NASIONAL - Sebagian masyarakat tentu mengenal siapa itu Soimah, artis berkarakter, yang sering nongol di acara televisi nasional.
Karakter Soimah ini unik, seringkali ia berhasil mengubah suasana lebih cair melalui intuisi jenakanya.
Tak cukup itu, Soimah pun kerap memukau penonton usai menampilkan bakat menyanyinya.
Soimah punya nada suara tinggi. Nada itu jarang dimiliki orang. Tak ayal, lagu yang jarang orang bisa, Soimah mampu menyanyikannya dengan sempurna.
Dibalik Soimah yang sekarang, ia mengaku dulu adalah anak pendiam.
Semasa kecil, Soimah punya ortu yang keras dalam mendidik anak. Didikan itu membuatnya merasa terkekang, meski ia tidak memberontak.
Tak jarang, Soimah kecil kadang menjadi anak bebal. Diminta belajar bilang iya tapi tidak belajar, diminta mengaji bilang iya tapi tidak mengaji.
“Dulu ama kakak-kakak itu usaha ikan asap. Sampai kini telapak tangan saya masih kapalan, gegara manggang ikan tiap hari,” ucapnya.
“Nganti tidak pernah belajar, tidak pernah mengaji. Pamitan mengaji, tapi saya main dulu. Saking kalau tidak bisa dolan, mohon maaf. Kerja terus tanpa ada waktu main. Tidak boleh main,” ujar Soimah kepada Gus Iqda dan para penonton.
Meski Soimah kecil kadang bebal, ia tidak pernah berani membantah atau menentang ortunya.
“Saya tidak pernah semaur dengan ortu saya, karena dulu saya pendiam. Sewaktu diundang di acara TV, rame (tidak pemalu, Red), itu kakak-kakak pada heran, siapa yang saya tiru,” ungkapnya.
Soimah tak memungkiri punya ortu keras dalam mendidik anak, namun mereka sering menyemangati dirinya.
Misal saat ortunya menonton acara menyanyi di TV, ortunya meyakini kalau Soimah sebenarnya bisa menyanyi.
Begitu pula saat ortunya menonton acara dagelan, ortunya yakin Soimah juga bisa melakukannya.
“Abah bilang, kamu juga bisa Im (panggilan ortu ke Soimah, Red). Kalau cuma lucu aja kamu bisa Im. Pokoknya, tiap kali Abah nonton TV, menyanyi, balapan, atau tinju, katanya saya bisa,” kata Soimah, membuat Gus Iqdam dan jamaah terpingkal-pingkal.
Kilas masa kecil itu membuat Soimah sadar bahwa masa lalu itu jangan dilupakan, meski berat atau menyedihkan.
Bagi Soimah, ingatan masa kecil itu justru menjadi kekuatan, dan ia bangga melewati proses seperti itu.
“Bagi saya, pengalaman kecil itu yang menanamkan kekuatan, sehingga hidup di Jakarta, atau dimana pun, saya tidak takut perang ibaratnya,” jelasnya.
Gus Iqdam menanggapi bahwa orang sabar pasti dimuliakan Allah SWT. Misal dulu kecil tidak menyangka bisa menjadi penyanyi, tapi kini jadi kenyataan.
“Mak e ini tirakatnya ya seperti tadi, tidak pernah menjawab atau berani ama orang tua. MasyaAllah dinaikkan derajatnya,” ujar Gus Iqdam kepada Soimah dan para jamaah.***
Editor : Henny Surya Akbar Purna Putra