Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Momen Bersejarah di Istana Merdeka: Presiden Prabowo Sambut Presiden Afrika Selatan, Kuatkan Diplomasi Global

Mohammad Dzakwan Wahyu Nur Fauzan • Kamis, 23 Oktober 2025 | 19:50 WIB

Presiden Prabowo Subianto bersama Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa meninggalkan ruangan usai menyampaikan keterangan kepada wartawan dalam kunjungan kenegaraan di Istana Merdeka, Jakarta.
Presiden Prabowo Subianto bersama Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa meninggalkan ruangan usai menyampaikan keterangan kepada wartawan dalam kunjungan kenegaraan di Istana Merdeka, Jakarta.

RADAR TULUNGAGUNG – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menerima kunjungan kenegaraan yang sangat penting dari Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, di Istana Merdeka, Jakarta, pada Rabu (22/10/2025).

Kunjungan ini, yang disambut dengan upacara megah, menegaskan kembali kedekatan historis dan komitmen masa depan antara kedua negara berkembang.

Dalam suasana yang hangat dan penuh keakraban, Presiden Prabowo dan Presiden Ramaphosa membahas sejumlah isu strategis yang bertujuan untuk memperkuat hubungan bilateral, mulai dari kerja sama ekonomi hingga kolaborasi di bidang pertahanan dan keamanan.

Kunjungan kenegaraan ini, yang diawali dengan sambutan resmi di mana Presiden Prabowo Subianto memeriksa pasukan bersama tamunya, menjadi simbol persahabatan yang kuat antara Indonesia dan Afrika Selatan.

Presiden Ramaphosa sendiri menyatakan sangat tersanjung dengan penerimaan yang megah tersebut.

Baca Juga: Delapan Perhiasan Curian dari Museum Louvre di Paris Sulit Dijual Utuh, Museum Vatikan Degdegan

Ia menekankan bahwa penyambutan ini tidak akan dianggap enteng, melainkan dilihat sebagai bukti kedekatan erat antara Jakarta dan Pretoria.

Pertemuan puncak ini menggarisbawahi upaya bersama kedua presiden dalam mendorong perdamaian dan kemakmuran, serta memperkuat diplomasi Selatan-Selatan.

Dalam sambutannya, Presiden Prabowo tidak hanya menyampaikan apresiasi atas kunjungan Ramaphosa tetapi juga menegaskan kembali komitmen Indonesia untuk memperkuat hubungan dengan seluruh negara di kawasan Afrika.

Lebih lanjut, Prabowo menyatakan kekagumannya terhadap perjuangan rakyat Afrika Selatan dalam meraih kebebasan dan demokrasi, bahkan menyebut Ramaphosa sebagai sosok presiden dan pemimpin besar di Benua Afrika.

Indonesia memandang Afrika Selatan sebagai mitra strategis utama di kawasan tersebut, dan Presiden Prabowo secara optimistis melihat Afrika berpotensi menjadi kekuatan ekonomi baru dunia di masa depan.

Baca Juga: Perhiasan Bersejarah dari Abad ke 19 di Musée du Louvre di Paris Prancis Hilang Dicuri dalam 7 Menit, Begini Kronologinya

Isu-isu yang dibahas oleh kedua pemimpin mencakup spektrum yang luas, bertujuan untuk menghasilkan kolaborasi nyata. Kedua presiden sepakat untuk meningkatkan kerja sama di berbagai bidang, termasuk investasi, perdagangan, serta kolaborasi di bidang pertahanan dan keamanan.

Ramaphosa, di sisi lain, menyoroti pentingnya peningkatan kerja sama antara kedua negara berkembang dalam menghadapi berbagai tantangan global. Tantangan tersebut termasuk isu energi, teknologi, dan ketahanan pangan.

Sebagai tindak lanjut konkret dari pertemuan ini, Presiden Prabowo mengumumkan bahwa Indonesia akan segera mengirimkan tim teknis ke Afrika Selatan.

Tim ini bertugas untuk mempelajari dan membahas program-program di area utama yang potensinya dapat dipercepat untuk kerja sama yang lebih erat.

Baca Juga: Industri Baja Nasional Butuh Modal untuk Bersaing dengan China, Direktur Utama PT Krakatau Steel Ungkap Alasannya

Dalam pertemuan tersebut, Presiden Ramaphosa memberikan pujian yang mendalam atas peran historis Indonesia.

