JAKARTA - Bus Periangan Timur selalu memunculkan romantisme setiap kali kisahnya dibicarakan. Ia hadir lewat ingatan tentang jalan berliku, tanjakan panjang, mesin yang meraung, hingga para pengusaha angkutan yang bertaruh segalanya demi sebuah perjalanan. Dari Banjar, Ciamis hingga Tasikmalaya, bus bukan sekadar alat angkut, melainkan penanda zaman sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.
Di masa kejayaannya, Bus Periangan Timur menjadi simbol ketangguhan orang-orang Priangan. Wilayah yang meliputi Banjar, Ciamis, dan Tasikmalaya dikenal sebagai “lumbung” pengusaha bus tangguh, jauh sebelum nama besar seperti Budiman mendominasi jalur selatan. Bus-bus asal koridor ini bahkan lebih dulu menghubungkan Banjar–Tasikmalaya–Bandung hingga Jakarta, mayoritas melalui jalur Puncak yang curam dan dingin.
Namun, cerita Bus Periangan Timur juga menyimpan sisi getir. Dari puluhan perusahaan otobus (PO) yang pernah meramaikan jalur ini, banyak yang kini mati, sekarat, atau hanya tinggal kenangan.
Baca Juga: Bansos Beras Januari 2026 Segera Cair, Ini Syarat Lengkap KPM PKH dan BPNT serta Cara Pengambilannya
Era 1950-an: Bus Jalur Pendek dan Jalanan yang “Menghukum”
Pada era 1950-an, bus di Periangan Timur didominasi trayek pendek antar wilayah, terutama di Ciamis dan Banjar. Rute yang dilayani umumnya menghubungkan pasar, pusat kecamatan, dan kota kabupaten. Sementara perjalanan jauh seperti Banjar–Jakarta masih banyak mengandalkan kereta api.
Kondisi jalan kala itu juga belum bersahabat. Aspal belum rata, tikungan tajam dan tanjakan curam menjadi “menu” harian. Kendaraan yang digunakan pun masih sederhana, namun menjadi tumpuan mobilitas rakyat. Beberapa bus legendaris yang disebut antara lain Bus Gunung Tua yang menembus Tasik–Ciamis–Banjar–Pangandaran, serta Bus Panah Ace yang melayani Banjar–Rancah lewat jalur pedalaman.
Perjalanan bisa memakan waktu lebih dari sehari penuh. Bus pada masa itu benar-benar “bus rakyat”: penuh sesak, lambat, tetapi menjadi satu-satunya harapan.
PO Simpati, Pelopor Banjar–Jakarta via Puncak
Salah satu nama penting dalam sejarah jalur ini adalah POB Simpati. Disebutkan, sekitar dekade 1955–1958, Simpati merintis trayek Banjar–Bandung–Jakarta pulang-pergi via Puncak. Kala itu, perusahaan lain umumnya baru berani sampai Bandung.
Sayangnya, pada rentang 1975–1980-an, POB Simpati disebut menghilang dan tidak lagi terlihat meramaikan trayek Banjar–Jakarta. Meski begitu, kiprahnya dikenang sebagai pembuka jalan bagi bus-bus jarak jauh dari Periangan Timur.
Budidarma: Raksasa Ciamis yang Pernah Mendekati 1.000 Armada
Kisah besar lain datang dari Budidarma. Perusahaan ini berawal dari Haji Otong Idi yang pada dekade 1950-an mulai mengangkut penumpang dari Ciamis ke Bandung. Awalnya hanya beberapa unit kendaraan, namun usahanya tumbuh pesat.
Memasuki awal 1960-an, ia beralih ke bus dan menamai perusahaannya Budidarma. Dalam beberapa dekade, bus-bus Budidarma menjamur hingga jumlahnya mencapai ratusan unit, bahkan disebut pernah mendekati 1.000 armada. Trayeknya meluas dan menjadikan Ciamis sebagai salah satu pusat kekuatan bus di Jawa Barat.
Namun, akhir Budidarma disebut menyedihkan. Di penghujung era 1980-an, perusahaan ini diakuisisi oleh Merdeka. Minimnya dokumentasi membuat kisahnya kini makin sulit ditelusuri, termasuk foto-foto armada yang langka.
PO Merdeka, Harum, Aladin, Batara hingga Busuka: Nama-nama yang Pernah Berjaya
Selain Budidarma, ada banyak PO lain yang ikut membentuk era keemasan Periangan Timur. Di antaranya Sinar Galih, Selekta, Subur, Aman Abadi, hingga PPAP dan Satria Kinayungan yang mengisi trayek-trayek panjang dengan ketahanan sebagai kunci utama.
PO Aladin disebut sebagai salah satu PO senior Ciamis yang eksis sejak pertengahan 1960-an, didirikan Haji Aceng Kendar. Aladin pernah punya trayek Banjar–Jakarta, bahkan merambah Solo–Jogja–Ciamis hingga Ciamis–Semarang. Namun sejak 2011, armada big bus-nya berangsur diganti medium bus, menyisakan rute terbatas.
Merdeka Grup sendiri menjadi raksasa lain dari Ciamis, berdiri oleh Haji Idris Suherman. Pada era 1980-an hingga akhir 1990-an, Merdeka membawahi banyak brand, termasuk Bahagia Utama yang dikenal dengan “Gold Class” sebagai lambang kemewahan jalur selatan.
Ada pula PO Harum yang bermula dari empat unit oplet pada 1953, lalu berkembang melayani trayek hingga Jawa Tengah, Jawa Timur, bahkan Palembang. Sementara PO Batara pernah fenomenal dengan fasilitas audio, televisi, hingga pintu otomatis, namun disebut tamat selepas 2003.
Kerajaan Bus Jalur Selatan Runtuh Perlahan
Krisis ekonomi 1998 menjadi pukulan awal. Biaya operasional naik, daya beli turun. Namun pukulan terbesar datang bertahap: motor dan mobil pribadi menjamur, jalan tol dibangun, serta travel minibus door to door makin diminati.
Banyak PO kecil tak sanggup beradaptasi. Armada menua, perawatan mahal, penumpang berkurang. Memasuki 2000–2010-an, runtuhnya PO Periangan Timur semakin nyata. Kini hanya segelintir yang bertahan, sementara Budiman dan Prima Jasa menjadi simbol ketahanan karena mampu bertransformasi lewat modernisasi dan manajemen lebih profesional.
Editor : Natasha Eka Safrina