergerak.
Salah satu tokoh penting adalah Ayatollah Ruhollah Khomeini. Ia menentang sekularisasi dan dominasi Barat, serta menyerukan Iran kembali pada prinsip Syiah. Gerakan yang dipimpinnya kelak memuncak dalam Revolusi Islam 1979, menggulingkan Dinasti Pahlavi dan mengubah Iran menjadi Republik Islam hingga hari ini.
Sejarah Iran dan Syiah menunjukkan bahwa identitas keagamaan negara tersebut lahir dari proses panjang, konflik, intervensi asing, hingga revolusi besar. Dari Dinasti Safawi hingga Revolusi Islam, perjalanan itu membentuk Iran modern yang kini dikenal sebagai pusat kekuatan Syiah dunia.
Editor : Divka Vance Yandriana