Ia secara khusus menyampaikan selamat ulang tahun ke-70 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) yang diadakan di Bandung pada tahun 1950. Presiden Afrika Selatan melihat konferensi bersejarah tersebut sebagai inspirasi dan sumber dorongan bagi perjuangan kemerdekaan negara-negara di Afrika.

Ramaphosa menambahkan bahwa selama bertahun-tahun, Afrika Selatan selalu merasakan hubungan yang erat dari Indonesia.

Ia memuji bahwa Indonesia secara konsisten telah mendukung perjuangan rakyat Afrika Selatan melawan apartheid. Ia menyatakan, "Kami menantikan kerja sama erat dengan Indonesia".

Baca Juga: AMSI Gelar Indonesia Digital Conference (IDC) 2025, Mengangkat Tema Besar Sovereign AI: Menuju Kemandirian Digital

Kunjungan Presiden Cyril Ramaphosa ke Jakarta juga menarik perhatian pada sosoknya yang merupakan figur kunci dalam sejarah modern Afrika Selatan.

Presiden Ramaphosa, yang menjabat sejak 2018, memiliki perjalanan hidup yang kaya, mulai dari aktivis serikat pekerja, negosiator penting dalam transisi apartheid, hingga menjadi seorang pengusaha sukses.

Lahir pada 17 November 1952 di Johannesburg, Ramaphosa dibesarkan di kawasan Soweto, di bawah rezim apartheid, yang menumbuhkan akar kuatnya dalam perjuangan politik.

Saat menempuh pendidikan tinggi di University of the North (sekarang University of Limpopo) mulai tahun 1972, ia aktif dalam gerakan aktivisme politik dan sempat ditahan beberapa kali.

Misalnya, pada tahun 1974, ia ditahan karena mengorganisir demonstrasi mendukung kemerdekaan Mozambique.

Setelah lulus dengan gelar B.Proc dari University of South Africa (UNISA) pada tahun 1981, Ramaphosa memasuki dunia gerakan buruh.

Ia menjadi penasihat hukum dan kemudian menjabat sebagai Sekretaris Jenderal National Union of Mineworkers (NUM) pada tahun 1982.

Di bawah kepemimpinannya, NUM melancarkan salah satu mogok terbesar dalam sejarah industri pertambangan Afrika Selatan pada tahun 1987.

Baca Juga: Respons Tegas China Soal Restrukturisasi Utang Whoosh: Bukan Hanya Untung Finansial, Fokus Manfaat Sosial dan Ekonomi

Melalui peran ini, Ramaphosa mengasah kemampuan negosiasi dan membangun jaringan politik yang luas, yang kemudian menempatkannya sebagai salah satu pendiri Congress of South African Trade Unions (COSATU) pada 1985.

Peran penting Ramaphosa berlanjut dalam transisi demokrasi Afrika Selatan. Pada Juli 1991, ia terpilih sebagai Sekretaris Jenderal African National Congress (ANC) dan memimpin delegasi ANC dalam pembicaraan multipihak dengan pemerintah nasionalis untuk mengakhiri rezim apartheid.

Sebagai Presiden saat ini, Ramaphosa mencoba mewujudkan visinya untuk "Afrika Selatan bagi semua" di tengah tantangan berat seperti kesenjangan sosial yang parah, ekonomi yang tertekan, dan dinamika politik yang cepat berubah.

Kunjungan ke Jakarta ini menunjukkan Ramaphosa juga aktif dalam diplomasi global untuk memperkuat hubungan dengan kawasan Asia-Pasifik.

Secara keseluruhan, pertemuan antara Presiden Prabowo dan Presiden Ramaphosa tidak hanya memperkuat kerja sama bilateral dalam menghadapi tantangan kontemporer tetapi juga merayakan ikatan historis yang terjalin sejak masa perjuangan kemerdekaan dan perlawanan terhadap diskriminasi rasial.

Indonesia dan Afrika Selatan berkomitmen untuk terus berkolaborasi, memperkuat posisi mereka sebagai pemimpin negara berkembang di panggung dunia. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#Cyril Ramaphosa #Diplomasi Global #presiden afrika selatan