Radar Tulungagung - Komunitas pecinta vespa di Tulungagung kian bertambah seiring berjalannya waktu. Di Tulungagung sendiri, vespa klasik masih menjadi primadona bagi penggemar vespa.
Selain memiliki siluet yang khas, vespa klasik juga punya nilai investasi yang begitu tinggi. Tak ayal vespa klasik sangat digemari oleh pecinta vespa di Tulungagung.
Vespa klasik seperti Vespa Super maupun Vespa 50 Special menjadi salah satu jenis vespa klasik yang populer di Tulungagung.
Selain desain yang ikonik dengan sentuhan retro, vespa klasik jenis Vespa Super maupun Vespa 50 Special juga memiliki nilai historis sehingga menjadi pilihan tepat bagi pecinta vespa.
Memang vespa dengan tahun produksi antara tahun 1965 hingga 1979 kerap menjadi incaran kolektor maupun pecinta restorasi.
Bahkan vespa dengan tahun produksi tersebut, memiliki nilai tawar yang cukup tinggi di Tulungagung dan dapat menjadi salah satu investasi pada masa mendatang.
Tak hanya vespa klasik, vespa matic masih terbilang populer di Tulungagung. Vespa matic jenis Sprint dan Primavera menjadi vespa matic yang paling populer di Tulungagung.
Kedua jenis vespa matic ini memiliki model yang cocok bagi pecinta vespa yang menginginkan kombinasi desain retro dan performa mesin.
Seperti halnya Vespa Sprint yang memiliki desain retro sporty dan memiliki performa yang tinggi sehingga Vespa Sprint menjadi vespa matic terlaris di Tulungagung.
Berkendara menggunakan vespa di Tulungagung memang terdapat beberapa kelebihan tersendiri bagi pecinta vespa.
Arus jalan yang tidak begitu padat, membuat pengendara vespa di Tulungagung dapat berkendara dengan pemandangan yang indah di Kota Marmer.
Tak hanya itu, menggunakan vespa di Tulungagung memang cocok untuk medan jalanan perkotaan maupun pedesaan.
Bergaya klasik dan unik, tentunya membuat pengendara vespa menjadi sorotan mata ketika mengaspal di Tulungagung.
Selain itu, juga terdapat komunitas vespa yang paling solid di Tulungagung sehingga pecinta vespa di Tulungagung dapat berkumpul dengan sesama pecinta vespa lainnya.
Editor : Matlaul Ngainul Aziz