Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Tradisi Methik Pari di Tulungagung Tetap Lestari, Ritual Sakral Jelang Panen Sarat Makna Spiritual dan Filosofi

Rahiiq Al Bachri • Senin, 6 April 2026 | 14:59 WIB
Ritual Methik Pari, tradisi turun-temurun jelang panen padi yang masih terjaga di Desa Balerejo, Kecamatan Kauman, Tulungagung.
Ritual Methik Pari, tradisi turun-temurun jelang panen padi yang masih terjaga di Desa Balerejo, Kecamatan Kauman, Tulungagung.

RADAR TULUNGAGUNG – Tradisi turun-temurun jelang panen padi masih terjaga di Desa Balerejo, Kecamatan Kauman, Tulungagung.

Warga setempat mengenalnya sebagai ritual Methik Pari, sebuah prosesi sakral yang tidak sekadar memetik padi, tetapi sarat makna spiritual dan penghormatan terhadap alam.

Ritual ini hingga kini masih dijalankan oleh para petani sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen.

Selain itu, Methik Pari juga menjadi simbol harmonisasi hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta.

Baca Juga: Balon Udara Berisi Petasan Jatuh di Tulungagung, Meledak 3 Kali dan Rusak Rumah Warga di Besuki

Budayawan sekaligus sesepuh desa, Sunarko Budiman, menyebut tradisi tersebut sebagai warisan leluhur yang mengandung nilai etika tinggi.

Menurutnya, setiap tahapan dalam ritual memiliki aturan yang tidak boleh dilanggar.

“Ada beberapa aturan yang harus dipatuhi warga. Ini bukan sekadar tradisi, tapi bentuk penghormatan terhadap alam dan yang mbaureksa sawah,” ujarnya.

Salah satu aturan yang paling dijunjung tinggi adalah larangan “nyisani”.

Dalam praktiknya, warga yang mengikuti kenduri tidak diperbolehkan makan sebelum seluruh rangkaian prosesi di sawah selesai dilakukan. 

Baca Juga: Cuaca Ekstrem Diprediksi Melanda Jawa Timur hingga April 2026, BPBD Tulungagung Minta Warga Tingkatkan Kewaspadaan

“Kenduri harus setelah selesai di sawah. Tidak boleh makan duluan. Kalau itu dilakukan, namanya nyisani, seperti memberi sisa kepada yang mbaureksa. Itu jelas tidak boleh,” tegasnya.

Keunikan Methik Pari juga terlihat dari ragam penyebutan dan tata cara di tiap wilayah.

Di daerah Miri dan Puthukeras, ritual ini dikenal sebagai wiwitan dengan sajian khas ayam lodho potong serta jenang sengkolo. Sementara di wilayah Suwatu, tradisi serupa disebut Nembe.

Di Suwatu, prosesi memiliki kekhasan tersendiri. Ayam lodho disajikan utuh tanpa dipotong, lengkap dengan jenang putih, gula gimbal, serta sega wara sebagai bagian dari simbol penghormatan usai doa bersama.

Tak hanya itu, prosesi inti Methik Pari bahkan menyerupai rangkaian adat pernikahan. Sejumlah utusan desa berangkat ke sawah membawa payung dan rinjing yang dilapisi kain jarik cinde.

Baca Juga: Longsor Tutup Akses ke Candi Penampihan, BPBD Tulungagung Lakukan Pembukaan Jalan dan Pembersihan Material

Mereka secara simbolis “melamar” padi yang dimaknai sebagai pasangan pengantin, yakni Dewi Sri dan Jaka Sedana.

Setelah prosesi tersebut, padi dipetik menjadi dua ikatan dan dibawa pulang dengan penuh penghormatan. Setibanya di rumah, padi disimpan di sentong tengah rumah joglo selama 40 hari.

Selama masa itu, keluarga terus memanjatkan doa hingga tiba waktu “manten”, sebagai penanda bahwa seluruh rangkaian ritual telah selesai dan makanan boleh dinikmati bersama.

Meski demikian, Sunarko atau yang akrab disapa Sodrun itu menyayangkan adanya pergeseran dalam pelaksanaan tradisi.

Salah satu yang disoroti adalah penggunaan kotak kardus sebagai wadah makanan yang mulai menggantikan besek bambu.

Baca Juga: Meski Tertunda, Tradisi Lebaran Ketupat di Plosokandang Tulungagung Tetap Meriah, Warga Sajikan 50 Porsi dan Buka untuk Umum

Menurutnya, perubahan tersebut tidak hanya mengurangi nilai estetika, tetapi juga mengikis filosofi yang terkandung dalam tradisi.

“Sekarang mulai ada yang pakai kardus. Padahal dulu pakainya besek. Itu ada nilai filosofinya. Kalau diganti, ya maknanya ikut berkurang,” ungkapnya.

Dia berharap masyarakat tetap menjaga pakem tradisi agar nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Methik Pari tidak luntur oleh perkembangan zaman.

Terlebih, tradisi ini juga menjadi media edukasi bagi generasi muda untuk memahami pentingnya rasa syukur.

“Ini pengingat bagi generasi muda. Bahwa di balik sebutir nasi, ada proses panjang, ada doa, dan ada rasa syukur yang harus dijaga. Itu identitas desa yang tidak boleh hilang,” pungkasnya. (bac/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#methik pari #kauman #panen padi #ritual #tradisi tulungagung