Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Daftar Raja-raja Kasunanan Surakarta yang Dimakamkan di Astana Pajimatan Imogiri, Terbagi dalam Tiga Kedaton di Sisi Barat

Dharaka R. Perdana • Senin, 3 November 2025 | 19:20 WIB

Makam Raja-raja Mataram di Imogiri, Bantul yang bersiap untuk proses pemakaman Sinuhun Pakubuwono XIII. (FACEBOOK FILOSOFI JAWA)
Makam Raja-raja Mataram di Imogiri, Bantul yang bersiap untuk proses pemakaman Sinuhun Pakubuwono XIII. (FACEBOOK FILOSOFI JAWA)

RADAR TULUNGAGUNG - Sinuhun Pakubuwono XIII yang wafat pada Minggu (2/11/2025) akan dimakamkan di kompleks Makam Raja-raja Mataram di Imogiri, Bantul, Yogyakarta pada Rabu (5/11/2025) lusa.

Kompleks ini bukan sekadar makam, melainkan simbol kebesaran, spiritualitas, dan kesinambungan tradisi kerajaan Jawa.

Di sanalah para raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat dimakamkan, terbagi dalam tiga astana (kompleks makam) utama.

Baca Juga: Sinuhun Pakubuwono XIII akan Dimakamkan di Makam Raja-raja Mataram di Imogiri, Berdampingan dengan Makam Pakubuwono XII

Astana Kaswargan Surakarta

Kompleks tertua bagi raja-raja Surakarta ini menjadi tempat persemayaman para penguasa awal yang menegakkan kejayaan Mataram pasca pembagian kerajaan pada abad ke-18.
Di Astana Kaswargan Surakarta, bersemayam tiga raja besar:

 

1. Sri Susuhunan Pakubuwana III, raja pertama Kasunanan Surakarta yang memindahkan pusat kerajaan dari Kartasura ke Surakarta pada 1745.

 

2. Sri Susuhunan Pakubuwana IV, dikenal sebagai raja yang mencintai kesusastraan dan memperkuat nilai-nilai keagamaan Islam dalam lingkungan keraton.

Baca Juga: Rekonsiliasi Damai pada 2012 Resmi Mengakhiri Fenomena Raja Kembar, KGPH Tejowulan Menjadi Mahamenteri Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat

 

3. Sri Susuhunan Pakubuwana V, yang memerintah pada masa sulit ketika pengaruh kolonial semakin menekan kekuasaan istana.

Ketiganya menjadi fondasi utama berdirinya Kasunanan Surakarta sebagai penerus sah Dinasti Mataram Islam.

Astana Kapingsangan Surakarta

Naik sedikit ke puncak bukit, berdiri Astana Kapingsangan, tempat dimakamkannya empat penerus tahta berikutnya:

 

1. Sri Susuhunan Pakubuwana VI, dikenal karena keberaniannya menentang dominasi Belanda hingga akhirnya dibuang ke Ambon.

 

2. Sri Susuhunan Pakubuwana VII, yang berperan menjaga stabilitas politik keraton setelah masa gejolak.

 

3. Sri Susuhunan Pakubuwana VIII, yang hanya memerintah singkat, namun tetap dihormati sebagai penjaga kesinambungan dinasti.

Baca Juga: Keluarga Besar Wangsa Mataram Berduka, Keraton Yogyakarta dan Pura Mangkunegaran Sampaikan Belasungkawa atas Wafatnya Pakubuwono XIII

 

4. Sri Susuhunan Pakubuwana IX, yang memerintah di masa transisi sosial dan budaya menjelang akhir abad ke-19.

Astana Kapingsangan menjadi saksi pergulatan raja-raja Surakarta antara mempertahankan tradisi leluhur dan menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

Astana Girimulya Surakarta

Kompleks termuda ini berada di bagian atas bukit Imogiri dan menjadi tempat dimakamkannya tiga raja terakhir Kasunanan Surakarta:

Baca Juga: Prakiraan Rute Prosesi Pemakaman Pakubuwono XIII, Dimulai dari Keraton Menuju Loji Gandrung Sebelum ke Imogiri Yogyakarta

 

1. Sri Susuhunan Pakubuwana X, raja legendaris yang dikenal visioner dan dekat dengan rakyat, bahkan hingga kini dianggap sebagai simbol kemakmuran dan kebijaksanaan.

2. Sri Susuhunan Pakubuwana XI, yang berkuasa di masa pendudukan Jepang dan masa awal kemerdekaan Indonesia.

 

3. Sri Susuhunan Pakubuwana XII, raja yang memerintah di masa modern dan menjadi jembatan antara tradisi kerajaan dengan era Republik Indonesia.

Astana Girimulya menjadi puncak perjalanan spiritual para raja Surakarta—tempat di mana nilai-nilai kemuliaan, kesetiaan, dan kebangsawanan berpadu dalam keheningan abadi.

Jejak yang Terus Hidup

Hingga kini, Makam Raja-Raja Imogiri masih ramai dikunjungi para peziarah dari berbagai daerah.

Setiap tanggal-tanggal penting, terutama bulan Suro dan peringatan jumenengan (kenaikan takhta), kawasan ini menjadi pusat ziarah budaya dan spiritual bagi masyarakat Jawa.

Bagi Kasunanan Surakarta, Imogiri bukan hanya tempat bersemayamnya para leluhur, tetapi juga lambang legitimasi dan kesinambungan kekuasaan.

Dari Kaswargan hingga Girimulya, setiap astana menjadi cermin perjalanan panjang para raja dalam menjaga martabat Mataram dan kebudayaan Jawa yang luhur. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#makam raja raja mataram #Pakubuwono XIII #imogiri