Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Agam Rinjani: Minim Alat Evakuasi Gunung Rinjani, Relawan Rogoh Kocek Pribadi untuk Selamatkan Korban

Betty Khasandra Pujayanti • Jumat, 4 Juli 2025 | 22:00 WIB

 

Lewat podcast Denny Sumargo, Agam menceritakan sulitnya proses evakuasi di Gunung Rinjani akibat keterbatasan alat.
Lewat podcast Denny Sumargo, Agam menceritakan sulitnya proses evakuasi di Gunung Rinjani akibat keterbatasan alat.

JAKARTA-Minimnya alat evakuasi Gunung Rinjani membuat para relawan harus berinisiatif sendiri untuk mengevakuasi korban.

Mereka bahkan merogoh kocek pribadi dan meminjam tali serta perlengkapan panjat dari rekan lain untuk menaklukkakn Gunung Rinjani.

Kondisi ini terungkap dari pengalaman Agam Rinjani, relawan yang terlibat dalam evakuasi jenazah Juliana Marins, pendaki asal Brasil yang meninggal dunia di Gunung Rinjani beberapa waktu lalu.

Selama proses evakuasi Juliana Marins, Agam Rinjani mengaku, harus meminjam perlengkapan miliknya sendiri yang sebelumnya sudah dipinjam orang lain.

“Alatku sudah dipinjam, belum dikembalikan. Baru aku telepon, ‘Mana alat ini?’ Masih di Mataram,” ujarnya.

Selain perlengkapan pribadi, kebutuhan alat seperti tali, harness, dan bor harus dipenuhi secara swadaya oleh para relawan. Agam Rinjani bahkan meminjam bor dari rekannya dan menunggu hingga malam untuk membawanya ke puncak gunung.

 Baca Juga: Gunung Rinjani: Destinasi Favorit Pendaki di Indonesia

“Kami kemarin masih pinjam bor, tunggu sampai malam baru bisa bawa naik,” katanya.

Minimnya alat evakuasi di kawasan Gunung Rinjani menyulitkan proses penyelamatan. Medan curam dan jalur pendakian berbahaya menambah tantangan, terutama saat evakuasi di titik ekstrem.

Kasus seperti yang menimpa Juliana bukan insiden pertama di Gunung Rinjani. Agam Rinjani menegaskan, peralatan rescue yang memadai harus tersedia bukan hanya di basecamp atau posko utama, tetapi juga di pos-pos seperti Pelawangan.

Dengan demikian, evakuasi bisa lebih cepat dan efektif tanpa harus menunggu tim khusus membawa alat dari bawah.

“Minimal di pos Pelawangan harus ada alat rescue standby. Kalau ada kejadian, porter atau relawan bisa langsung bergerak,” tegasnya.

Selain itu, Agam Rinjani mengusulkan pelatihan rutin bagi porter dan relawan di Gunung Rinjani.

Pelatihan ini tidak hanya soal evakuasi, melainkan juga penggunaan alat keselamatan. Dengan begitu, porter yang berada di lokasi dapat segera melakukan penanganan awal saat terjadi insiden.

“Porter juga harus dilatih. Jadi kalau ada yang jatuh, mereka bisa cepat turun, bawa tali, tarik, selesai. Tidak perlu menunggu tim dari bawah lagi,” ujarnya.

Kecelakaan di Gunung Rinjani sering terjadi. Selain Juliana Marins, Agam Rinjani menyebut ada peristiwa lain, seperti jatuhnya pendaki asal Irlandia yang tergelincir ke jurang sedalam 38 meter. Beruntung korban selamat karena tersangkut batu.

“Dia jatuh gara-gara mau pungut kostum tangan yang terbang karena angin. Untung nyangkut di batu, kalau tidak dia bisa jatuh sampai 500 meter,” jelas Agam.

Evakuasi di Gunung Rinjani selama ini sangat bergantung pada keberanian dan inisiatif relawan.

Banyak biaya evakuasi yang dikeluarkan secara pribadi, mulai dari logistik, alat komunikasi, hingga perlengkapan pendukung lain.

“Banyak hal yang kami dorong ke atas pakai uang pribadi. Genset buat komunikasi, logistik, semua pakai uang hasil kerja kami,” katanya.

Menurut Agam, kondisi ini harus menjadi perhatian serius pemerintah dan pengelola Taman Nasional Gunung Rinjani.

Kesiapan alat rescue dan pelatihan sumber daya manusia wajib diprioritaskan agar insiden serupa tidak terus terulang.

Agam juga mengingatkan para pendaki untuk lebih bijak dan siap sebelum mendaki Gunung Rinjani. Penting bagi mereka untuk menyiapkan perlengkapan pribadi.

“Cari tahu kondisi gunung, siapkan tenaga dan perlengkapan, jangan asal gas. Bahaya kalau nekat,” pesannya.

Relawan berharap ke depan tidak ada lagi cerita soal harus meminjam alat demi menyelamatkan nyawa seseorang di gunung. (*)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#Pendaki asal irlandia #gunung rinjani #Relawan Gunung Rinjani #Pendaki Brasil #Juliana Marins #agam rinjani